
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Kenaikan harga energi serta ekspektasi suku bunga AS yang masih tinggi membuat dolar kembali menjadi aset pilihan investor.
Mengutip Trading Economics, Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) naik ke level 99,41 dari posisi akhir pekan lalu di 98,39. Penguatan ini menekan sejumlah mata uang utama seperti euro, pound sterling, dan yen Jepang.
Pada Kamis (12/3/2026) pukul 15.40 WIB, pasangan EUR/USD turun 0,18% dalam sehari ke level 1,15. Sementara GBP/USD melemah 0,24% ke 1,33, dan USD/JPY terkoreksi tipis 0,05% ke 158.
Efek Eskalasi di Timur Tengah, Begini Proyeksi Rupiah Besok (3/3)
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai dolar masih berpotensi bertahan kuat selama harga energi tetap tinggi dan suku bunga AS diperkirakan bertahan di level lebih tinggi dibanding negara lain.
“Selama harga energi tinggi dan suku bunga AS masih lebih menarik, dolar cenderung tetap kuat,” ujar Lukman, Kamis (12/3).
Menurutnya, euro, pound, dan yen relatif lebih rentan karena perekonomian kawasan tersebut lebih sensitif terhadap lonjakan harga energi dan perlambatan ekonomi global.
Selain itu, bank sentral di negara-negara tersebut memiliki ruang kebijakan yang lebih terbatas dibanding bank sentral AS.
Namun, potensi koreksi dolar masih terbuka jika data ekonomi AS mulai melemah. Analis komoditas sekaligus founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan indeks DXY saat ini berpotensi menguji area resistansi di sekitar level 99.
“Jika data ekonomi AS mulai mendingin pada kuartal kedua, DXY berpeluang terkoreksi kembali ke kisaran 94–97,” kata Wahyu.
Pendapatan Ditargetkan Tumbuh 10%, Analis Sebut Target AKRA Terlalu Optimistis
Ia menambahkan, fokus pasar ke depan kemungkinan akan bergeser dari pertanyaan seberapa tinggi suku bunga akan naik menjadi seberapa cepat bank sentral akan mulai menurunkannya.
Dalam kondisi tersebut, mata uang yang bank sentralnya masih mempertahankan sikap ketat atau menunda pemangkasan suku bunga berpotensi kembali menguat.
Menurut Wahyu, peluang itu bisa datang dari kawasan Eropa jika European Central Bank (ECB) atau Bank of England (BoE) mulai mempertahankan kebijakan yang lebih stabil.