
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Sejalan dengan Goldman Sachs, lembaga investasi global UBS juga menurunkan peringkat saham Indonesia imbas kekhawatiran tentang kelayakan investasi yang disampaikan oleh MSCI.
UBS menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari overweight. Langkah itu ditempuh setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyampaikan kekhawatiran tentang kelayakan investasi dan memperingatkan potensi reklasifikasi saham Indonesia dari status emerging market ke frontier market.
“Kami pikir tekanan pada pasar secara keseluruhan kemungkinan akan berlanjut sampai kami mendapatkan kejelasan tentang peraturan dan penilaian ulang MSCI,” tulis para analis termasuk Sunil Tirumalai dalam catatan tertanggal 28 Januari 2026, seperti dilansir Bloomberg.
Tekanan pasar saham Indonesia tecermin dari gerak indeks harga saham gabungan (IHSG). Berdasarkan data BEI, IHSG dibuka turun tajam 5,09% menuju level 7.896 pada Kamis (29/1/2026). IHSG resmi meninggalkan level 8.000 dengan 64 saham menguat, 552 saham melemah, dan 74 saham stagnan.
Setelah perdagangan sesi I hari ini berjalan selama 24 menit, IHSG turun 8% sehingga terjadi pembekuan sementara perdagangan saham. Trading halt itu merupakan kali kedua pada pekan ini setelah diterapkan pada Rabu (28/1/2026) pukul 13:43 WIB.
Tekanan tersebut terjadi setelah MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga regulator menyelesaikan kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang dipegang secara ketat pada perusahaan-perusahaan tercatat.
MSCI menilai terdapat “masalah fundamental dalam hal kelayakan investasi,” dengan sorotan utama pada rendahnya free float atau jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar.
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Lebih lanjut, UBS juga menyoroti peningkatan risiko regulasi setelah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo mengatakan 28 perusahaan dengan izin usaha yang dicabut, termasuk entitas milik anak perusahaan United Tractors Grup Astra. Dalam perkembangan terbaru, izin usaha Agincourt Resources dikabarkan akan dialihkan Danantara ke entitas badan usaha milik negara (BUMN).
UBS memperkirakan kepemilikan saham Indonesia secara keseluruhan oleh investor global dan emerging market mendekati level terendah.
Keputusan UBS ini sejalan dengan langkah Goldman Sachs Group Inc. menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight. Kebijakan ini seiring kekhawatiran MSCI Inc. mengenai kelayakan investasi di Tanah Air.
Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut menilai, dalam skenario ekstrem apabila Indonesia diklasifikasi ulang dari pasar negara berkembang menjadi frontier market, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI berpotensi keluar. Portofolio kelompok ini mencapai US$7,8 miliar.
Selain itu, arus keluar tambahan sebesar US$5,6 miliar juga dapat terjadi apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free-float pasar Indonesia. Artinya, dua lembaga itu menjadi sandaran dana asing sekitar US$13 miliar atau setara Rp217 triliun.
“Kami memperkirakan akan terjadi penjualan [pemilik dana] pasif lebih lanjut. [Kami] menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menekan kinerja pasar [saham Indonesia],” tulis para analis Goldman termasuk Timothy Moe dikutip dari Bloomberg, Kamis (29/1/2026).
Goldman Sachs juga menilai posisi manajer investasi aktif regional yang saat ini kelebihan bobot di pasar Indonesia berpotensi memperbesar tekanan. Dampak kemungkinan penurunan peringkat, ditambah meningkatnya tekanan pasar serta potensi penurunan likuiditas, dinilai dapat mendorong investor jangka panjang untuk melakukan penyeimbangan ulang portofolio.
Dalam catatan terpisah, para analis menyebut kondisi tersebut juga berisiko memicu arus spekulatif dari hedge fund, seiring dengan meningkatnya volatilitas pasar.