CoinShares: Hanya 10.000 bitcoin yang berisiko diserang komputer kuantum

Ussindonesia.co.id  Manajer aset digital CoinShares meredam kekhawatiran bahwa perkembangan komputasi kuantum akan segera mengguncang pasar Bitcoin.

Melansir Cointelegraph Senin (9/2/202), menurut CoinShares, hanya sebagian kecil Bitcoin yang saat ini berada pada tingkat risiko yang layak menjadi target serangan.

Dalam unggahan pada Jumat (6/2/2026), Christopher Bendiksen, kepala riset Bitcoin CoinShares menyatakan, hanya 10.230 Bitcoin (BTC) dari sekitar 1,63 juta BTC yang tersimpan di alamat dompet dengan kunci kriptografi terbuka dan berpotensi rentan terhadap serangan komputer kuantum.

Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 16.872 Per Dolar AS Hari Ini (9/2), Asia Bervariasi

Sekitar 7.000 BTC tersimpan di dompet dengan kepemilikan 100–1.000 BTC, sementara 3.230 BTC lainnya berada di dompet berisi 1.000–10.000 BTC.

Dengan harga pasar saat ini, total nilai Bitcoin yang berisiko tersebut mencapai sekitar US$719,1 juta, yang menurut Bendiksen bahkan masih sebanding dengan nilai transaksi rutin di pasar.

Sementara itu, sisa 1,62 juta BTC disimpan di dompet dengan kepemilikan di bawah 100 BTC.

Bendiksen menilai setiap dompet semacam itu akan membutuhkan waktu ribuan tahun untuk diretas, bahkan dalam “skenario paling optimistis dan ekstrem” terkait kemajuan teknologi komputasi kuantum.

Ia menjelaskan bahwa risiko tersebut bersifat teoretis, terutama terkait algoritma kuantum seperti Shor’s algorithm, yang secara teori dapat mematahkan tanda tangan eliptik Bitcoin, serta Grover’s algorithm, yang dapat melemahkan sistem enkripsi SHA-256.

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (9/2): Naik Rp 20.000 Jadi Rp 1.940.000 Per Gram

Namun demikian, Bendiksen menegaskan algoritma tersebut tidak akan mampu mengubah batas suplai Bitcoin sebesar 21 juta koin, maupun menembus mekanisme proof-of-work, yang menjadi fondasi utama jaringan Bitcoin.

Kekhawatiran terhadap komputasi kuantum telah menjadi salah satu sumber FUD (fear, uncertainty, doubt) di pasar kripto dalam beberapa bulan terakhir.

Para pengkritik menilai kompromi terhadap kriptografi Bitcoin dapat mengancam jaringan yang saat ini mengamankan nilai sekitar US$1,4 triliun.

Bitcoin yang dianggap berisiko tersebut berada dalam bentuk unspent transaction outputs (UTXO), yakni unit Bitcoin yang terkait dengan alamat dompet dan belum pernah dibelanjakan. Banyak di antaranya berasal dari era Satoshi, periode awal kelahiran Bitcoin.

Isu ini memicu perdebatan di komunitas Bitcoin, khususnya soal apakah jaringan perlu segera melakukan hard fork yang tahan kuantum atau menunggu perkembangan teknologi lebih lanjut.

Permintaan CPO Masih Tinggi, Emiten Sawit Masih Prospektif di Tahun 2026

Tokoh-tokoh seperti Michael Saylor (Chairman Strategy) dan Adam Back (CEO Blockstream) menilai ancaman komputasi kuantum terlalu dibesar-besarkan dan tidak akan mengganggu jaringan Bitcoin dalam beberapa dekade ke depan.

Bendiksen sependapat, menyebut Bitcoin saat ini “jauh dari wilayah berbahaya”.

Ia menambahkan, membobol kriptografi Bitcoin akan membutuhkan jutaan qubit tahan-gangguan, jauh melampaui kemampuan komputer kuantum terkini, termasuk milik Google yang baru mencapai sekitar 105 qubit.

“Perkembangan terbaru, termasuk demonstrasi dari Google dan pihak lain, memang menunjukkan kemajuan, tetapi masih jauh dari skala yang dibutuhkan untuk serangan nyata terhadap Bitcoin,” ujarnya.

Namun, pandangan berbeda datang dari Charles Edwards, pendiri Capriole Investments, yang menyebut komputasi kuantum sebagai potensi ancaman eksistensial bagi Bitcoin.

Ia menilai peningkatan sistem keamanan perlu dilakukan sekarang, dan memperkirakan harga Bitcoin bisa melonjak signifikan setelah solusi tersebut diterapkan.

Sejumlah peneliti, termasuk Jonas Nick dari Blockstream, menyebut salah satu opsi mitigasi adalah adopsi tanda tangan kriptografi pasca-kuantum.