Sentimen risk-on dorong penguatan rupiah, tapi masih rentan koreksi

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat pada hari ini setelah kemarin melemah. Selasa (3/2), kurs rupiah di pasar spot menguat Rp 44 atau 0,26% menjadi Rp 16.754 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sejalan, kurs rupiah Jisdor hari ini menguat Rp 23 atau 0,14% menjadi Rp 16.777 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai, penguatan rupiah didorong oleh membaiknya sentimen risiko (risk-on) di pasar global. 

“Rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen risk-on oleh berita kesepakatan tarif antara AS dengan India,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).

Rupiah Spot Menguat 0,16% ke Rp 16.772 per Dolar AS pada Selasa (3/2) Siang

Selain faktor eksternal, sentimen domestik turut memberikan dukungan. Meredanya tekanan di pasar saham domestik, yang ditandai dengan kembalinya aksi net buy investor asing di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ikut menopang pergerakan rupiah.

Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa penguatan rupiah belum cukup kuat untuk bertahan lama. 

Untuk perdagangan Rabu (4/2/2026), Lukman bilang belum ada katalis yang dapat menyokong pergerakan rupiah secara signifikan.

Rupiah Spot Menguat 0,20% ke Rp 16.764 per Dolar AS pada Selasa (3/2/2026) Pagi

“Tidak ada data ekonomi penting hingga besok. Posisi rupiah masih fragile dan penguatan ini diperkirakan tidak akan bertahan lama,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting dalam beberapa hari ke depan, seperti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal IV Indonesia serta data tenaga kerja Non-Farm Payrolls (NFP) AS.

Untuk perdagangan Rabu, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak terbatas dengan kecenderungan fluktuatif di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.850 per dolar AS.

Rupiah Masih Rawan Tertekan, Dibayangi Penguatan Dolar AS