
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Tren rekor penutupan tertinggi indeks harga saham gabungan (IHSG) sejak awal tahun terhenti pada perdagangan hari ini, Kamis (8/1/2026). Saham komoditas emas dan nikel dihantam aksi profit taking, namun saham konglomerasi mengambil momentum saat pasar melandai.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan dalam kondisi saat ini sektor komoditas menjadi kandidat utama aksi profit taking, terutama saham yang telah mencatatkan reli agresif dan mulai menunjukkan sinyal jenuh beli.
“Per 8 Januari 2026, saham-saham dengan korelasi kuat terhadap emas dan nikel seperti ANTM, PSAB, ARCI, dan MBMA terpantau mulai mengalami aksi ambil untung. Sebaliknya, peluang justru terbuka pada saham-saham berfundamental kuat yang belum mengalami kenaikan signifikan, khususnya emiten konglomerasi dan saham likuid berkapitalisasi besar yang cenderung menjadi safe haven saat volatilitas meningkat,” kata Abida kepada Bisnis, Kamis (8/1/2026).
: IHSG Ditutup Koreksi 0,22% Usai Tembus 9.000, Big Caps DSSA hingga UNVR Tetap Melaju
Selain itu, Abida menilai saham dengan katalis korporasi spesifik masih berpotensi mencuri perhatian pasar meski indeks bergerak terbatas.
Pada penutupan hari ini, IHSG terkoreksi 0,22% ke 8.925,47. Sejalan dengan indeks yang melemah, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) merosot 9,35% ke Rp3.490, saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) turun 4,92% ke Rp580, saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) turun 3,85% ke Rp1.625, dan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) turun 5,97% ke Rp630.
Di sisi lain, sejumlah saham konglomerasi terpantau masih menguat. Misalnya, saham afiliasi Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menguat 1,23% ke Rp1.640, dan saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik 1,77% ke Rp460. Sementara itu, saham afiliasi Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) menguat 4,07% ke Rp7.675. Kemudian, saham afiliasi Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk. (PTRO) naik 3,37% ke Rp12.275.
Adapun, IHSG yang berulang kali mencatat rekor penutupan tertinggi baru di awal 2026 ini terdorong sentimen January Effect. Di tengah eskalasi geopolitik global yang meningkatkan sikap risk-off investor, Abida menilai dampak January Effect saat ini mulai memasuki fase selektif. Meski hari ini melemah, IHSG secara year to date (YtD) menguat 3,22%.
“Penguatan ini ditopang oleh saham komoditas yang masih atraktif di tengah ketegangan global, likuiditas asing yang mulai kembali masuk, serta saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar yang menjaga stabilitas indeks. Artinya, pasar belum sepenuhnya risk-off, tetapi mulai melakukan rotasi dari euforia ke pendekatan yang lebih defensif dan selektif,” imbuh Abida.
Abida menjelaskan, dalam jangka pendek sentimen geopolitik yang memanas justru berpotensi menjaga harga komoditas tetap elevated, sehingga menjadi penopang utama IHSG. Selama harga komoditas bertahan di level tinggi, tekanan koreksi diperkirakan masih bersifat terbatas. Selain itu, aksi korporasi seperti right issue, restrukturisasi permodalan, dan langkah strategis perusahaan berpotensi menjadi katalis mikro yang mendorong pergerakan saham secara selektif.
“Kombinasi antara stabilnya harga komoditas, masuknya kembali likuiditas asing, dan katalis korporasi berpeluang menjadi second wind IHSG di tengah momentum pasar yang mulai melambat,” tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.