
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan di zona merah pada hari terakhir bulan Mei 2026.
Pada Jumat (29/5/2026), IHSG turun tipis 0,05% ke level 6.127,38. Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini telah anjlok 29,14%.
Tekanan pasar kali ini terutama dipicu oleh efektifnya rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berlaku pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026.
Dalam evaluasi terbaru, MSCI mengeluarkan 19 saham Indonesia dari berbagai indeksnya, memicu aksi jual dan meningkatkan volatilitas pasar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, sentimen rebalancing MSCI masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan IHSG pada akhir Mei.
IHSG Diproyeksi Lanjut Koreksi Usai Anjlok Kemarin, Cek Saham Rekomendasi Analis
“Volatilitas pasar masih relatif tinggi karena tanggal efektif rebalancing MSCI,” ujarnya kemarin.
Tekanan tersebut tercermin dari derasnya arus keluar dana asing. Hingga sesi pertama perdagangan, investor asing tercatat melakukan net sell sekitar Rp 1,6 triliun. Namun, hingga penutupan pasar, nilai jual bersih asing melonjak menjadi Rp 8,51 triliun.
Meski demikian, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai dampak rebalancing MSCI sebenarnya sudah mulai terserap pasar sejak pertengahan Mei.
Menurut dia, mayoritas manajer investasi telah melakukan penyesuaian portofolio secara bertahap sejak 12 Mei sehingga tekanan tidak terkonsentrasi pada satu hari perdagangan.
“Mayoritas fund manager sudah mencicil penyesuaian rebalancing MSCI sejak 12 Mei, sehingga tekanan tidak menumpuk dalam satu waktu,” kata Wafi.
Dengan meredanya tekanan rebalancing, Wafi melihat peluang stabilisasi pasar mulai terbuka pada pekan depan.
IDX Basic Materials Tumbuh Positif di Tengah Gejolak, Cek Saham Rekomendasi Analis
Secara teknikal, ia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang terbatas dengan level support di kisaran 6.050-6.100 dan resistance di area 6.300.
Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko eksternal dan domestik.
Mulai dari sisa dampak rebalancing MSCI, eskalasi konflik di Timur Tengah, ketidakpastian kebijakan ekspor melalui BUMN khusus, hingga evaluasi indeks FTSE yang akan efektif pada 22 Juni mendatang.
Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal Irwan Ariston menilai rebalancing MSCI tidak akan menjadi penentu utama arah IHSG dalam jangka pendek.
Menurutnya, pasar saham Indonesia saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor fundamental ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan investor.
Irwan menyoroti pelemahan rupiah yang terjadi ketika mata uang negara lain relatif stabil. Kondisi tersebut dinilainya mencerminkan menurunnya kepercayaan pasar terhadap prospek investasi di Indonesia.
Menurut dia, kepercayaan menjadi fondasi utama dalam investasi. Tanpa kepercayaan yang kuat, risiko yang dipersepsikan investor akan meningkat, tidak hanya terkait ekonomi makro, tetapi juga nilai tukar, kepastian hukum, keamanan, dan stabilitas politik.
Dana Asing Kabur Rp 42,34 Triliun dari Pasar Saham pada 2025, Cek Proyeksinya di 2026
Untuk strategi investasi, Irwan menyarankan investor pemula bersikap wait and see hingga muncul sinyal perbaikan yang lebih jelas.
Sementara investor yang sudah memiliki portofolio saham perlu memastikan emiten yang dimiliki memiliki fundamental kuat dan sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Wafi juga mengingatkan investor untuk menghindari saham-saham berkarakteristik high speculative counter (HSC). Ia menyarankan fokus pada emiten dengan free float di atas 15%, kinerja laba yang solid, serta dividend yield yang menarik.
Beberapa saham yang dinilai masih layak dicermati antara lain saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA dan BMRI yang dianggap sudah berada di area oversold dengan valuasi menarik.
Selain itu, saham komoditas seperti AADI dan PTBA juga dinilai prospektif berkat dividend yield tinggi dan dukungan aliran dana asing.
IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi di Awal Juni, Cek Saham Rekomendasi Analis
Sementara itu, Imam merekomendasikan akumulasi beli pada saham CMRY dengan target harga Rp 4.950 per saham dan batas stop loss di bawah Rp 4.260 per saham.