Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Sektor pertanian kembali menegaskan perannya sebagai penopang utama perekonomian nasional di tengah berbagai tekanan global. Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, kinerja sektor ini tidak hanya stabil, tetapi juga menunjukkan akselerasi yang signifikan, tercermin dari lonjakan nilai ekspor yang menembus Rp166,71 triliun pada 2025.
Temuan tersebut mengacu pada hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis BI, yang mencatat aktivitas dunia usaha pada triwulan I 2026 tetap berada di zona ekspansi. Hal ini menunjukkan daya tahan ekonomi domestik yang tetap terjaga meski dihadapkan pada dinamika global yang tidak menentu.
Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, menyatakan kinerja dunia usaha secara umum masih solid. “Hasil SKDU mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I 2026 terjaga,” ujar Anton dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu.
Secara kuantitatif, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) tercatat sebesar 10,11 persen pada triwulan I 2026. Angka ini memang sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 10,61 persen, namun tetap menunjukkan bahwa aktivitas usaha masih berada dalam fase pertumbuhan.
Anton menjelaskan, mayoritas lapangan usaha mencatatkan kinerja positif. Di antaranya sektor jasa keuangan, pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan, serta perdagangan besar dan eceran.
Khusus sektor pertanian, kontribusinya terlihat semakin dominan seiring meningkatnya permintaan domestik selama periode hari besar keagamaan nasional. Momentum seperti Tahun Baru Imlek, Nyepi, Ramadhan, hingga Idul Fitri 1447 Hijriah turut mendorong aktivitas produksi dan distribusi pangan.
Selain faktor musiman, peningkatan kinerja sektor ini juga ditopang oleh musim panen yang berlangsung pada periode tersebut. Kombinasi antara permintaan yang tinggi dan pasokan yang memadai menciptakan keseimbangan yang menguntungkan bagi pelaku usaha di sektor pertanian.
Dari sisi operasional, kapasitas produksi terpakai pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 73,33 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 73,15 persen. Peningkatan ini terutama ditopang oleh sektor pertanian serta industri pengolahan.
Kondisi keuangan dunia usaha juga dinilai tetap sehat. Likuiditas dan rentabilitas perusahaan berada dalam kondisi baik, didukung oleh akses pembiayaan yang relatif lebih mudah.
Petani memanen jagung saat kegiatan Panen Raya Jagung Serentak Kuartal I 2026 di Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026). Kepolisian Daerah Jawa Barat menggelar Panen Raya Jagung Serentak Kuartal I 2026 di sejumlah titik dengan total panen mencapai 300 ton dari lahan seluas 75,99 hektar guna menjaga ketersediaan pangan nasional serta mendukung program swasembada pangan nasional khususnya swasembada jagung. – (ANTARA FOTO/Abdan Syakura)
Memasuki triwulan II 2026, BI memproyeksikan kinerja dunia usaha akan semakin meningkat. Hal ini tercermin dari prakiraan SBT yang mencapai 14,80 persen, didorong oleh berlanjutnya musim panen dan peningkatan aktivitas ekonomi domestik.
“Responden memprakirakan kegiatan usaha pada triwulan II 2026 meningkat dengan SBT sebesar 14,80 persen,” kata Anton.
Di sisi lain, pemerintah menilai capaian ini sebagai bukti konkret bahwa sektor pertanian semakin kokoh sebagai fondasi ekonomi nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pertanian kini tidak lagi sekadar sektor penyangga.
“Pertanian hari ini bukan hanya penyangga, tetapi menjadi penggerak utama ekonomi nasional. Ketika sektor lain mengalami tekanan, pertanian justru hadir sebagai solusi,” ujar Amran.
Ia menambahkan, penguatan sektor pertanian tidak terjadi secara instan, melainkan melalui serangkaian kebijakan strategis yang dijalankan secara konsisten.
Program percepatan tanam, optimalisasi lahan, hingga pompanisasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas. Di saat yang sama, perbaikan sistem irigasi dan distribusi pupuk turut memperkuat fondasi produksi.
Menurut survei Indikator Politik Indonesia, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mencatat tingkat kepuasan publik tertinggi, yakni sebesar 84,9 persen. – (Kementrian Pertanian)
Menurut Amran, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari kerja terstruktur yang berorientasi jangka panjang. “Ini adalah orkestrasi besar dari hulu hingga hilir,” katanya.
Dampaknya mulai terlihat dari kinerja perdagangan luar negeri sektor pertanian. Nilai ekspor produk pertanian, baik segar maupun olahan, pada 2025 meningkat sebesar Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen.
Di sisi lain, impor produk pertanian justru mengalami penurunan sebesar Rp41,68 triliun atau terkoreksi 9,66 persen. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kemandirian sektor pertanian nasional.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa produk pertanian Indonesia semakin kompetitif di pasar global. Selain itu, ketergantungan terhadap produk impor juga semakin berkurang.
Dari sisi produksi, komoditas utama seperti padi dan jagung mencatatkan peningkatan signifikan. Hal ini berdampak langsung terhadap ketersediaan pangan nasional.
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) bahkan mencapai level tertinggi sepanjang sejarah. Angka yang mendekati 5 juta ton menjadi indikator kuat stabilitas pangan nasional.
Buruh tani memisahkan gabah bernas dari sekam dan kotoran menggunakan mesin pengembus padi seusai panen di areal persawahan Desa Jamus, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (8/4/2026). Data Badan Pusat Statistik yang dirilis pada 1 April 2026 mencatat luas panen padi nasional pada Februari 2026 mencapai 0,94 juta hektare dengan produksi beras untuk konsumsi diperkirakan sebesar 2,91 juta ton, atau meningkat 0,18 juta hektare atau 23,62 persen dibandingkan Februari 2025 seluas 0,76 juta hektare. – (ANTARA FOTO/Aji Styawan)
Amran menegaskan, capaian tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan jaminan rasa aman bagi masyarakat. “Kita pastikan stok cukup, harga stabil, dan petani tetap untung,” ujarnya.
Kesejahteraan petani juga menunjukkan tren positif. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mencapai 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
Peningkatan NTP ini menandakan bahwa daya beli petani semakin membaik, sekaligus mencerminkan meningkatnya pendapatan di sektor tersebut.
Di sisi makro, sektor pertanian juga mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,74 persen pada 2025. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Dengan capaian tersebut, sektor pertanian semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Ke depan, pemerintah optimistis sektor ini akan terus menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
“Kalau pertanian kuat, ekonomi nasional pasti kuat. Ini yang terus kita jaga dan percepat,” pungkas Amran.