Central Omega (DKFT) bagi dividen Rp 390,31 miliar setelah puasa satu dasawarsa

Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) memutuskan membagi dividen dari laba bersih tahun buku 2025. Emiten tambang nikel ini sebelumnya puasa membagi dividen selama satu dasawarsa.

Direktur Central Omega Resources, Andi Jaya mengungkapkan bahwa DKFT mengalokasikan sebesar Rp 390,31 miliar sebagai dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham.

Secara rasio, jumlah tersebut setara dengan 68% dari laba bersih yang dibukukan oleh DKFT pada 2025.

Secara total, DKFT akan membagikan dividen sebesar Rp 70 per saham. Kebijakan ini sudah mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (22/4/2026).

Ditopang Nikel, Kinerja Central Omega Resources (DKFT) Tumbuh Solid di 2025

Andi menjelaskan, pembagian dividen DKFT terbagi atas tiga tahapan. Sebelumnya, DKFT telah membagi dividen interim pada 7 Juli dan 30 Oktober 2025, masing-masing sebesar Rp 10 dan Rp 25 per saham.

“Di RUPS sudah kami sampaikan untuk finalnya, jadi total Rp 70, sehingga akan dibayarkan lagi (dividen) Rp 35 per saham,” kata Andi dalam paparan publik yang berlangsung pada Rabu (22/4/2026).

Tetapi, Andi belum merinci jadwal pembagian sisa dividen Rp 35 per saham tersebut. Andi membeberkan riwayat pembagian dividen DKFT sejak tahun buku 2011. Saat itu, DKFT menebar dividen sebesar Rp 100 per saham.

Kemudian pada tahun buku 2012 dan 2013, DKFT masing-masing membagi dividen Rp 50 per saham. Setelah itu, pada tahun buku 2014 – 2024, DKFT puasa membagi dividen.

Central Omega (DKFT) Optimistis Kejar Laba Rp 628,9 Miliar pada 2026, Ini Strateginya

Andi menjelaskan hal itu terjadi karena DKFT membukukan laba (earnings) yang negatif. Penyebabnya terkait dengan kebijakan pemerintah yang menerapkan moratorium atau penghentian ekspor bijih nikel. Imbasnya, pada tahun 2014 – 2017 DKFT tidak bisa mencatatkan penjualan.

Sesuai regulasi, DKFT pun membangun smelter pada tahun 2015 dan mulai beroperasi komersial pada 2018. “Tapi karena selama bertahun-tahun tidak ada revenue, itu kan secara earnings-nya negatif, sampai dengan tahun 2024 baru selesai. PR-nya selesai, sehingga 2025 kami baru bisa membagikan dividen kembali,” jelas Andi.

Secara kinerja, DKFT membukukan penjualan senilai Rp 1,57 triliun sepanjang tahun 2025. Meningkat 7,53% secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan penjualan DKFT pada 2024, yang kala itu sebesar Rp 1,46 triliun.

Meski penjualan naik, tapi DKFT mampu menekan beban pokok penjualan yang mengalami penurunan 4,48% (yoy) menjadi Rp 792,58 miliar. Hasil ini mendongkrak perolehan laba kotor DKFT dengan kenaikan 24,10% (yoy) dari Rp 631,39 miliar menjadi Rp 783,59 miliar.

Avia Avian (AVIA) Tebar Dividen Rp 1,36 Triliun, Setara Rp 23 per Saham

Secara bottom line, DKFT meraih laba bersih sebesar Rp 573,48 miliar pada tahun 2025. Keuntungan DKFT melonjak 56,62% dibandingkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada 2024, yang kala  itu tercatat sebesar Rp 366,16 miliar.

Andi menjelaskan, pertumbuhan laba DKFT terdongkrak oleh penurunan beban produksi. DKFT mengusung strategi untuk memacu produksi bijih nikel jenis limonit yang biaya produksinya lebih rendah dibandingkan dengan bijih nikel jenis saprolit.

“Beban pokok penjualan berhasil mengalami penurunan karena strategi Manajemen untuk menerapkan penjualan limonit yang lebih banyak. Dengan cara ini perusahaan bisa menekan beban produksi. Oleh karena itu laba kotor sampai laba bersih terjadi peningkatan yang cukup signifikan,” terang Andi.

Target Kinerja DKFT pada 2026

Sedangkan pada tahun 2026, DKFT sementara ini memproyeksikan volume penjualan bijih nikel sebanyak 1,93 juta Wet Metric Ton (WMT). Jumlah ini jauh menurun dibandingkan volume penjualan pada tahun 2025 yang mencapai 3,02 juta WMT.

