
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Prospek kinerja PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) pada tahun buku 2026 diperkirakan tetap solid, dengan segmen non-menara diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan utama.
Analis KB Valbury Sekuritas Steven Gunawan menjelaskan momentum bisnis fiber TOWR masih terbuka luas, seiring permintaan struktural yang terus meningkat terhadap konektivitas berkecepatan tinggi.
Hingga sembilan bulan 2025, tercatat pendapatan segmen fiber to the tower (FTTT) sebesar Rp 1,6 triliun atau tumbuh 7,3% secara tahunan (yoy), sekaligus menjadi kontributor pendapatan terbesar kedua dengan porsi 17%.
Sementara itu, pendapatan fiber to the home (FTTH) meningkat menjadi Rp 485 miliar, dibandingkan Rp 384 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Manajemen juga menargetkan pencapaian 2,0 juta homepasses, dengan realisasi saat ini telah mencapai 1,79 juta.
Arah Kebijakan BI Jadi Katalis, Begini Prospek Kinerja Sarana Menara Nusantara (TOWR)
Langkah strategis TOWR lain yang memperkuat fondasi bisnis adalah akuisisi saham PT Remala Abadi Tbk (DATA). “Akuisisi 40% saham Remala Abadi semakin memperdalam infrastruktur dan opsi jangka panjang perusahaan,” ujar Steven dalam riset 28 Januari 2026.
Memasuki proyeksi tahun buku 2026, Steven memperkirakan ekspansi lanjutan pada platform fiber akan terus berlanjut. Pendapatan non-menara diproyeksikan memimpin pertumbuhan dengan kenaikan 11,2% yoy menjadi Rp 5,2 triliun.
Di sisi lain, pendapatan sewa menara diperkirakan tetap tumbuh stabil sebesar 6,1% yoy menjadi Rp 9,1 triliun, terutama didorong tambahan tenancy dari PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) pascamerger.
Senada seirama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta berpandangan, penggabungan XL Axiata dan Smartfren membuat EXCL memiliki spektrum yang lebih besar serta basis pelanggan yang lebih luas.
“Dengan pelanggan yang lebih banyak dan spektrum lebih besar, kebutuhan peningkatan kualitas data tentu makin tinggi. Fiber atau fiberization harus diperkuat, dan TOWR memang memiliki spesialisasi di infrastruktur tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).
Dengan meningkatnya kebutuhan konektivitas, Nafan menilai utilisasi aset yang sebelumnya belum maksimal dapat terdorong naik sehingga menopang pertumbuhan pendapatan berulang (recurring income) perseroan sepanjang 2026.
Laba Sarana Menara Nusantara Tumbuh 4,50%, Simak Rekomendasi Saham TOWR
Selain katalis di atas, sentimen makro juga diperkirakan mendukung kinerja TOWR. Nafan berpandangan tren penurunan suku bunga acuan, misalnya, berpotensi menekan biaya dana (cost of fund) sehingga memperbaiki margin dan laba bersih.
Kendati demikian, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai. Salah satunya adalah volatilitas nilai tukar rupiah. Fluktuasi kurs dapat memengaruhi belanja modal (capex), terutama jika pengadaan peralatan teknologi masih bergantung pada impor.
Di sisi lain, Analis Maybank Sekuritas Indonesia Etta Rusdiana Putra dalam riset 5 Desember 2025 mencatat skor ESG kuantitatif TOWR yang relatif rendah, yakni 18.
Capaian tersebut terutama dipengaruhi tingginya emisi absolut, serta intensitas emisi per menara (kg CO2eq/menara), intensitas konsumsi listrik (MWh/menara), dan intensitas penggunaan air (liter/menara).
Etta menilai kondisi ini tidak terlepas dari ekspansi anorganik bisnis menara yang dilakukan perseroan dalam beberapa tahun terakhir. Penambahan aset melalui aksi korporasi dinilai turut meningkatkan beban emisi dan konsumsi energi secara agregat.
Meski demikian, pada aspek sosial dan tata kelola perusahaan (governance), skor TOWR dinilai cukup solid dalam sistem penilaian yang digunakan. Hal ini menjadi faktor penopang di tengah tantangan pada aspek lingkungan.
TOWR Chart by TradingView
Lebih lanjut menilik laporan keuangan, TOWR mengantongi pendapatan Rp 9,68 triliun sepanjang Januari–September 2025, tumbuh 2,52% yoy, serta laba bersih sebesar Rp 2,55 triliun, tumbuh 4,41% yoy.
Secara keseluruhan, Steven memberikan estimasi pendapatan TOWR pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 14,3 triliun, meningkat dibanding proyeksi 2025 sebesar Rp 13,2 triliun. Sejalan dengan itu, laba bersih pada 2026 juga diperkirakan naik menjadi Rp 3,7 triliun, dari estimasi Rp 3,4 triliun pada 2025.
Dengan berbagai sentimen dan katalis tersebut, Steven merekomendasikan Buy saham TOWR dengan target harga Rp 800 per saham. Adapun Etta juga merekomendasikan Buy dengan target harga Rp 880 per saham. Sementara itu, Nafan masih memberikan rating Wait and See terhadap saham TOWR.