
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Kenaikan harga nikel ke level tertinggi dalam 15 bulan terakhir menjadi angin segar bagi emiten tambang di Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama perusahaan pelat merah ANTM dan INCO.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menuturkan bahwa penguatan harga nikel saat ini didorong oleh disiplin Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di Indonesia serta normalisasi persediaan global.
Kendati volatilitas jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh dinamika kebijakan, dasar penguatan harga kini memiliki landasan yang lebih kuat.
“Kenaikan harga nikel saat ini sebagian bersifat struktural karena dorongan kebijakan pasokan Indonesia, disiplin RKAB, dan normalisasi persediaan global,” ujar Liza saat dihubungi Bisnis pada Rabu (7/1/2026).
: Reli Harga Logam Injak Rem, Harga Nikel Koreksi Tipis
Dalam menghadapi tren kenaikan harga tersebut, Liza menyampaikan bahwa emiten yang paling diuntungkan adalah mereka yang memiliki struktur biaya rendah, perizinan yang jelas, serta fleksibilitas produk.
Menurutnya, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) cukup diunggulkan. ANTM memiliki keunggulan karena memiliki integrasi hulu ke hilir, basis biaya relatif kompetitif dan eksposur ekspor.
“INCO juga positif karena memiliki kualitas bijih, efisiensi operasional, serta disiplin dalam belanja modal [capital expenditure/capex],” pungkas Liza.
Pada perdagangan hari ini, saham ANTM meraih pertumbuhan sebesar 11,59% menuju level Rp3.850. INCO juga ditutup menguat sebesar 12,44% ke Rp6.325.
Aneka Tambang Tbk. – TradingView
Di sisi lain, kebijakan pengetatan RKAB dan pengawasan operasional yang lebih ketat di Indonesia membuka peluang realisasi pengurangan produksi hingga 34% secara bertahap pada 2026. Jika permintaan dari sektor baja tahan karat dan kendaraan listrik tetap stabil, pasar global berpotensi mengalami defisit tipis.
Meski harga nikel menunjukkan tren positif, investor diingatkan tetap selektif. Emiten dengan biaya operasional tinggi atau yang memiliki ketergantungan pada izin yang belum stabil berisiko tertinggal dalam reli harga kali ini.
“Secara keseluruhan, tema investasi nikel pada 2026 lebih kepada selektivitas emiten, bukan sekadar melihat pergerakan harga nikel semata,” ucap Liza.
Vale Indonesia Tbk. – TradingView
Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, harga nikel terkoreksi dari level tertinggi dalam 19 bulan setelah reli logam dasar masuk masa jeda.
Berdasarkan data Bloomberg, harga nikel kontrak berjangka tiga bulan tercatat mengalami koreksi sebesar 0,8% menjadi US$18.370 per ton di London Metal Exchange pukul 13.55 waktu Shanghai, Rabu (7/1/2026).
Sebelumnya, harga nikel sempat menanjak 10,5% mendekati US$18.800 per ton pada Selasa (6/1/2026). Koreksi harga nikel kali ini disebut merupakan aksi ambil untung setelah lonjakan sebelumnya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.