Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — IHSG ditutup menguat 44,30 poin atau 0,72 persen ke posisi 6.206,35. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 10,77 poin atau 1,74 persen ke posisi 631,21.
“Bursa regional Asia bergerak menguat, ada sentimen membaiknya risiko global seiring harapan akan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Dari mancanegara, para pejabat senior AS mengindikasikan AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Mereka masih menegosiasikan sejumlah persyaratan utama dan persetujuan akhir dari kedua pihak kemungkinan memakan waktu beberapa hari.
Meskipun keputusan kesepakatan perdamaian belum final, sinyal tersebut memberikan harapan terciptanya perdamaian di Timur Tengah. Pembukaan kembali Selat Hormuz juga dinilai dapat memulihkan aliran minyak dan ekonomi global.
Dari dalam negeri, IHSG bergerak fluktuatif yang dipengaruhi sentimen global dan domestik. Narasi kesepakatan AS dan Iran memberikan katalis positif, sementara tekanan terhadap kurs rupiah menjadi sentimen negatif.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) defisit sebesar 9,15 miliar dolar AS pada kuartal I 2026 seiring dinamika perekonomian global yang mempengaruhi prospek NPI.
Defisit tersebut tercatat jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi itu memicu kekhawatiran investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
Dibuka menguat, IHSG bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG juga tetap berada di zona hijau hingga penutupan perdagangan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat dipimpin sektor transportasi dan logistik yang naik sebesar 4,20 persen. Selanjutnya sektor properti dan sektor keuangan masing-masing naik 1,23 persen dan 1,14 persen.
Sedangkan empat sektor melemah, yaitu sektor energi yang turun paling dalam sebesar 1,94 persen, diikuti sektor barang baku dan sektor kesehatan yang masing-masing turun 1,23 persen dan 0,70 persen.
Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu GRIA, LAJU, TALF, RONY, dan BBHI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DFAM, LCKM, ASPR, DAAZ, dan AREA.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.065.076 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 27,66 miliar lembar saham senilai Rp 16,95 triliun. Sebanyak 470 saham naik, 236 saham menurun, dan 114 saham tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 1.925,93 poin atau 3,04 persen ke 65.265,00, indeks Shanghai menguat 39,67 poin atau 0,96 persen ke 4.152,57, indeks Hang Seng menguat 219,51 poin atau 0,86 persen ke posisi 25.606,38, dan indeks Straits Times menguat 2,40 poin atau 0,05 persen ke posisi 5.070,55.
Rupiah Melemah Seiring Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Teller memegang mata uang Dolar AS dan Rupiah di sebuah tempat penukaran uang, Jakarta. – (ANTARA/Subur Atmamihardja)
Sementara itu, nilai tukar (kurs) rupiah pada penutupan perdagangan hari ini melemah 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp 17.744 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.717 per dolar AS. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
“Salah satu gubernur Bank Sentral Amerika yaitu Christopher Waller mengatakan bahwa jika ekspektasi inflasi menyimpang dari target, dia tidak akan ragu untuk mendukung kenaikan suku bunga. Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga,” ujarnya dalam rekaman suara di Jakarta, Senin.
Ketua The Fed Kevin Warsh dinilai berpotensi menaikkan suku bunga apabila inflasi masih cukup tinggi, kendati Presiden AS Donald Trump belum menyerukan penurunan suku bunga dalam kondisi saat ini. Hal tersebut membuat kemungkinan suku bunga tetap tinggi hingga akhir 2026 semakin besar.
Seiring dengan itu, pasar juga menunggu rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I 2026, data perumahan, indikator inflasi pilihan The Fed, hingga indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti.
Sentimen lain berasal dari optimisme pasar atas kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran, meski masih terdapat perselisihan terkait Selat Hormuz.
“Kita harus ingat juga apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau tidak, karena yang lebih penting adalah masalah uranium. Kemudian yang kedua tentang dana yang dibekukan sejak tahun 70-an. Ini juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total,” kata dia.
Adapun sentimen dari dalam negeri, menurut dia, masih dipengaruhi persoalan defisit anggaran yang menjadi perhatian pasar.
“Walaupun harga minyak mengalami penurunan, rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah,” ungkap Ibrahim.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 17.743 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.717 per dolar AS.