
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Ditengah volatilitas IHSG, investor disebut dapat meninjau ulang strategi investasi sesuai profil risiko masing – masing.
Teddy Wishadi, Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas meyakini indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu pulih setelah fase koreksi. Ia mencontohkan, saat pandemi Covid-19 pada tahun 2020, IHSG turun 33%, namun kembali recovery 24% dalam 6 bulan dan 59% dalam 12 bulan.
Menurutnya, pergerakan IHSG merupakan refleksi dari dinamika sentimen pasar yang bersifat jangka pendek. Volatilitas seperti ini merupakan bagian dari siklus pasar yang wajar.
Momen Imlek dan Ramadan, Simak Strategi Investasi Sesuai Profil Investor
“Meninjau ulang strategi sesuai profil risiko dan tujuan investasi jangka panjang menjadi langkah penting. Disiplin dalam alokasi dan pemilihan instrumen membantu mengurangi tekanan psikologis saat pasar bergejolak,” ujar Teddy saat dikonfirmasi, Jumat (13/2/2026).
Teddy melihat bahwa investor dapat membeli saham blue chip. Saham-saham dengan kapitalisasi besar dan fundamental kuat terbukti lebih tahan terhadap volatilitas. Pilihan ini dapat membantu investor tetap berada di pasar tanpa mengambil risiko berlebihan.
Selain saham, investor dapat mempertimbangkan instrumen lain untuk menyeimbangkan portofolio. Obligasi korporasi dan Surat Berharga Negara (SBN) memberikan pendapatan tetap dan stabil.
Lalu, reksadana campuran atau pendapatan tetap. Diversifikasi otomatis antara saham dan obligasi, mengurangi risiko sekaligus tetap berpartisipasi di pasar modal. Deposito dan instrumen pasar uang, instrumen ini likuid dan aman untuk menunggu momentum pasar. Serta emas, instrumen lindung nilai yang relatif stabil saat pasar bergejolak.
“Investor sebaiknya menghindari penggunaan dana pinjaman atau leverage, terutama saat pasar volatil, karena dapat memperbesar risiko kerugian dan tekanan finansial,” jelas Teddy.