Tenancy ratio meningkat, Mitratel (MTEL) andalkan kolokasi untuk dorong kinerja

Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel berhasil mencatatkan kenaikan tenancy ratio pada kuartal I-2026. Per Maret 2026, tenancy ratio Mitratel meningkat menjadi 1,57 kali. 

Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan kolokasi Mitratel sebesar 11,3% secara tahunan atau Year on Year (YoY) menjadi 23.006 unit pada periode Januari–Maret 2026. 

Peningkatan tenancy ratio turut ditopang ekspansi operator seluler ke luar Pulau Jawa. Di mana, lebih dari 59% portofolio menara Mitratel berada di luar Jawa, termasuk wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal atau 3T. 

Per Maret 2026, Mitratel mengelola 40.327 menara atau tumbuh 1,9% secara tahunan. Di sisi lain, jaringan fiber optic Mitratel juga tumbuh 17,3% YoY menjadi 72.842 km billable length. 

Entitas Menara Telekomunikasi Milik Djarum Perpanjang Masa Pinjaman Rp 4 Triliun

Equity Analyst Panin Sekuritas Aqil Triyadi menilai pertumbuhan yang berasal dari kolokasi memiliki kualitas lebih baik karena dapat menambah pendapatan tanpa mengubah struktur biaya secara signifikan. 

Aqil bilang untuk perusahaan menara yang sudah mature, kuncinya bukan lagi semata-mata menambah jumlah tower secara agresif, tetapi bagaimana aset yang sudah ada bisa menghasilkan pendapatan lebih besar. 

“Ketika tenancy ratio naik, incremental revenue dari tenant tambahan biasanya memiliki margin yang lebih tinggi,” jelasnya, Jumat (8/5/2026).

Aqil menambahkan, tenancy ratio MTEL berpotensi terus meningkat seiring implementasi program Internet Rakyat berbasis Fixed Wireless Access (FWA). Di mana, teknologi tersebut membutuhkan dukungan menara telekomunikasi. 

Menurutnya, dua operator Internet Rakyat (IRA), yakni MyRepublic dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), memiliki target ekspansi layanan yang agresif. Ini dapat membuka peluang tambahan kolokasi bagi perusahaan menara seperti MTEL. 

Lelang Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz Dimulai, Cek Rekomendasi Saham Telekomunikasi

“Target agresif kedua operator internet rakyat akan sulit dicapai jika seluruh kebutuhan infrastruktur dibangun sendiri karena opsi menyewa menara eksisting, termasuk milik MTEL,” kata Aqil. 

Melansir laporan keuangan per 31 Maret 2026, MTEL meraup pendapatan sebesar Rp 2,29 triliun. Ini tumbuh 1,39% secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 2,26 triliun.

Dari bottom line, laba tahun berjalan Mitratel mencapai Rp 545,05 miliar di periode Januari–Maret 2026. Ini tumbuh 3,56% YoY dari Rp 526,313 miliar.