
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dan tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dipicu sentimen pembentukan badan ekspor pemerintah maupun defisit neraca perdagangan.
Pernyataan itu disampaikan Airlangga usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).
Menanggapi pertanyaan wartawan mengenai pandangan ekonom yang menilai pasar saham dan rupiah tertekan akibat kebijakan badan ekspor serta kondisi perdagangan luar negeri, Airlangga menegaskan kondisi pasar masih dalam batas wajar.
: Airlangga Sebut Asosiasi Batu Bara hingga Sawit Sambut Positif Pembentukan DSI Danantara
“Pertama lihat IHSG hari ini hijau,” ujar Airlangga.
Menurut dia, pergerakan IHSG sebelumnya lebih dipengaruhi faktor koreksi pasar setelah adanya perubahan terkait sejumlah emiten yang keluar dari lembaga pemeringkat.
“Sebetulnya IHSG itu kan kemarin ada indeks daripada emiten yang keluar dari apa namanya lembaga rating. Nah, tentu koreksi itu suatu hal yang wajar, ada koreksi di market,” katanya.
Airlangga juga secara tegas menepis dugaan bahwa tekanan di pasar keuangan berasal dari sentimen pembentukan badan ekspor maupun kondisi neraca perdagangan Indonesia.
“Tidak. Tidak,” ujarnya singkat saat ditanya apakah pelemahan pasar dipicu isu tersebut.
Sebelumnya, pemerintah tengah menyiapkan skema sentralisasi ekspor melalui PT Danantara Sumber Daya Industri (DSI) untuk sejumlah komoditas strategis, termasuk mineral dan minyak sawit. Kebijakan itu sempat memunculkan kekhawatiran sebagian pelaku pasar terkait dampaknya terhadap perdagangan dan arus devisa.
Namun pemerintah memastikan kebijakan tersebut dirancang untuk memperkuat pengelolaan devisa hasil ekspor serta meningkatkan koordinasi perdagangan komoditas strategis nasional.