
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Sejumlah emiten terpantau belum menyerap dana penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) mereka secara optimal hingga akhir 2025. Lantas, hal apa saja yang harus diperhatikan pelaku pasar terkait serapan dana IPO ini?
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan sejatinya, tujuan dari IPO adalah untuk mendapatkan pendanaan. Pendanaan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan ekspansi, mewujudkan bisnis-bisnis baru, hingga diversifikasi bisnis.
“Lantas jika dana IPO-nya tidak terserap, berarti itu kan sudah mendapatkan pendanaan tetapi tidak memberikan dampak ke kinerja keuangannya,” ujar Nico, Kamis (22/1/2026).
: Dana IPO COIN Rp220,58 Miliar Parkir di Bank, Bos Indokripto Buka Suara
Nico menuturkan hal ini menjadi salah satu perhatian penting bagi pelaku pasar dan investor yang memiliki saham perusahaan terkait.
Investor atau pelaku pasar menurutnya memiliki ekspektasi tinggi jika kinerja perusahaan akan membaik atau mengalami peningkatan dengan adanya ekspansi dari dana IPO yang mereka dapatkan.
: : Bukalapak (BUKA) Masih Kantongi Rp4,28 Triliun Dana IPO sampai Akhir 2025
“Sekarang kalau dana IPO sudah didapatkan emiten, tapi ternyata tidak digunakan, berarti valuasinya akan sama seperti sebelum dia mendapatkan dana IPO karena tidak terpakai. Tentu ini yang harus menjadi perhatian,” tuturnya.
Menurutnya, apabila dana IPO belum terpakai, maka investor harus melakukan kalkulasi ulang terhadap valuasi perusahaan di masa yang akan datang dari perusahaan tersebut.
: : Cimory (CMRY) Masih Punya Sisa Dana IPO Rp1,96 Triliun, Mayoritas Parkir di Obligasi
“Kalau memang tidak memberikan dampak apa-apa karena dana IPO-nya tidak terpakai, ya buat apa? Lebih baik cari saham yang lain,” kata Nico.
Sebagai informasi, sejumlah emiten telah mengumumkan realisasi penggunaan dana IPO mereka sampai akhir tahun 2025. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) misalnya, telah menghabiskan dana IPO sebesar Rp13,57 triliun.
Di sisi lain, PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) diketahui masih mengantongi dana IPO sebesar Rp4,28 triliun sampai akhir tahun 2025.
BUKA diketahui mengantongi hasil bersih IPO sebesar Rp21,32 triliun. Sebagai informasi, IPO Bukalapak mendapat izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 6 Agustus 2021.
Adapun dengan sisa dana tersebut, artinya BUKA telah merealisasikan dana IPO senilai Rp17.041.361.421.957 atau Rp17,04 triliun hingga 31 Desember 2025.
Demikian juga PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk. (YUPI) yang sampai akhir 2025 belum menyentuh dana IPO mereka. YUPI tercatat mendapatkan hasil penawaran umum sebesar Rp612,6 miliar.
Setelah dikurangi biaya penawaran umum, maka YUPI mendapatkan dana IPO sebesar Rp596,6 miliar. Sampai akhir Desember 2025, sisa dana hasil penawaran umum YUPI mencapai Rp596,6 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.