IMF ingatkan gelombang tsunami AI ancam dunia kerja, anak muda paling rentan

Ussindonesia.co.id JAKARTA —Membludaknya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) menimbulkan risiko serius, terutama risiko terhadap dunia kerja.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa perkembangan AI akan membawa dampak besar bagi dunia kerja. 

Dia menyebutnya sebagai Tsunami AI yang siap menghantam pasar tenaga kerja global, terutama di negara-negara maju.

: Kecerdasan Buatan 2026: Indonesia Masih jadi Pasar atau Pencipta Solusi?

Menurut Georgieva, teknologi AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan manusia dan pemerintah dalam mengaturnya.  AI bukan lagi sekadar konsep masa depan, melainkan kenyataan yang sudah mengubah dunia saat ini.

“Kami memperkirakan dalam beberapa tahun ke depan, di negara-negara maju, 60% pekerjaan akan terpengaruh oleh AI, baik ditingkatkan, dihilangkan, atau diubah 40% secara global,” Ujar Georgieva dikutip dari WION Selasa (27/1/2026). 

: : DCO Soroti Perkembangan Pesat Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI)

Salah satu dampak paling serius dari AI adalah hilangnya banyak pekerjaan tingkat pemula. Pekerjaan jenis ini biasanya menjadi pintu masuk bagi anak muda yang baru memasuki dunia kerja. 

Jika peran-peran tersebut digantikan oleh AI, generasi muda akan semakin sulit mendapatkan pekerjaan yang layak.

: : OPINI: Revolusi Kecerdasan Buatan dari Base Transceiver Station

Tidak hanya anak muda, kelas menengah juga berisiko terkena dampak. Pekerja yang perannya tidak langsung berubah oleh AI bisa tetap terdesak karena produktivitas mereka tidak meningkat, sementara tekanan ekonomi terus bertambah. Hal ini bisa menyebabkan penurunan pendapatan.

Di sisi lain, IMF mencatat bahwa sekitar satu dari 10 pekerjaan di negara maju telah ditingkatkan oleh AI. 

Pekerja dalam posisi ini cenderung mendapatkan upah lebih tinggi dan membawa dampak positif bagi perekonomian di sekitarnya. Namun, manfaat ini belum dirasakan secara merata.

Georgieva menegaskan bahwa dunia belum siap menghadapi AI karena minimnya regulasi. Selain soal keamanan, pentingnya memastikan AI bersifat inklusif dan tidak hanya menguntungkan segelintir pihak.

“Sadarlah, AI itu nyata, dan dia mengubah dunia kita lebih cepat daripada kita mengantisipasinya,” kata Georgieva.

Dalam forum yang sama, Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, menambahkan bahwa ketegangan antarnegara dan kurangnya kerja sama global bisa memperlambat perkembangan AI. Padahal, AI membutuhkan modal besar, energi, dan data dalam jumlah masif.

Jika negara-negara tidak bekerja sama dan menyepakati aturan bersama, kata Lagarde, dunia akan menghadapi keterbatasan sumber daya dan meningkatnya ketimpangan.

Lagarde juga mengingatkan bahwa ketimpangan global berpotensi semakin melebar akibat AI. Tanpa kebijakan yang tepat, teknologi ini justru bisa memperdalam jurang antara negara maju dan berkembang, serta antara kelompok kaya dan miskin.

Sebelumnya, CEO Microsoft Satya Nadella juga mengingatkan bahwa AI bisa kehilangan kepercayaan publik jika hanya menguntungkan perusahaan teknologi besar, tanpa memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas seperti percepatan penemuan obat atau solusi bagi masalah global. (Nur Amalina)