
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Dengan ragam rancangan dan strategi investasi, investor dinilai masih memiliki peluang besar untuk mencetak imbal hasil yang mampu melampaui laju inflasi.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir inflasi tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2023 yang mencapai 5,3%, sedang inflasi terendah pada tahun 2024 yang tercatat sebesar 1,6%. Secara rata-rata, inflasi tahunan dalam 10 tahun terakhir adalah 2,9%.
Infovesta mencatat, pertumbuhan inflasi Indonesia bila diakumulasikan sepanjang 10 tahun terakhir sebesar 32%. Artinya, agar daya beli tidak tergerus, investor perlu mencetak return dari portofolio mereka minimal setara angka tersebut dalam satu dekade.
The Fed Tahan Bunga, Rupiah Menguat ke Rp 16.800 per Dolar AS
Sebenarnya, pertumbuhan inflasi tersebut cenderung rendah secara historis, karena pertumbuhan ekonomi juga melambat. Menurut Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto, level tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit dilampaui oleh oleh investor.
“Kalau menggunakan indikator inflasi 32% dalam 10 tahun atau sekitar 3,2% per tahun, saya kira tidak terlalu susah. Rata-rata obligasi ritel saja imbal hasilnya di atas 4%, jadi dengan investasi di obligasi ritel sudah bisa mengalahkan inflasi,” ujar Eko kepada Kontan, Rabu (25/2/2026).
Ia menekankan, kunci utama adalah memastikan dana tidak mandek di tabungan atau justru terjebak investasi bodong. Selama dana ditempatkan pada instrumen yang tepat, peluang menghasilkan return riil positif masih terbuka.
Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, Eko merekomendasikan investor untuk menyusun portofolio sesuai profil risiko.
Untuk investor konservatif, ia menyarankan alokasi sekitar 20% di tabungan dan deposito, 50% di obligasi, serta 30% di emas.
Sementara untuk investor moderat, komposisi bisa diarahkan sekitar 20% di deposito, 40% di emas, dan sisanya di saham.
Adapun investor agresif dapat menempatkan sekitar 10% pada tabungan dan deposito, 30% di emas, serta porsi terbesar pada saham, properti, atau aset kripto.
Meski demikian, Eko mengingatkan investor tetap perlu mencermati berbagai sentimen makro agar portofolio tetap on track melampaui inflasi. Kepastian ekonomi dan kejelasan program pemerintah menjadi faktor penting yang mempengaruhi arah investasi.
Kejar Return Lampaui Inflasi, Investor Masih Terjebak Ilusi Nominal
Dalam kondisi yang belum pasti, ia menyarankan investor mengurangi eksposur pada sektor yang likuiditasnya rendah, seperti properti.
Sebagai gantinya, investor dapat mencari instrumen alternatif yang memberikan potensi imbal hasil setara properti, namun dengan tingkat likuiditas yang lebih baik.