
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyedia indeks global FTSE Russell dijadwalkan merilis hasil review kuartalan FTSE Global Equity Index Series pada Jumat (22/5/2026) waktu Amerika Serikat atau Sabtu, 23 Mei pukul 05.00 WIB.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan pengumuman FTSE kali ini cukup mempengaruhi sentimen pasar jangka pendek, terutama karena kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih sensitif terhadap foreign flow dan pelemahan rupiah.
Apabila ada saham yang turun bobot atau keluar indeks, biasanya memicu tekanan jual dari dana asing pasif. Sebaliknya saham yang masuk indeks berpotensi mendapat inflow dan kenaikan volume transaksi.
Bahana TCW Siap Rilis ETF Emas pada Kuartal III-2026, Diperdagangkan dalam Rupiah
“Namun dampaknya lebih terasa ke saham tertentu dibanding langsung mengubah arah IHSG secara keseluruhan. Saat ini pasar masih lebih fokus ke rupiah dan arus dana asing,” kata Elandry kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).
Saham yang berpotensi terdampak biasanya saham big caps yang jadi konstituen utama FTSE, terutama sektor perbankan dan komoditas. Elandry merinci, sejumlah saham yang bakal banyak disorot antara lain, BREN, TPIA, DSSA, CUAN dan AMMN karena isu HSC dan likuiditas pasar.
Tapi saham bank besar seperti, BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI justru relatif aman karena free float besar, likuiditas tinggi, dan jadi core holding investor asing
Untuk IHSG, support kuat saat ini di area 5.900–6.000. Kalau jebol, ada peluang turun lagi ke area 5.700. Sementara resistance terdekat ada di kisaran 6.250–6.350. “Jadi menurut saya market masih akan cukup volatile dalam jangka pendek,” ujarnya.
Elandry juga menyarankan investor sebaiknya mencermati potensi perubahan bobot indeks dan foreign flow jangka pendek, tetapi tetap mengutamakan fundamental emiten.
Untuk rekomendasi saham, Elandry masih merekomendasikan saham fundamental kuat dan relatif defensif di tengah market yang volatile, antara lain BBCA, BMRI, BBRI, TLKM, ASII dan TLKM di target harga masing-masing Rp 7.000, Rp 5.000, Rp 3.300, Rp 3.200, Rp 6.000 dan Rp 3.500 per saham.
TBS Energi (TOBA) Terdiskon Saat Koreksi IHSG, Analis Sebut Ada Potensi Re-rating
“Menurut saya strategi buy gradually masih lebih menarik dibanding panic selling di kondisi market sekarang,” tutup dia.