Bikin ngerti soal MSCI dan saham gorengan yang buat dirut BEI mundur

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Dirut Bursa Efek Indonesia (IDX) Iman Rachman mundur di tengah krisis ambruknya harga saham Indonesia dalam tiga hari terakhir. Iman mundur pada Jumat (30/1/2026) pagi, setelah menjabat sebagai dirut IDX sejak 29 Juni 2022. Masa jabatan Iman memang bakal berakhir pada tengah tahun ini.

Iman mundur di tengah situasi sentimen negatif investor asing dan dalam negeri atas keterbukaan bursa Indonesia. Ini menyusul surat Morgan Stanley Capital International (MSCI) atas IDX dan Kustodian Sentral Efek Indonesia soal data pemegang saham publik dari saham-saham di IDX.

Untuk lebih mudah memahami konteksnya berikut analogi MSCI dan situasi indeks harga saham Indonesia terkini: Morgan Stanley Capital International adalah salah satu tangan dari Morgan Stanley, bank investasi asal Amerika Serikat. Morgan Stanley ini adalah bank besar yang pekerjaan utamanya mengelola harta konglomerat untuk diinvestasikan kembali ke seluruh dunia yang menawarkan imbal hasil mbesar.

Selain itu, Morgan Stanley juga jadi penasihat merger dan akuisisi perusahaan, ikut bermain saham-obligasi-produk keuangan lainnya, mengelola aset reksadana triliunan dolar AS. Singkat kata: Morgan Stanley adalah pemain pasar keuangan internasional.

Nah MSCI adalah awalnya bagian dari Morgan Stanley. Namun di tengah jalan, melepaskan diri dan menjadi entitas bisnis sendiri. Apa sih tugas MSCI? Ssderhananya: pembuat rapor pasar saham dunia. Mereka bikin indeks saham global, menilai peluang investasi di seluruh negara, menentukan standar transparansi, likuiditas dan akses pasar.

Karena itu, bilamana MSCI ngomong, maka pasar mendengarkan dengan saksama, karena investor menganggap standar MSCI adalah salah satu yang terbaik. Kalau MSCI kasih sinyal negatif ke negara atau pasar saham, maka dana investor triliunan dolar AS bisa pindah, rem mendadak, atau menahan diri.

Nah, sekarang analogi sederhananya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seperti sebuah rumah konten kreator yang isinya influencer (saham-saham emiten). Selama ini rating rumah konten kreator IHSG bagus banget, selalu tinggi. Karena ada ‘top influencer’ (saham big cap tertentu) yang follower nya jutaan dan engagement-nya gila-gilaan. Harga endorse mereka ini mahal banget.

Masuklah MSCI sebagai agensi internasional super elit yang mengatur standar siapa influencer yang layak dapat endorse global (dana asing). Tapi MSCI mencium ada bau yang aneh dari rumah IHSG. “Eh, kok ada top influencer di rumah ini yang followers nya kayak bot semua. Valuasi (saham) ketinggian yang aslinya nggak seterkenal itu deh (free float saham publik padahal sedikit).

MSCI menganggap ada red flag di IHSG. Dia kirim surat ke pengelola rumah konten kreator (IDX). Nadanya mengancam untuk blacklist atau menurunkan ranking rumah kreator ini. Gara-gara ini dan belum ada tindakan dari IDX terkait pernyataan MSCI, maka investor asing yang tadinya mau endorse di rumah IGSG jadi ‘fomo’ cabut (jual saham) karena takut ada tipu-tipu. Inilah sentimen negatif yang membuat indeks dalam dua hari anjlok dari tadinya 8.900 poin ke 7.500 poin, sebelum akhirnya rebound kembali.

Red flag yang disebut MSCI ini adalah ‘saham gorengan’ yang kemarin juga disebut oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ini macam influencer biasa saja, yang disuntik followers palsu (harga saham dinaikkan) biar kelihatan hype. Tapi saat diaudit MSCI, ketahuan itu bubble dan manipulatif secara harga dan pemilik.

Efek kejut ini memang bikin investor pusing. Harga saham ambruk. Dirut BEI mundur. Tapi juga bikin otoritas saham bersih-bersih kembali dari saham gorengan dan data-data pemegang sahamnya. Sementara fundamental ekonomi Indonesia yang tercermin di bursa efek, diyakini Menkeu Purbaya maupun Menko Perekonomian Airlangga Hartarto tetap kuat. 

Artikel ini dibuat dengan bantuan akal imitasi dan melewati proses penyuntingan redaksi.