
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Emiten konglomerasi PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan kinerja penguatan harga saham hingga menyentuh level Rp7.000 per lembar pada perdagangan awal 2026. Mampukah ASII kembali menanjak?
Berdasarkan data Bloomberg, harga saham ASII memang melemah 0,36% ke level Rp7.000 per lembar pada perdagangan hari ini, Kamis (8/1/2026). Namun, ASII masih dalam tren penguatan dalam lima hari perdagangan awal 2026, naik 4,48% sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd).
Saham ASII pun ramai diborong asing pada perdagangan awal 2026. Saham ASII mencatatkan nilai beli bersih atau net buy asing sebesar Rp359,28 miliar dalam lima hari perdagangan awal 2026.
: Optimisme Saham Otomotif ASII-DRMA di 2026 Meski Mesin Penjualan Mendingin
Mengacu data Bloomberg, terdapat 26 sekuritas yang masih merekomendasikan buy untuk ASII. Sementara, 9 sekuritas merekomendasikan hold.
Sejumlah sekuritas memproyeksikan harga saham ASII masih memiliki peluang penguatan. UOB Kay Hian misalnya menargetkan harga saham ASII di level Rp7.700 per lembar. Kemudian, BRI Danareksa Sekuritas menargetkan saham ASII di level Rp7.450 per lembar.
: : ASII, BREN Cs Tetap Diborong Asing Meski Pasar Net Sell Rp17,34 Triliun pada 2025
“Terdorong oleh peningkatan momentum operasional di bisnis otomotif, didukung imbal hasil dividen yang menarik serta potensi peningkatan dari inisiatif TSR [total shareholder return],” kata Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi dalam risetnya pada beberapa waktu lalu.
Selain itu, Mandiri Sekuritas menargetkan saham ASII di level Rp7.500 per lembar. Bahkan, DBS Bank dan UBS menargetkan saham ASII di level Rp8.100 per lembar.
: : Penyebab Ramai Emiten Lakukan Aksi Akuisisi pada 2025, dari ASII hingga BNBR
Sementara, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan hold untuk ASII dengan target harga yang sudah tercapai di level Rp7.000 per lembar.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Miftahul Khaer menilai saham ASII masih memiliki potensi peningkatan. Oleh karena itu Kiwoom Sekuritas merekomendasikan hold. Namun terdapat sejumlah risiko penurunan.
“Risiko komoditas yang khususnya mempengaruhi segmen usaha alat berat, pertambangan, dan agribisnis serta kebijakan pemerintah,” ujar Miftahul.
Dari sisi fundamental, ASII telah membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp24,47 triliun. Angka tersebut turun 5,34% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan Rp25,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Pendapatan Astra turut turun 1,1% YoY menjadi Rp243,6 triliun pada kuartal III/2025 dari Rp246,32 triliun pada periode yang sama tahun lalu.