Penurunan volume ini sejalan dengan pemangkasan kuota produksi bijih nikel yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Seperti diketahui, pemerintah memangkas target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nasional.

Meski begitu, Andi mengapresiasi langkah tersebut, lantaran mampu mendongkrak cukup signifikan harga nikel secara global. Andi mengingatkan bahwa pada tahun lalu terjadi kelebihan pasokan (oversupply) yang menekan laju harga nikel dunia.

CNMA Tetap Bagi Dividen Interim Meski Laba Bersih Turun 16% hingga Kuartal III-2025

Andi menggambarkan harga nikel di London Metal Exchange (LME) yang sempat merosot di US$ 14.000 per ton, kini sudah mendaki ke sekitar US$ 18.000 per ton. Dus, meskipun volume penjualan diproyeksikan menurun, namun Andi optimistis nilai pendapatan dan laba DKFT bakal bisa naik dibandingkan tahun lalu.

Dengan asumsi tersebut, pada tahun ini DKFT membidik pendapatan sekitar Rp 1,6 triliun. Relatif stabil dibandingkan raihan Rp 1,57 triliun pada tahun lalu. Sementara itu, DKFT ingin meraih laba bersih sebesar Rp 628,9 miliar atau tumbuh 9,66% dibandingkan keuntungan tahun 2025 yang sebesar Rp 573,48 miliar.

“Walau ada penurunan kuantitas (volume penjualan), tapi pendapatan 2026 tidak berkurang. Dari sisi laba kami juga bisa mendapatkan lebih, karena ada kenaikan dari sisi harga,” jelas Andi.

Andi mengatakan bahwa proyeksi kinerja tersebut berdasarkan asumsi yang konservatif, baik dari sisi harga nikel global maupun volume penjualan bijih nikel. Andi membeberkan, pada semester pertama ini DKFT bakal mengoptimalkan produksi sesuai kuota RKAB. Setelah itu, DKFT bakal mengajukan revisi kepada pemerintah pada semester II-2026.

DKFT bersiap mengajukan revisi untuk menambah kuota produksi, hingga bisa mencapai level tahun lalu di sekitar 3 juta ton. Andi meyakini pemerintah akan mempertimbangkan perkembangan supply – demand, yang mana kebutuhan bijih nikel untuk smelter di dalam negeri masih sangat tinggi.

“Kami yakin pemerintah akan mempertimbangkan sambil menjaga kestabilan harga. Kami akan full produksi sesuai RKAB yang diterima, sehingga harapannya di semester kedua bisa mendapatkan tambahan,” ujar Andi.

Setahun Akuisisi Mall Eastlakes, One Global Capital Bagi Dividen Natal Perdana

Selain itu, pendapatan dan laba DKFT juga bisa melompat lebih tinggi dengan adanya formula HPM baru, yang mengacu pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 144.K/MB.01/MEM.B/2026. Regulasi anyar ini sudah berlaku efektif mulai 15 April 2026.

Baru seminggu berlaku, Andi mengatakan sejauh ini belum ada perubahan signifikan di lapangan. Dia menjelaskan, dampak formula HPM baru tidak berdampak signifikan terhadap bijih nikel jenis saprolit. Namun, formula HPM baru ini membawa berkah yang mengungkit harga bijih limonit.

Di sisi lain, Andi mengamini, perusahaan tambang sedang berhadapan dengan lonjakan biaya produksi, terutama karena lonjakan harga solar industri. Secara keseluruhan, Andi menggambarkan biaya produksi naik sekitar 30%. 

Meski begitu, Andi meyakinkan bahwa kenaikan biaya tersebut masih bisa tertutupi dengan tren kenaikan harga nikel yang sudah mencapai sekitar 55%. Dengan berbagai faktor tersebut, Andi meyakini DKFT berpotensi meraih pendapatan dan laba bersih lebih tinggi ketimbang proyeksi awal.

“Perusahaan membuat proyeksi cukup konservatif. Kami memperhitungkan kenaikan biaya, kenaikan royalti dengan harga pasar saat ini, artinya limonit belum disesuaikan dengan HPM (formula baru). Kami hitung dengan LME konservatif di US$ 17.000, padahal sekarang sudah US$ 18.000, jadi mungkin bisa diinterpretasikan sendiri,” tandas Adi.