Sinyal kenaikan rasio dividen 2025, jadi katalis gerak saham BBCA

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Sinyal kenaikan rasio pembagian dividen tahun buku 2025 bisa menjadi katalis positif terhadap gerak saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

BBCA dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Kamis (12/3/2026). Dari tujuh mata acara yang akan dibahas, agenda kedua RUPST perseroan akan memutuskan penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025.

Seiring dengan hal tersebut, manajemen BCA mengusulkan agar sebagian laba bersih disisihkan untuk pembagian dividen tunai, sedangkan sisanya akan dibukukan sebagai laba ditahan.

: Riwayat Dividen BRI 5 Tahun Terakhir, Bagaimana Tren Pembagian ke Pemegang Saham?

Adapun, pembagian dividen itu dimungkinkan lantaran BBCA mampu membukukan laba bersih senilai Rp57,5 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat sebesar 4,9% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Riset CGS International menjelaskan BBCA bisa mempertahankan kinerja yang stabil kendati ada tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Sejak rilis kinerja kuartal III/2025, manajemen BBCA memang telah memberi kisi-kisi adanya penurunan NIM pada tahun ini.

: : Kisi-kisi Dividen Final Big Banks: BBRI, BBNI, BMRI, hingga BBCA

Analis CGS International Handy Noverdanius memproyeksi pendapatan bunga bersih BBCA mencapai Rp88,23 triliun pada 2026, naik 3% dibandingkan 2025. Sementara itu laba bersih diproyeksi naik 5,7% menjadi Rp60,82 triliun pada 2026.

“BBCA masih memiliki ruang untuk meningkatkan rasio pembagian dividen untuk tahun buku 2025, yang berpotensi menjadi katalis positif bagi pergerakan saham perseroan,” seperti dikutip dalam risetnya, Senin (9/3/2026).

Pada Januari 2026, BBCA telah mencatat laba bersih Rp5 triliun, naik 5,8% secara year on year. Pencapaian ini setara dengan 8% proyeksi laba setahun dari konsensus analis yang dikompilasi Bloomberg.

Peningkatan laba bersih pada Januari 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 11% serta penurunan beban pencadangan yang signifikan sebesar 54%.

Dari sisi pendanaan, lanjutnya, posisi likuiditas BBCA tetap kuat dengan rasio dana murah atau CASA mencapai sekitar 84,8%, mencerminkan keunggulan biaya dana dibandingkan bank sejenis. Adapun, loan to deposit ratio (LDR) masih rendah di level 77,4%. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas profitabilitas perseroan.

CGS mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham BBCA dengan target harga Rp10.000 per saham. Proyeksi ini setara dengan potensi kenaikan 43% dari harga saham BBCA di akhir tahun lalu.

Sementara itu, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi Buy terhadap BBCA dengan target harga Rp8.600 per saham.

Analis dari Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dan Brandon Boedhiman menilai strategi pendanaan berbasis transaksi serta dominasi rasio dana murah (current account saving account/CASA) akan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan kinerja bank tersebut.

“BBCA terus mengeksekusi strategi transaction banking dan pendanaan berbasis CASA yang kuat sehingga mampu menopang pertumbuhan laba yang stabil,” tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya.

Samuel memperkirakan kredit BBCA dapat tumbuh sekitar 10–11% pada 2026, dengan margin bunga bersih berada di kisaran 5,4–5,6% serta biaya kredit sekitar 40–50 basis poin. Dari sisi profitabilitas, laba bersih BBCA diproyeksikan meningkat sekitar 7,4% secara tahunan menjadi Rp61,8 triliun pada 2026, dari Rp57,5 triliun pada 2025.

Sementara itu, kualitas aset juga diperkirakan tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di kisaran 1,6%, didukung oleh manajemen risiko yang konservatif serta buffer pencadangan yang kuat.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.