
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Sepanjang tahun 2025, sektor perbankan menghadapi tahun yang sulit pada tahun 2025> Salah satu penyebab adalah daya beli lesu yang berpengaruh ke penyaluran kredit.
Kebijakan makroekonomi menjadi katalis yang memengaruhi lanskap perbankan di tahun 2026. David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memproyeksi kinerja perbankan di awal 2026 akan relatif stabil dengan kecenderungan membaik.
Penopangnya pertumbuhan kredit yang masih positif, likuiditas yang terjaga, serta potensi penurunan suku bunga lanjutan yang mendukung permintaan kredit.
David melihat tantangan utama datang dari tekanan margin atau NIM akibat penyesuaian suku bunga, potensi kenaikan biaya dana, serta kualitas aset yang perlu dijaga di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya merata.
“Sentimen kunci meliputi arah kebijakan suku bunga BI, stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit, serta tren non performing loan (NPL) dan cost of credit (CoC). Selain itu, aliran dana asing juga memengaruhi pergerakan saham bank besar,” terang David, Kamis (15/1).
Cermati Rekomendasi Teknikal Saham RATU, BBTN, WIIM untuk Kamis (8/1)
Sepakat, setelah mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan sepanjang 2025, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dan David Chong memperkirakan laba perbankan akan kembali tumbuh positif pada akhir 2026. Proyeksi ini didorong oleh penurunan biaya dana serta ekspansi NIM yang berlangsung secara bertahap.
Dari sisi kinerja, pemulihan bertahap juga mulai terlihat dari capaian bulan November 2025. Pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan alias pre-provision operating profit (PPOP) serta laba bersih ditopang oleh bank-bank turnaround dan saham dengan pertumbuhan selektif.
“PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menjadi salah satu bank yang mencatat pemulihan menonjol,” kata Andrey dan David.
Menjelang long weekend pekan lalu, harga saham BBTN tutup di level Rp 1.220. Harga pada Kamis (15/1) itu naik 1,67% dibanding sehari sebelumnya dan melonjak 5,17% dalam sepekan. Kinerja tersebut menandai breakout dari pola konsolidasi yang telah berlangsung dalam satu bulan dan menempati posisi tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Aktivitas transaksi atas saham BBTN pekan ini melonjak dibandingkan pekan lalu di seluruh indikator. Rata-rata volume perdagangan dan nilai transaksi bahkan meningkat di atas 100% dibandingkan dengan pekan sebelumnya.
Investor asing mencatat net buy Rp 27,8 miliar sepanjang pekan lalu. Melanjutkan tren positif sejak awal tahun 2026 ini. Secara akumulasi total aliran modal investor asing atas saham BBTN mencapai Rp51,26 miliar.
IHSG Menguat 2,19% ke 8.088 pada Senin (20/10), UNVR, BBTN, MAPA Top Gainers LQ45
Pergerakan saham BBTN pekan ini bersamaan dengan sejumlah momentum. Antara lain; Rebranding e-Batarapos menjadi BTN Pos, kepastian subsidi uang muka skema kredit pemilikan rumah (KPR) Sejahtera FLPP dan rekomendasi buy”dari sejumlah sekuritas.
BTN mengganti e’Batarapos menjadi Tabungan BTN Pos untuk memperluas basis dana murah, dengan target CASA Rp5 triliun dalam setahun. Strateginya bertumpu pada distribusi lewat hampir 3.000 kantor pos dan transaksi digital berbasis aplikasi Bale by BTN, terutama di segmen Gen Z dan wilayah 3T.
Katalis positif lainnya bersumber dari penyerapan belanja BTN. Bank spesialis properti ini menghimpun dana Rp 2,3 triliun melalui penerbitan dua obligasi pada Desember 2025.
Dana bersih sebesar Rp 2,28 triliun telah terserap sepenuhnya per 31 Desember 2025. Sebanyak Rp 294,8 miliar dialokasikan untuk proyek sosial dan perumahan terjangkau. Sementara Rp 1,99 triliun digunakan untuk memperkuat permodalan serta mendukung ekspansi kredit perusahaan
Selain aspek fundamental, pelaku pasar juga menyoroti sisi teknikal pergerakan harga saham. Dalam riset yang dipublikasikan pekan lalu, Galeri Saham mencermati BBTN tengah berkonsolidasi dan terus menguji level resisten terkuatnya di Rp 1.175.
“Jika level ini ditembus dan bertahan di atasnya, ada potensi bagi BBTN menuju Rp 1,395 dengan minor target di Rp 1.270. Support yang naik terus menunjukan adanya dominasi buyer di saham ini,” tulis Galeri Saham. Trend optimizer yang berubah dari merah panjang ke putih menunjukan saham ini berada di fase bottom reversal.