Sentimen Moody’s hingga MSCI tekan IHSG, ini rekomendasi saham pekan ini

Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Sejumlah sentimen mulai dari Moody’s hingga MSCI menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan kemarin. Sejumlah saham menjadi rekomendasi di tengah tekanan tersebut pada pekan ini.

Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menjelaskan IHSG pekan lalu terkoreksi cukup dalam sebesar 4,73% ke level 7.935, diikuti oleh outflow di pasar reguler sebesar Rp1,2 triliun.

“Sentimen MSCI yang memberikan ancaman Indonesia akan masuk ke frontier market jika tidak dapat memenuhi permintaan MSCI terkait transparansi pemegang saham masih menjadi penyebab utama. Selain itu, pasar juga dipengaruhi oleh berbagai sentimen, baik global maupun domestik,” ujar Imam.

: Outlook IHSG 2026 di Tengah Bayang-Bayang Downgrade MSCI

Dari global, Imam melihat terdapat sentimen yang berasal dari geopolitik AS-Iran, hingga ketegangan perang dagang AS-India.

Sementara itu, dari domestik, ada sentimen Moody’s yang memangkas outlook Indonesia dan beberapa emiten. Moody’s mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, tetapi menurunkan outlook menjadi negatif karena meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya prediktabilitas, serta koordinasi pemerintah yang dinilai berisiko menggerus kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor, meski fundamental ekonomi masih relatif solid dengan pertumbuhan sekitar 5%, defisit fiskal terjaga di bawah 3% PDB, dan rasio utang pemerintah yang tetap rendah.

Adapun memasuki pekan 9-13 Februari 2026, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, China, dan Indonesia yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global maupun domestik.

Dari Amerika Serikat, data inflasi menjadi sorotan utama dengan proyeksi penurunan ke level 2,5% yoy dari 2,7% yoy pada periode sebelumnya, yang dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter The Fed.

Selain itu, initial jobless claims diperkirakan berada di kisaran 235.000, sementara tingkat pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,4% mencerminkan pasar tenaga kerja yang mulai melandai.

Dari China, pasar akan mencermati rilis data inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 0,4% yoy dari 0,8% yoy, mengindikasikan tekanan permintaan domestik yang masih lemah dan ruang kebijakan yang lebih longgar bagi otoritas setempat. Data ini penting mengingat peran China sebagai mitra dagang utama Indonesia dan pengaruhnya terhadap sentimen komoditas global.

Di dalam negeri, fokus investor tertuju pada rilis penjualan ritel Desember 2025 sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun, serta data penjualan mobil Januari 2026 yang akan memberikan gambaran awal mengenai tren konsumsi dan permintaan domestik di awal tahun. Data-data ini akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di luar rilis data ekonomi, pasar juga masih akan mencermati perkembangan kebijakan Moody’s, khususnya dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalami penurunan outlook, mengingat potensi implikasinya terhadap persepsi risiko, biaya pendanaan, dan sentimen investor.

Secara keseluruhan, dengan masih tingginya faktor kehati-hatian global dan domestik, pergerakan pasar pada pekan ini diproyeksikan bervariasi cenderung melemah terbatas, dengan level support di 7.716 dan resistance di 8.207.

Adapun untuk pekan ini, Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi buy on pullback untuk saham PNLF, buy untuk saham ADRO, dan buy untuk PANI.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.