
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Pergerakan valuta asing (valas) utama terekam beragam pada awal Juni 2026. Ketidakpastian geopolitik hingga arah suku bunga bank sentral diproyeksi menjadi salah satu penentu kinerja valas utama ke depan.
Mengutip Trading Economics Kamis (4/6/2026) pukul 16.30 WIB, pasangan valas EUR/USD di level 1,1619, terkoreksi 1,14% secara year to date (ytd).
Pairing valas GBP/USD di level 1,3435, terkoreksi 0,27% ytd, pasangan valas AUD/USD di level 0,7131, menguat 6,86% ytd. Selanjutnya, pairing valas USD/JPY di level 159,89, menguat 2,03% ytd, dan pasangan valas USD/CHF di level 0,7904, terkoreksi 0,21% ytd.
Research and Development ICDX Muhammad Amru Syifa mengatakan, pasangan valas USD/JPY hari ini dibuka terkoreksi di sekitar area 159,88 setelah sebelumnya mencatat penguatan selama empat sesi berturut-turut.
Pergerakan ini terjadi seiring berkurangnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven setelah muncul perkembangan positif dari Timur Tengah.
Risalah The Fed Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga, Begini Prospek Valas Utama
Kesepakatan antara Israel dan Lebanon untuk kembali menerapkan gencatan senjata melalui mediasi Amerika Serikat (AS) membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi meluasnya konflik regional dan mendorong perbaikan sentimen risiko global.
Dalam kesepakatan tersebut, kedua pihak juga menyetujui pembentukan sejumlah kawasan keamanan yang akan berada di bawah pengawasan penuh otoritas Lebanon.
Langkah ini dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas kawasan sekaligus mengurangi risiko bentrokan di masa mendatang.
“Meskipun demikian, pelaku pasar masih tetap waspada karena situasi geopolitik belum sepenuhnya stabil dan berpotensi berubah sewaktu-waktu,” ujar Amru kepada Kontan, Kamis (4/6/2026).
Amru menambahkan, ketidakpastian kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa penghentian sementara operasi militer terhadap Iran dapat dievaluasi kembali apabila terjadi ancaman terhadap personel AS.
Selain itu, proses pembukaan kembali Selat Hormuz masih belum memiliki kepastian waktu yang jelas. Kondisi tersebut membuat risiko gangguan pasokan energi global tetap menjadi perhatian dan menjaga ekspektasi inflasi dunia pada level yang tinggi.
Ketidakpastian Geopolitik Meningkat, Begini Prospek Valas Utama
Di Jepang, tekanan terhadap yen masih dipengaruhi kekhawatiran atas dampak kenaikan harga energi terhadap perekonomian nasional. Beberapa analis menilai pelemahan yen berpotensi berlanjut apabila volatilitas harga minyak bertahan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan bahwa pemerintah siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar dan terus melakukan koordinasi dengan AS dalam memantau perkembangan pasar keuangan.
Berikutnya, pairing valas EUR/USD. Amru melihat sentimen positif terhadap euro didukung oleh meredanya kekhawatiran konflik di Timur Tengah setelah Lebanon dan Israel mencapai kesepakatan gencatan senjata melalui mediasi di Washington.
Selain itu, meningkatnya ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan ini turut memberikan dukungan bagi mata uang tunggal Eropa.
Meski demikian, potensi penguatan EUR/USD masih relatif terbatas karena ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mereda.
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih menunjukkan sedikit kemajuan, sementara ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah aksi saling serang antara Iran dan militer AS.
“Situasi ini menjaga harga minyak tetap tinggi dan memicu kekhawatiran terhadap inflasi global, sehingga memperkuat pandangan bahwa bank-bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama,” terang Amru.
Selanjutnya, pasangan valas GBP/USD. Amru menilai potensi kenaikan GBPUSD masih dibatasi oleh ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
Indeks Dolar Melemah, Begini Prospek Valas Utama
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung di tengah kebuntuan negosiasi terkait program nuklir Iran dan Selat Hormuz.
Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dan berpotensi menaikkan suku bunga pada 2026 tetap menjadi faktor pendukung dolar AS.
Berikutnya, pairing valas AUD/USD. Amru menyoroti data Australian Bureau of Statistics (ABS) yang menunjukkan neraca perdagangan Australia kembali mencatat surplus sebesar AUD 1,79 miliar pada April setelah sebelumnya mengalami defisit.
Kinerja tersebut didorong oleh kenaikan ekspor sebesar 7,2% secara bulanan, sementara impor hanya tumbuh 0,8%.
Data ini mencerminkan ketahanan sektor eksternal Australia dan berpotensi mendukung pandangan bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) akan mempertahankan kebijakan suku bunga yang relatif ketat.
Namun demikian, penguatan dolar Australia tertahan oleh meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar setelah negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan perkembangan yang berarti.
Kemudian pasangan valas USD/CHF. Amru mengatakan bahwa franc Swiss masih memperoleh dukungan dari fundamental ekonomi domestik yang relatif stabil.
Data terbaru menunjukkan ekonomi Swiss tumbuh 0,4% pada kuartal pertama 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,2% pada kuartal sebelumnya, didorong oleh pemulihan sektor manufaktur dan peningkatan ekspor.
The Fed Tahan Suku Bunga, Begini Prospek Valas Utama
Selain itu, sejumlah indikator ekonomi Swiss juga menunjukkan kondisi yang cukup solid. Inflasi tahunan Swiss meningkat menjadi 0,6% pada April, sementara penjualan ritel tumbuh 1,6% secara tahunan, mencerminkan daya beli masyarakat yang masih terjaga.
Meski demikian, pergerakan USD/CHF masih dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve dan perkembangan geopolitik global.
“Pelaku pasar kini menantikan data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls (NFP), yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah suku bunga The Fed,” terang Amru.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, di tengah ketidakpastian geopolitik, valas umumnya akan tertekan terhadap safe haven dolar Amerika Serikat (USD) dan franc Swiss (CHF).
Lukman melihat dampak dari harga minyak mentah yang tinggi adalah universal, semua negara terimbas. Sehingga pergerakan valas kedepannya akan tergantung pada daya tahan ekonomi negara terhadap harga minyak mentah tersebut.
Arah suku bunga hingga perkembangan geopolitik juga menjadi sentimen yang perlu diperhatikan ke depan.
“Dalam hal ini memang Uni Eropa (EU) dan Inggris (UK) sangat bergantung pada impor energi, begitupula Jepang namun masih didukung oleh cadangan strategis yang besar,” ucap Lukman.
Arah Valas Utama Beragam, Simak Strateginya
Lukman menambahkan, di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan, USD dan CHF masih merupakan favorit investor. Selain itu yuan China (CNY) yang terus menguat dalam setahun terakhir juga menarik untuk dicermati.
Lukman memproyeksikan pasangan valas EUR/USD hingga kuartal III – 2026 dikisaran 1,14 – 1,15, pairing valas GBP/USD direntang 1,29 – 1,31, dan pasangan valas AUD/USD direntang 0,70 – 0,71.
Lalu, pairing valas USD/JPY diperkirakan dikisaran 155 – 160 dan pasangan valas USD/CHF diproyeksi direntang 0,78 – 0,80 hingga kuartal III – 2026.