Gubernur BI beberkan 2 strategi agar rupiah stabil di tengah tekanan dolar AS

Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan bertahan di atas level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Berdasarkan data Bloomberg per Jumat (5/6) pukul 14.59 WIB, kurs USD/IDR berada di level Rp 18.036 per dolar AS.

Merespons tekanan terhadap rupiah, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan dua strategi utama yang disepakati bersama pemerintah untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Perry mengatakan, langkah pertama adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik agar aliran modal asing (portfolio inflows) kembali masuk ke Indonesia.

“Oleh karena itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” ujar Perry, saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Senayan, Sabtu (6/6).

Menurut dia, kenaikan suku bunga global telah memicu arus keluar modal dari pasar keuangan domestik, baik dari pasar saham, Surat Berharga Negara (SBN), maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Karena itu, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter diperkuat untuk menarik kembali dana investor asing.

Strategi kedua yakni menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan agar stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Dengan cara menaikkan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah.

“Sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI, tapi itu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah,” lanjut Perry.

Perry menjelaskan penguatan koordinasi itu memungkinkan operasi moneter dan kebijakan fiskal berjalan beriringan dalam menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Dua hal itu yang kami lakukan,” tuturnya.

Perry kembali menegaskan BI dan pemerintah bakal terus memperkuat sinergi untuk menghadapi dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

“Saling mendukung, saling memperkuat untuk sama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi, stabilitas sesuai dengan dinamika yang ada,” imbuh Perry.