
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) terpukul sentimen negatif bertubi-tubi, mulai dari tensi geopolitik di Timur Tengah hingga revisi outlook Indonesia dari Fitch Ratings. Namun, kondisi saat ini dapat dimanfaatkan oleh investor untuk memburu saham-saham dengan fundamental solid yang terdiskon.
Chief Investment Officer Korea Investment Management (KIM) Indonesia Barkah Supriadi mengatakan di tengah kondisi pasar saham yang sedang lesu, investor dapat menyesuaikan durasi investasi dengan risiko yang berani dipertaruhkan.
Bagi investor jangka pendek, strategi yang direkomendasikan adalah memilih saham-saham defensif, lebih selektif, dan melakukan diversifikasi portofolio. Sebaliknya, bagi investor jangka panjang, momentum koreksi dinilai dapat dimanfaatkan untuk memburu saham dengan fundamental kuat yang defensif.
”Koreksi pasar saat ini bisa menjadi momentum akumulasi dengan catatan tetap disiplin pada manajemen risiko dan fokus pada sektor defensif serta emiten dengan rekam jejak dividen yang konsisten,” katanya kepada Bisnis, Rabu (4/3/2026).
: Pilah-pilih Saham Migas dan Komoditas di Pusaran Konflik Timur Tengah, Ada RAJA hingga PTBA
Barkah menilai bahwa momentum koreksi yang hampir bersamaan dengan musim pembagian dividen, dapat menguntungkan investor jangka menengah—panjang untuk mengakumulasi saham murah dengan kebijakan dividen yang konsisten.
Barkah pun merekomendasikan saham-saham berbasis komoditas seperti energi dan pertambangan menarik lantaran harga minyak dan emas yang cenderung menguat di tengah volatilitas pasar keuangan global.
”Fokus pada saham dengan fundamental kuat, terutama sektor yang relatif tahan terhadap gejolak global, misalnya konsumer primer, kesehatan, dan telekomunikasi,” sarannya.
Dia melihat bahwa kondisi volatilitas tinggi ini hanya bersifat sementara. Rilis kinerja emiten yang positif disebut menjadi katalis penting bagi pemulihan IHSG secara jangka pendek. Namun, pemulihan yang berkelanjutan akan bergantung pada kombinasi ketegangan geopolitik yang memudar dan kondisi fiskal dalam negeri.
”Dengan fundamental emiten yang relatif kuat, peluang rebound tetap terbuka, meski volatilitas jangka pendek masih tinggi,” katanya.
Sementara itu, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menilai pasar secara jangka pendek masih akan dipengaruhi oleh tensi geopolitik yang belum mereda, yang diikuti kekhawatiran terhadap penutupan Selat Hormuz. Belum lagi, pemangkasan outlook oleh Fitch menjadi negatif berpotensi mendorong kekhawatiran pasar yang lebih tinggi.
”Kedua, kenaikan harga komoditas energi seperti crude oil, brent, dan batu bara berdampak pada emiten energi di Bursa Efek Indonesia,” katanya.
Di tengah kondisi ini, saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) direkomendasikan speculative buy dengan resistance pada level Rp2.220 per saham. Begitu juga dengan PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) direkomendasikan speculative buy dengan resistance pada level Rp3.310 per saham.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.