Bank Jakarta menuju IPO, pasang target laba Rp 1 triliun pada 2026

Bank Jakarta menargetkan langkah strategis menuju penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), seiring dengan penetapan target laba sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2026.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus Haryoto Widodo, menyampaikan bahwa tahun 2026 diproyeksikan sebagai fase eksekusi setelah bank melakukan penguatan struktural sepanjang 2025.

“Achieve One Thousand One berarti komitmen target laba tahun 2026 sebesar Rp1 triliun sebagai milestone penting untuk membangun rekam jejak kinerja yang sehat dan kredibel, yang sekaligus menyiapkan Bank Jakarta untuk naik kelas,” ujar Agus dalam agenda Rapat Kerja Bank Jakarta Tahun 2026 di Ballroom 1 Hotel Pullman, Jakarta Barat, Kamis (22/1).

Ia menjelaskan, capaian laba bersih Bank Jakarta pada 2025 tercatat Rp 345 miliar, yang dipengaruhi oleh langkah konsolidasi internal, termasuk penguatan pencadangan serta investasi besar pada teknologi informasi dan keamanan siber.

“Kami memandang ini sebagai biaya transisi dan investasi institusional agar Bank Jakarta lebih kuat, lebih aman, dan lebih berkelanjutan,” katanya.

Agus menambahkan, untuk mendukung target laba dan kesiapan IPO, Bank Jakarta menetapkan empat prioritas strategis pada 2026, yakni penguatan pendanaan dengan CASA di atas 50 persen, penurunan NPL gross di bawah 2 persen, peningkatan fee based income hingga 11 persen, serta penyesuaian portofolio kredit agar lebih granular dengan porsi UMKM dan konsumer sekitar 60 persen.

Selain itu, Bank Jakarta juga menyiapkan langkah korporasi berupa penyesuaian Anggaran Dasar guna mendukung peningkatan modal dasar sebagai bagian dari persiapan IPO.

“Arah dan dukungan Pemprov akan sangat menentukan kelancaran tahapan persiapan ini. Untuk kajian naskah akademik juga sudah kami selesaikan,” ujar Agus.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa IPO merupakan langkah strategs untuk mendorong transparansi dan profesionalisme Bank Jakarta.

“Kalau mau IPO, maka mempunyai rekam jejaknya itu betul-betul harus terbuka. Sehingga dengan demikian, kalau ada investor mau meng-appraisal kinerja Bank Jakarta, enggak ada yang disembunyikan,” kata Pramono.

Ia juga menilai target laba Rp 1 triliun seharusnya bisa dilampaui, mengingat besarnya dana yang dikelola Bank Jakarta.

“Tadi juga dilaporkan, dana yang ada gede banget yang dikelola. Kalau untungnya cuma 1 triliun, Pak Dirut? Biasa-biasa aja, enggak istimewa,” ujarnya.

Pramono menekankan pentingnya penguatan corporate culture, efisiensi, dan kepercayaan publik sebagai fondasi menuju IPO.

“Kata kunci dari dunia usaha dan dunia bisnis itu adalah trust. Saya membayangkan, kalau perusahaan ini sudah bisa membangun trust-nya, maka yang menjadi nasabah utamanya itu bukan lagi pemerintah DKI Jakarta. Yang menjadi nasabahnya adalah publik,” tegasnya.

Dengan konsolidasi kinerja dan penguatan tata kelola pada 2026, Bank Jakarta ditargetkan mampu melantai di bursa serta menjadi bank daerah yang kompetitif dan dipercaya publik.

Reporter: Jeni Ritanti