Ekonomi NTB hanya tumbuh 3,22%, begini penjelasan BI

Ussindonesia.co.id , MATARAM – Bank Indonesia mencatat ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2025 tumbuh melambat 3,22% (year-on-year/yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Hario Kartiko Pamungkas menjelaskan melambatnya pertumbuhan ekonomi NTB terjadi akibat penundaan ekspor konsentrat tambang yang selama ini menjadi andalan.

“Perolehan izin relaksasi ekspor yang lebih pendek dan produksi tembaga yang lebih rendah seiring siklus tambang,” kata Hario dikutip Rabu (11/2/2026).

: Realisasi Kartu Kredit Indonesia (KKI) di Bali Rp21,93 Miliar

Kinerja ekonomi nontambang tumbuh akseleratif 8,54% (yoy) didorong kinerja industri pengolahan dan pertanian. Akselerasi industri pengolahan didorong oleh operasional smelter dan Precious Metals Refinery (PMR). Adapun akselerasi pertanian didukung oleh cuaca yang lebih baik dan program swasembada pangan pemerintah.

Secara sektoral, ekonomi NTB tahun 2025 ditopang akselerasi industri dan peningkatan kinerja pertanian dan perdagangan. Pangsa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB Pertanian 21,89%, Pertambangan 16,51%, Perdagangan 14,53%, Konstruksi 9,01%, Industri Pengolahan 6,69%, transportasi, 5,83%. 

: : Suplai Kebutuhan MBG, NTB Bangun Industri Ayam Terintegrasi

Akselerasi kinerja industri pengolahan ditopang oleh peningkatan produksi smelter dan dimulainya produksi perak. Peningkatan kinerja pertanian didorong oleh kenaikan produksi padi, didukung cuaca dan program pemerintah seperti MBG.

Kondisi kesejahteraan NTB pada tahun 2025 mengalami perbaikan yang tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka, serta peningkatan pangsa pekerja formal dan indeks pembangunan manusia.

: : Pertumbuhan Ekonomi Bali 2025 Capai 5,82%, Tingkat Kemiskinan hingga Pengangguran Turun

Penurunan tingkat pengangguran terbuka sejalan dengan pertumbuhan penduduk bekerja (0,95%) yang lebih tinggi dibanding jumlah pengangguran (0,81%). 

“Pangsa pekerja formal melanjutkan peningkatan, yang utamanya ditopang oleh kinerja sektor konstruksi dan akmamin,” kata Hario.