
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Danantara Indonesia menyebut tahun 2026 menjadi momentum emiten BUMN untuk bisa melakukan penyesuaian valuasi atau re-rating harga saham.
Berdasarkan laporan bertajuk Danantara Indonesia Economic Outlook 2026, BUMN didorong untuk bertransformasi menjadi entitas lebih tahan terhadap gejolak pasar keuangan global dan siklus harga komoditas.
Salah satunya adalah dengan menjadikan restrukturisasi BUMN sebagai variabel penting dalam membentuk premi risiko investasi negara.
: Menakar Daya Tarik Saham BUMN 2026 di Tengah Reformasi Danantara
“Investor mulai mengapresiasi progres restrukturisasi yang nyata, yang sekaligus memberikan sinyal kepercayaan terhadap agenda reformasi pemerintah,” tulis laporan tersebut, dikutip Senin (12/1/2026).
Laporan tersebut menyebut beberapa contohnya. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang sepanjang tahun lalu telah merampingkan anak usaha dan fokus kembali pada kompetensi inti guna memangkas biaya operasional.
: : Prospek Emiten BUMN 2026 Terkerek Penurunan Suku Bunga dan Konsolidasi
Strategi berbasis asset-light ini pun direspons positif oleh pasar. Saham TLKM tercatat melonjak lebih dari 30% dan membukukan arus modal asing atau foreign inflow di tengah tekanan jual pasar secara umum.
Selain Telkom, transformasi juga dilakukan oleh emiten maskapai PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA).
: : Perubahan Status BUMN Dinilai Tak Ganggu Minat Investor terhadap Saham Pelat Merah
GIAA diketahui tengah berfokus pada rehabilitasi operasional melalui reaktivasi armada. Wacana penggabungan Citilink dan Pelita Air menjadi katalis strategis untuk menciptakan sinergi biaya, terutama pengadaan bahan bakar.
Selanjutnya, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS). Meski terhambat beban utang, restrukturisasi bertahap telah mengurangi tekanan arus kas perseroan. Hasilnya, saham KRAS naik lebih dari tiga kali lipat sepanjang 2025.
Kenaikan harga saham juga diperlihatkan oleh PT Timah Tbk. (TINS) berkat pengetatan regulasi terhadap penambangan ilegal dan perbaikan tata kelola sektor pertambangan. Danantara memperkirakan bahwa perbaikan tersebut akan terus mendorong re-rating saham TINS sepanjang tahun ini.
Di sektor konstruksi, Danantara juga tengah mengonsolidasi tujuh BUMN Karya menjadi entitas yang lebih ramping. Langkah ini bertujuan agar sektor konstruksi kembali kompetitif di pasar modal melalui skema asset recycling.
“Pemulihan pada kasus sulit, seperti maskapai, baja, dan konstruksi adalah tempat di mana kredibilitas dipertaruhkan. Jika restrukturisasi berhasil meningkatkan ritme operasional dan ketangguhan neraca, dampak terhadap persepsi investor bagi BUMN secara luas akan signifikan,” tulis Danantara.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.