Cek saham jagoan analis pekan ini saat IHSG risiko koreksi lanjutan

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan masih tertekan. Di sisi lain, perdagangan pekan ini hanya akan berlangsung selama tiga hari karena ada libur dan cuti bersama Hari Raya Iduladha 27-28 Mei 2026.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG berada di level 6.162 usai terpangkas 8,35% sepanjang 18-22 Mei 2026. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari, menjelaskan bahwa secara teknikal IHSG masih bergerak jauh di bawah SMA-50 di area 7.166 yang mengindikasikan tren pelemahan jangka menengah masih dominan.

“Momentum indeks juga masih relatif lemah tercermin dari indikator MACD yang bertahan di area negatif dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat, sehingga penguatan yang terjadi sejauh ini masih dinilai sebagai rebound teknikal dan belum mengonfirmasi perubahan tren utama,” ujar Brigita, Senin (25/5/2026).

: IHSG Dibuka Menguat ke 6.179, Saham SCMA, ISAT dan BBRI Pimpin Reli

Menurutnya, penguatan indeks komposit sebesar 1,10% pada perdagangan Jumat (22/5) masih dibayangi volatilitas tinggi menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026, terutama pada saham-saham big caps yang masih berpotensi mengalami tekanan jual.

Pasar juga diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan volatilitas tinggi pada rentang support 5.996–5.899 dan resistance 6.318–6.459.

Dia menambahkan, area 5.899 akan menjadi level penting untuk menjaga peluang rebound jangka pendek, sementara pergerakan di atas 6.318 berpotensi membuka ruang penguatan lanjutan. 

“Meski demikian, tekanan jual diperkirakan mulai mereda setelah periode rebalancing berakhir, sehingga membuka peluang bagi IHSG untuk bergerak lebih stabil secara bertahap, terutama apabila rupiah tetap terjaga dan sentimen global membaik seiring perkembangan negosiasi AS–Iran yang berpotensi menurunkan tekanan pada harga energi dan yield US Treasury,” jelasnya.

Di tengah tekanan pasar yang belum mereda, IPOT Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham dan reksa dana untuk rekomendasi trading pekan ini. Berikut adalah rekomendasi IPOT Sekuritas

: : IHSG Turun 8,35% Sepekan, Saham SMMA, CPIN hingga MYOR Jadi Top Leaders

1. Buy MDKA 

  • Entry: Rp2.720
  • Target price: Rp3.000
  • Stop loss: Rp2.610

Secara teknikal, MDKA secara price structure berhasil ditutup di atas EMA5 disertai spike volume, mengindikasikan momentum rebound jangka pendek mulai terbentuk. Sentimen juga didukung aksi akumulasi asing dengan net buy mencapai Rp691 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga membuka peluang penguatan lanjutan selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat. 

2. Buy BTPN

  • Entry: Rp2.380 
  • Target price: Rp2.530
  • Stop loss: Rp2.310

Brigita menjelaskan saat ini harga saham BTPN bergerak uptrend dan masih konsisten bertahan di atas EMA5 hingga EMA50, mencerminkan momentum kenaikan yang masih terjaga. Pergerakan saham juga didukung aksi akumulasi asing dengan net buy sebesar Rp2,3 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga membuka peluang penguatan lanjutan selama harga mampu bertahan di area support terdekat. 

3. Buy ULTJ

  • Entry: Rp1.635 
  • Target price: Rp1.725 
  • Stop loss: Rp1.590

Pergerakan ULTJ membentuk pola higher low (HL) dengan rebound di area EMA50, mengindikasikan tekanan jual mulai mereda dan peluang rebound jangka pendek mulai terbuka. 

“Momentum penguatan juga mulai terkonfirmasi dari indikator MACD yang bergerak naik dan mengarah ke area bullish crossover, sehingga memperbesar potensi lanjutan kenaikan selama harga bertahan di atas support terdekat,” jelasnya.

4. Buy reksa dana saham premier ETF IDX High Dividend 20 (XIHD)

Brigita menilai power fund series (PFS) berkode XIHD menawarkan strategi income investing yang efisien melalui eksposur ke 20 saham Indonesia dengan dividend yield tinggi dan fundamental yang relatif solid. 

Menurutnya, ETF ini cocok di tengah pasar yang volatil karena mampu mengkombinasikan potensi pendapatan dividen yang stabil dengan peluang capital gain sekaligus solusi praktis bagi investor yang ingin menikmati imbal hasil dividen tanpa perlu melakukan stock picking. 

“Kenaikan BI rate ke 5,25% berpeluang membawa dampak positif ke sektor perbankan yang mendominasi sekitar 45,6% bobot XIHD. Hal ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerjanya sekaligus meningkatkan daya tarik yield saham dalam XIHD dibandingkan instrumen fixed income,” tandasnya.

___________

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.