
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Saham bank berkapitalisasi besar alias big banks kompak mengalami penguatan dalam perdagangan sepekan terakhir. Penguatan terjadi karena beberapa faktor, mulai dari rilis kinerja yang baik hingga dukungan penempatan dana pemerintah.
Secara rinci, harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami kenaikan paling tinggi sepekan ini. Disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan kemudian PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Harga BBRI saat ini berada di level Rp 3.260 atau naik sampai 9,03% dalam sepekan. Kenaikan harga BBRI juga sejalan dengan aksi beli bersih alias net buy dari investor asing sebesar Rp 776,24 miliar.
Strategi Adira Finance Menjaga Kualitas Penyaluran Pembiayaan
Harga BBCA saat ini tercatat di Rp 6.175 atau naik 5,56% sepekan. Meski harganya naik, BBCA dalam sepekan ini justru mengalami jual bersih alias net sell dari investor asing sebesar Rp 500,44 miliar.
Tak jauh berbeda, harga BMRI saat ini ada di Rp 4.630 atau naik 5,47% sepekan. BMRI mengalami net sell sebesar Rp 1,60 triliun.
Sedangkan, harga BBNI saat ini ada di Rp 3.860 atau naik 3,76% sepekan. BBNI berhasil memperoleh net buy sebesar Rp 69,28 miliar.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata menilai, pergerakan saham big banks dalam sepekan terakhir sangat dipengaruhi oleh rilis kinerja mereka untuk kuartal 1-2026.
Sekadar mengingatkan, keempat big banks telah mengeluarkan laporan kinerja untuk kuartal 1-2026 dengan keempatnya mencatat pertumbuhan kinerja positif. Liza menyebut kinerja dari big banks negara, yaitu BBRI, BMRI, dan BBNI terlihat lebih agresif dari BBCA.
Liza menilai kinerja big banks pemerintah bisa lebih kencang karena penyaluran kreditnya lebih agresif. Ini karena mereka didorong untuk menyalurkan kredit ke program strategis pemerintah.
Selain itu, pemerintah juga membantu likuiditas mereka dengan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 200 triliun yang berdampak positif pada penurunan biaya dana.
Dari sisi valuasi, Liza menyebut BBNI saat ini terlihat paling murah di antara kelompok big banks. Sedangkan, BMRI masih menjadi pilihan paling seimbang antara valuasi, kualitas aset, dan kestabilan pendapatan.
BBRI juga semakin menarik untuk dilirik karena pertumbuhan kredit UMKM yang kembali bangkit di industri. Jika tren pemulihan kredit ini terus berlanjut dan tekanan pencadangan mereda, Liza menilai BBRI cocok untuk diakumulasi jangka panjang.
Sedangkan, Liza menyebut BBCA masih menjadi patokan untuk pertumbuhan big banks. BBCA memiliki profil paling defensif dengan dana murah (CASA) yang banyak, sehingga fundamental perusahaan ke depannya dapat terjaga aman.
“Secara keseluruhan, Kiwoom Research saat ini masih overweight pada BMRI dan BBNI karena kombinasi valuasi yang murah, dividen yield menarik, dan momentum earnings yang masih konsisten,” kata Liza kepada Kontan, Sabtu (9/5/2026).
Pembiayaan Macet Fintech Lending Didominasi Usia 19-34 Tahun per Maret 2026