
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 17,34 triliun sepanjang 2025. Meski begitu, sejumlah saham menjadi incaran investor asing di tengah derasnya aliran dana yang keluar.
Berdasarkan data RTI, investor asing paling banyak mencatatkan net buy di saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar Rp 8,18 triliun sepanjang 2025. Disusul oleh saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan net buy Rp 7,44 triliun.
Asing juga mengakumulasi saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan masing-masing net buy Rp 6,46 triliun, Rp 5,93 triliun, dan Rp 5,77 triliun.
IHSG Awal Januari Bergerak Fluktuatif di Tengah Bayang-Bayang Geopolitik
Di sisi lain, asing terpantau banyak membuang saham-saham perbankan. Saham dengan nilai net sell paling besar ada di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang mencapai Rp 30,03 triliun.
Kemudian ada saham bank pelat merah yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang masing-masing membukukan net sell oleh investor asing sebesar Rp 16,98 triliun dan Rp 14,75 triliun.
Lalu ada saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang mencatatkan net sell oleh investor asing sebesar Rp 5,52 triliun. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga tak ketinggalan dijual asing dengan net sell Rp 5,04 triliun.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory Ekky Topan menilai saham-saham yang menjadi primadona investor asing di 2025 berpotensi dilirik kembali pada 2025, terutama emiten yang memiliki growth story.
Dia mencermati pola akumulasi asing ke depan terlihat mulai bergeser. Sebelumnya, asing cenderung defensif dan parkir di saham-saham besar, kini mulai terlihat ketertarikan ke emiten yang memiliki cerita pertumbuhan kuat.
“Akumulasi asing pada saham berbasis story ini sering kali bersifat taktis dan jangka pendek sehingga tidak menutup kemungkinan posisi dilepas dengan cepat ketika target tercapai atau sentimen berubah,” katanya kepada Kontan akhir pekan lalu.
Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas Chory Agung Ramdhani mencermati saham-saham seperti IMPC, AMMN, ANTM, BREN, NCKL, dan BRMS mencerminkan minat asing pada sektor hilirisasi mineral dan energi terbarukan yang menjadi tema utama 2025.
Menurutnya, saham berbasis komoditas mineral emas dan tembaga masih punya peluang besar kembali diborong asing dengan katalis harga emas yang diproyeksi tetap perkasa dan permintaan tembaga untuk kebutuhan industri hijau global.
January Effect Membuka Peluang IHSG Bergerak Positif
“Catatan untuk BREN dan IMPC, saham-saham ini sudah reli sangat tinggi. Di 2026, asing mungkin akan lebih selektif. Potensi net buy tetap ada, tetapi intensitasnya mungkin berkurang,” kata Chory.
Chory bilang masuknya investor asing kepada saham telekomunikasi dan otomotif di akhir 2025 menunjukkan antisipasi pemulihan konsumsi. Jika suku bunga turun konsisten, saham ini justru berpotensi menjadi top picks utama asing karena fundamental yang undervalued.
Potensi di 2026
Sementara itu, Chory menilai fenomena net sell pada raksasa perbankan (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) dan konsumer (ICBP, KLBF) sepanjang 2025 sebenarnya lebih disebabkan oleh strategi rebalancing portofolio asing, bukan karena pelemahan fundamental.
Dia optimistis akan terjadi pembalikan arah masif (net buy) pada saham-saham Big Banks di awal 2026. Proyeksi tersebut berasal dari sentimen dividend hunting oleh pelaku pasar.
“Dengan laba tahun 2025 yang diproyeksi tetap tumbuh solid, asing tidak akan mau melewatkan yield dividen yang menarik di awal tahun ini,” ucap Chory.
Chory juga memproyeksikan saham konsumer akan kembali menjadi incaran asing sebagai aset defensif jika volatilitas global meningkat, ditambah lagi dengan sentimen perbaikan daya beli domestik tahun ini.
“Untuk sektor ini, asing mungkin masih akan cenderung wait and see atau tetap net sell terbatas karena adanya transisi global ke energi hijau, sehingga pergerakannya akan sangat bergantung pada harga batu bara harian,” katanya.
Setali tiga uang, Ekky menyebut saham-saham yang sepanjang 2025 mencatatkan net sell besar justru membuka peluang pembalikan di 2026. Menurutnya, saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI mengalami tekanan jual asing lebih karena faktor makro.
IHSG Berpotensi Lanjut Menguat pada Senin (5/1/2026), Cermati Sentimen Penggeraknya
“Memasuki 2026, dengan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dan stabilisasi kondisi makro, bank-bank besar justru berpeluang kembali menjadi target akumulasi asing,” ucapnya.
Ekky menilai di antara keempat saham perbankan jumbo itu, BMRI dan BBRI terlihat paling menarik karena valuasinya sudah relatif murah secara historis dan memiliki leverage paling besar terhadap pemulihan pertumbuhan kredit.
Menurutnya, dari saham-saham yang dibeli maupun dijual asing, ada sejumlah saham yang masih layak dicermati, yakni BMRI dan BBRI untuk tema rebound sektor perbankan.
Kemudian, UNTR dan ANTM untuk eksposur komoditas yang lebih defensif dan berarus kas kuat, serta AMMN bagi investor dengan profil risiko lebih agresif yang membidik pertumbuhan jangka menengah.
“TLKM dan ASII juga menarik untuk dipantau sebagai kandidat re-entry asing, terutama jika ada katalis nyata berupa perbaikan kinerja inti dan efisiensi,” kata Ekky.