Gelar buyback, Erajaya Swasembada (ERAA) siapkan dana Rp 100 miliar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) berencana melaksanakan aksi pembelian kembali atau buyback saham dengan periode pelaksanaan mulai 2 Juni hingga 2 September 2026.

ERAA menyiapkan dana sebanyak-banyaknya senilai Rp 100 miliar, termasuk biaya perantara perdagangan efek dan biaya lain yang berkaitan dengan buyback saham.

Jumlah lembar saham yang akan dibeli ialah maksimal 797,5 juta atau mewakili 5% dari total modal disetor.

“Sumber dana yang akan digunakan untuk pembelian kembali saham berasal dari kas internal,” kata Head of Legal & Corporate Secretary ERAA, Amelia Allen dalam keterbukaan informasi, Jumat (29/5/2026).

Erajaya (ERAA) Perkuat ESG di Tengah Lonjakan Kinerja dan Ekspansi Bisnis

Amelia mengatakan pendapatan perusahaan diperkirakan tidak akan mengalami penurunan sebagai akibat dari pelaksanaan pembelian kembali saham.

Meskipun buyback saham tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap operasional perusahaan, tindakan ini tetap berpotensi menimbulkan dampak minimal terhadap kondisi keuangan perusahaan. 

Secara finansial, buyback saham akan mengurangi nilai aset dan ekuitas perusahaan sebesar jumlah saham yang dibeli kembali.

  ERAA Chart by TradingView  

Apabila ERAA memanfaatkan seluruh anggaran yang telah dialokasikan untuk buyback saham hingga batas maksimum yang ditetapkan, maka aset dan ekuitas perusahaan akan mengalami penurunan.

Menurut proforma laporan keuangan per 31 Desember 2025, aset ERAA akan terkoreksi menjadi Rp 28,7 triliun dari Rp 28,8 triliun. Sementara itu, ekuitas juga mengalami penurunan sebesar menjadi Rp 10,07 triliun, dari sebelumnya Rp 10,17 triliun.

Erajaya (ERAA) Diproyeksi Tumbuh di Kuartal II Berkat Momen Lebaran & Rajin Ekspansi

Kendati demikian, perusahaan tetap optimistis bahwa pelaksanaan buyback saham tidak akan menimbulkan dampak negatif yang material terhadap kelangsungan kegiatan usaha maupun prospek pertumbuhan perusahaan. 

Keyakinan ini didasarkan pada kondisi keuangan perusahaan yang saat ini memiliki struktur permodalan yang kuat serta arus kas yang memadai untuk mendukung seluruh aktivitas usaha, baik yang bersifat operasional maupun pengembangan, termasuk dalam membiayai pelaksanaan buyback saham.