Tertekan sentimen global dan domestik, rupiah melemah ke Rp 17.189 per dolar AS

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerikat Serikat (AS) melemah pada Jumat (17/4/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 0,29% secara harian ke Rp 17.189 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,49% dari posisinya di Rp 17.104 per dolar AS pada Jumat (10/4/2026). 

Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,27% secara harian ke Rp 17.189 per dolar AS. Dalam sepekan, rupiah melemah 0,44% dari posisinya di Rp 17.112 per dolar AS. 

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah dalam sepekan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sentimen global, AS memulai blokade Selat Hormuz terhadap Iran.

Gen Z Kuasai 60% Pasar Kripto di Indonesia, Ini Alasan Mereka Agresif

Blokade tersebut dilakukan untuk menekan Teheran agar menerima kesepakatan gencatan senjata. Ini terjadi setelah pembicaraan gencatan senjata AS-Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. 

Namun, blokade laut terhadap Iran berpotensi meningkatkan gangguan pengiriman di Selat Hormuz, terutama jika Teheran membalas langkah tersebut dengan kekuatan militer. Sebab, Selat Hormuz adalah titik fokus utama dalam perang Iran, dengan Teheran secara efektif memblokir saluran tersebut sebagai tanggapan terhadap permusuhan AS-Israel pada akhir Februari. 

Dari domestik, sentimen risiko fiskal menekan rupiah. Per Maret 2026, defisit anggaran telah mencapai 0,93% dari produk domestik bruto (PDB) (Rp 240 triliun), melonjak tajam dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 0,4% (Rp 100 triliun).

Dengan asumsi harga minyak di level US$ 100 per barel jauh di atas asumsi US$ 70 per barel, pemerintah diprediksi akan merevisi APBN pada Agustus mendatang. Risiko kenaikan harga BBM bersubsidi membayangi untuk menahan laju defisit agar tidak menjebol batas 3%, sebuah langkah yang berisiko memicu stagflasi

“Kesehatan fiskal Indonesia berada dalam titik kritis,” ucap Ibrahim, Jumat (17/4/2026). 

Selain itu, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia per Februari 2026 tercatat sebesar US$ 437,9 miliar, meningkat dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar US$ 434,9 miliar.

Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5% secara year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7% yoy. 

Saham Melejit 203% Usai IPO, BSA Logistics (WBSA) Segera Akuisisi dan Kebut Ekspansi

Hal ini ditambah dengan Dana Moneter International atau IMF yang merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. IMF memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 mencapai 5%. Angka ini lebih rendah ketimbang laporan IMF Januari lalu yang memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencatatkan kenaikan 5,1%. 

Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa melihat potensi penguatan rupiah tetap ada seiring pelemahan dolar global. Namun ruangnya terbatas karena tekanan eksternal dan arus modal keluar yang masih berlangsung. 

“Pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik,” ujar Amru. 

Dari sisi domestik, keputusan suku bunga Bank Indonesia pada 22 April menjadi perhatian utama, terutama terkait komitmen menjaga stabilitas rupiah. Dari eksternal, arah pergerakan dolar AS yang tercermin dalam US Dollar Index (DXY) akan menjadi penentu utama. Selain itu, perkembangan geopolitik seperti negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran juga memengaruhi sentimen pasar global.

Amru memperkirakan rupiah sepekan ke depan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas di kisaran Rp 17.130 – Rp 17.260 per dolar AS. Sementara Ibrahim memproyeksikan rupiah sepekan ke depan melemah di level  Rp 17.150 – Rp 17.300 per dolar AS.

Indo Tambangraya Megah (ITMG) Bersiap Bagi Dividen US$ 115 Juta