Saham BMRI, JPFA, dan AKRA seret Indeks Bisnis-27 ke zona merah

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka di zona merah pada perdagangan hari ini, Senin (11/5/2026), di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang hasil review indeks MSCI bulan Mei 2026. Saham BMRI, JPFA, dan AKRA menjadi penekan utama indeks.

Berdasarkan data IDX Mobile pada pukul 09.05 WIB, indeks hasil kerja sama Bursa Efek Indonesia dan Harian Bisnis Indonesia itu melemah 0,97% ke level 468,91.

Sebanyak 10 saham konstituen tercatat melemah, 16 saham menguat, dan 1 saham bergerak stagnan.

: Indeks Bisnis-27 Ditutup Melemah, Saham INCO-BRMS ke Zona Merah

Tekanan terbesar datang dari saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang turun 7,34% ke level Rp4.290. Selanjutnya, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) melemah 5,10% ke level Rp2.420 dan saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) terkoreksi 3% ke level Rp1.455.

Pelemahan juga terjadi pada saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang turun 2% ke level Rp735 dan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang melemah 1,72% ke level Rp570.

: : Saham ANTM, BRMS, hingga KLBF Bawa Indeks Bisnis-27 Dibuka Melemah

Di sisi lain, sejumlah saham masih mencatatkan penguatan. Saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) naik 2,06% ke level Rp1.485, disusul saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang menguat 1,84% ke level Rp5.525.

Selanjutnya, saham PT Astra International Tbk. (ASII) naik 1,29% ke level Rp5.900, sementara saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menguat 1,21% ke level Rp6.250.

: : Indeks Bisnis-27 Ditutup Hijau Ditopang Saham MBMA, AMRT dan BRMS

Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai perkembangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama investor global, terutama di tengah kondisi gencatan senjata AS-Iran yang dinilai rentan.

Investor juga mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat, baik CPI maupun PPI, di tengah perbedaan pandangan internal The Fed terkait arah kebijakan suku bunga.

Dari Asia, pasar menanti rilis data agregat moneter serta inflasi konsumen dan produsen di China. Selain itu, perhatian investor tertuju pada agenda pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026.

Pertemuan tersebut diperkirakan membahas sejumlah isu strategis mulai dari perang AS-Iran, perdagangan global, logam tanah jarang, hingga keamanan kawasan.

Sementara itu, dari domestik, sentimen negatif datang dari rencana pemerintah menaikkan tarif royalti progresif terhadap sejumlah komoditas logam seperti nikel, tembaga, emas, perak, dan timah.

Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan sektor basic materials yang selama ini menjadi salah satu penopang utama IHSG. Namun di sisi lain, kenaikan tarif royalti juga diperkirakan dapat meningkatkan penerimaan negara.

Pada pekan ini, investor turut mencermati sejumlah data ekonomi domestik seperti indeks keyakinan konsumen, retail sales, dan penjualan sepeda motor.

Selain itu, pasar juga menunggu hasil review kuartalan MSCI yang dijadwalkan diumumkan pada 12 Mei 2026.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.