
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Harga buyback emas Antam telah memecahkan rekor baru sebanyak 15 kali hingga Kamis (29/1/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Kamis (29/1/2026), harga buyback emas Antam naik Rp135.000 ke Rp2.989.000. Posisi itu menjadi rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) terbaru bulan ini.
Dengan demikian, harga buyback emas Antam telah memecahkan rekor ATH baru sebanyak 15 kali sepanjang periode berjalan Januari 2026.
: Harga Emas Tembus Rp3 Juta/Gram, Simak 10 Tips dan Strategi Investasi Emas
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
: : Harga Emas Terus Menanjak, Geopolitik Global Jadi Pendorong Utama
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Adapun, harga buyback emas Antam mengikuti pergerakan mahar logam mulia di pasar global.
: : Para Pembeli Emas Antam yang Masih Gigit Jari Memasuki Akhir Januari 2026
Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi dan mendekati level US$5.600 per ons seiring melonjaknya permintaan aset aman di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Melansir Reuters pada Kamis (29/1/2026), harga emas di pasar spot melonjak 2,6% ke posisi US$5.538,69 per ons setelah sebelumnya menyentuh rekor intraday di level US$5.591,61 per ons.
Analis Marex Edward Meir menilai lonjakan harga emas didorong oleh membengkaknya utang Amerika Serikat serta meningkatnya ketidakpastian akibat indikasi sistem perdagangan global yang kian terfragmentasi ke dalam blok-blok regional, menjauh dari model yang berpusat pada AS.
Emas menembus level psikologis US$5.000 per ons untuk pertama kalinya pada Senin lalu dan telah menguat lebih dari 10% sepanjang pekan ini. Kenaikan tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven), pembelian berkelanjutan oleh bank sentral, serta pelemahan dolar AS.
Analis OCBC menyebut emas kini tidak lagi semata dipandang sebagai lindung nilai terhadap krisis atau inflasi. Logam mulia tersebut semakin dipersepsikan sebagai aset penyimpan nilai yang netral dan andal, sekaligus memberikan diversifikasi portofolio di berbagai rezim makroekonomi.
Sepanjang tahun berjalan, harga emas telah melonjak lebih dari 27%, melanjutkan reli signifikan sebesar 64% sepanjang 2025.
Meski reli emas bersifat parabolik dan berpotensi memicu koreksi dalam waktu dekat, analis pasar IG Tony Sycamore menilai fundamental yang mendasari penguatan harga diperkirakan tetap solid sepanjang 2026. Dengan demikian, setiap pelemahan harga justru berpeluang menjadi momentum akumulasi.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump pada Rabu mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan dan mencapai kesepakatan terkait senjata nuklir.
Trump memperingatkan bahwa serangan AS di masa depan akan jauh lebih keras dibandingkan serangan tahun lalu terhadap fasilitas nuklir Iran.
Menanggapi pernyataan tersebut, Teheran mengancam akan melakukan serangan balasan terhadap AS, Israel, serta pihak-pihak yang mendukungnya.
Di sisi kebijakan moneter, Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, sesuai ekspektasi pasar. Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa inflasi pada Desember masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%.
Harga emas juga mendapat sentimen positif dari rencana kelompok investor kripto yang akan mengalokasikan sekitar 10%–15% portofolio investasinya ke emas fisik.
Tingginya harga emas turut mendorong lonjakan permintaan ritel. Konsumen dilaporkan memadati toko-toko penjual emas di Shanghai dan Hong Kong, dengan sebagian berspekulasi harga logam mulia tersebut masih berpotensi naik lebih lanjut.