
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Dukungan permintaan global terhadap komoditas logam industri kian menguat seiring berkembangnya kendaraan listrik (electric vehicle/EV), baterai, pembangunan infrastruktur global, hingga lonjakan kebutuhan data center dan kecerdasan buatan (AI).
Namun demikian, pergerakan harga logam industri tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika pasokan di masing-masing komoditas.
Mengutip Trading Economics, pada Selasa (27/1/2026) pukul 15.30 WIB harga alumunium naik 7,66% secara bulanan di level US$ 3.164 per ton. Kemudian harga timah naik 32,70% ke level US$ 56.816 per ton. Ada pun harga nikel juga meningkat 17,27% menjadi US$ 18.537 per ton.
Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, dampak peningkatan permintaan terhadap harga logam industri memang besar, tetapi tidak berdiri sendiri.
Peluang Menarik Saham Kalbe Farma (KLBF) di Tengah Penurunan Harga
Faktor pasokan justru menjadi penentu utama arah harga. Ia mencontohkan, kenaikan harga nikel belakangan ini bukan didorong oleh lonjakan permintaan, melainkan akibat pembatasan produksi di Indonesia untuk meredam kondisi oversupply.
“Saat ini hanya nikel yang secara alami tidak mengalami oversupply, bahkan dikhawatirkan akan mengalami defisit pasokan ke depan. Jadi kebijakan yang memengaruhi produksi sangat menentukan,” ujar Lukman kepada Kontan, Sabtu (24/1/2026).
Selain EV dan baterai, Lukman menilai booming pembangunan data center, panel surya, serta pembangkit listrik turut menjadi sentimen positif yang menopang harga logam industri.
Di sisi lain, faktor geopolitik global juga berperan dalam membentuk sentimen pasar secara umum melalui perubahan sikap investor dari risk-on ke risk-off.
Meski begitu, Lukman menegaskan bahwa dampak geopolitik terhadap harga logam industri relatif terbatas, kecuali jika konflik atau kebijakan geopolitik tersebut secara langsung mengganggu pasokan. Koreksi harga tetap berpotensi terjadi, namun cenderung bersifat sementara dan sulit diprediksi secara presisi.
“Koreksi biasanya terjadi sesaat dan cepat, seperti saat muncul kebijakan tarif dari Presiden AS Donald Trump. Tapi sejauh ini, faktor permintaan dan pasokan masih lebih dominan dibanding geopolitik,” jelasnya.
Sentimen negatif yang patut diwaspadai investor saat ini, lanjut Lukman, adalah kekhawatiran terjadinya letusan gelembung (bubble) AI.
Jika terjadi, kondisi tersebut berpotensi menekan pembangunan data center dan infrastruktur pendukungnya, sekaligus memicu sentimen risk-off yang lebih luas di pasar keuangan dan komoditas.
Permintaan Global Menguat, Harga Logam Industri Naik pada Awal 2026
Dari sisi strategi, Lukman mengingatkan bahwa karakter logam industri berbeda dengan logam mulia. Likuiditas dan basis investor logam mulia, seperti emas, jauh lebih besar. Bahkan, emas merupakan komoditas dengan nilai perdagangan terbesar di dunia, melampaui minyak mentah.
“Logam industri sangat spekulatif dan volatil. Karena itu, investor perlu mengantisipasi fluktuasi harga dengan strategi seperti buy on dip saat terjadi koreksi tajam atau sell on rally ketika harga melonjak,” ujarnya.
Untuk kuartal pertama 2026, Lukman memproyeksikan harga aluminium berpotensi bergerak di kisaran US$ 3.200 per ton, timah di level US$ 46.000 per ton, dan nikel di rentang US$ 19.000 – US$ 20.000 per ton.
Namun, ia mengingatkan bahwa proyeksi tersebut masih sangat bergantung pada perubahan kebijakan yang dapat memengaruhi pasokan maupun permintaan secara signifikan.