BNBR rancang rights issue 90 miliar saham baru usai akuisisi Tol Cimanggis-Cibitung

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) tengah menyiapkan rencana penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue sebagai bagian dari penguatan struktur pendanaan pascaakuisisi jalan tol Cimanggis–Cibitung.

Dalam keterbukaan informasi, manajemen BNBR menyampaikan bahwa rencana PMHMETD tersebut akan dimintakan persetujuan kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Februari 2026.

Corporate Secretary BNBR Christofer A. Uktolseja menyatakan bahwa keterbukaan informasi ini disampaikan dalam rangka memenuhi ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait penambahan modal dengan HMETD.

: Seberapa Jauh Saham Grup Bakrie BNBR, DEWA Cs Ngegas Awal Tahun?

“Seluruh informasi yang dimuat dalam Keterbukaan Informasi ini hanyalah merupakan usulan, yang tunduk kepada persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham, pernyataan pendaftaran PMHMETD dinyatakan efektif oleh OJK, serta prospektus yang akan diterbitkan dalam rangka PMHMETD,” ujar Christofer di keterbukaan informasi, dikutip Selasa (20/1/2026).

BNBR menilai pelaksanaan PMHMETD perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar serta kinerja perseroan, termasuk proyeksi kinerja dari aset strategis yang baru diakuisisi melalui entitas terkendali, PT Bakrie Toll Indonesia, yakni PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) pada 2025.

: : Pesta Cuan Saham Grup Bakrie Awal 2026, BNBR Naik Lebih dari 60%

“Dengan demikian, Perseroan menilai perlu untuk melaksanakan PMHMETD dalam rangka optimalisasi struktur pendanaan terkait Pengambilalihan CCT serta mendukung modal kerja dan pengembangan usaha Perseroan dan CCT,” jelas Christofer.

Dalam rencana tersebut, BNBR berpotensi menerbitkan sebanyak-banyaknya 90 miliar saham baru Seri E dengan nilai nominal Rp12 per saham yang berasal dari saham portepel. Saham baru tersebut nantinya akan dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

: : Penyebab Ramai Emiten Lakukan Aksi Akuisisi pada 2025, dari ASII hingga BNBR

Pelaksanaan PMHMETD akan dilakukan setelah perseroan memperoleh persetujuan RUPSLB dan pernyataan pendaftaran dinyatakan efektif oleh OJK. Mengacu pada POJK, jangka waktu antara persetujuan RUPSLB hingga efektifnya pernyataan pendaftaran paling lama 12 bulan.

Adapun dana yang diperoleh dari PMHMETD, setelah dikurangi biaya emisi, direncanakan untuk pembayaran kewajiban perseroan dan/atau entitas anak kepada kreditur, serta untuk modal kerja dan pengembangan usaha.

Manajemen BNBR meyakini rencana penambahan modal ini akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan, termasuk memperbaiki struktur permodalan dan meningkatkan fleksibilitas pendanaan. Namun demikian, perseroan juga mencatat bahwa pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga maksimal 33,33%.

Bakrie & Brothers Tbk – TradingView

BNBR Rampungkan Akuisisi Tol Cimanggis–Cibitung

Sebelumnya, pada akhir November 2025, BNBR melalui PT Bakrie Toll Indonesia merampungkan akuisisi 90% saham PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan PT Waskita Toll Road (WTR) dengan nilai transaksi Rp3,56 triliun.

Akuisisi ini dipandang sebagai upaya memperkuat struktur arus kas perseroan melalui pendapatan berulang jangka panjang.

Direktur BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti menilai CCT akan memberikan kontribusi arus kas yang kuat sekaligus memperkokoh posisi BNBR di sektor infrastruktur.

“[Akuisisi jalan tol] sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang perseroan. Tujuan kami lainnya adalah optimalkan sinergi usaha atas aset jalan tol, dan dorong kontribusi atas kinerja konsolidasi. Ditopang revenue stream yang kuat, maka kami akan mendapat profit stabil,” ujar Roy beberapa waktu lalau.

CCT mencatatkan lalu lintas harian rata-rata sebanyak 42.760 kendaraan per November 2025, dengan pendapatan sekitar Rp2,3 miliar per hari. Karakteristik pendapatan yang relatif stabil inilah yang menjadi daya tarik utama aset jalan tol bagi BNBR.

Wakil Direktur Utama BNBR A. Ardiansyah Bakrie menyebut perseroan belum memikirkan langkah akuisisi lanjutan jalan tol, namun menilai CCT memiliki prospek menjanjikan.

“Akan tetapi, kami lihat kalau CCT prospeknya menjanjikan, karena jalan tol memberikan suatu recurring income [pendapatan berulang] perseroan di masa depan,” kata Ardi.

Ia juga menegaskan posisi strategis tol Cimanggis–Cibitung dalam jaringan Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2, yang berpotensi mendorong peningkatan lalu lintas seiring pesatnya pengembangan kawasan industri, logistik, dan perumahan.

“Jalan tol ini sebagai penghubung penting kawasan Selatan dan Timur Jabodetabek,” ujarnya.

______

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.