
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mencatatkan kinerja positif sepanjang Januari – September 2025. Faktor permintaan hingga program pemerintah diprediksi menjadi katalis pendorong kinerja JPFA di kuartal I – 2026.
JPFA mengantongi pendapatan Rp 43,10 triliun hingga akhir September 2025, naik 4,41% secara year on year (yoy). Laba bersih JPFA juga meningkat 15,05% yoy menjadi Rp 2,41 triliun per kuartal III – 2025.
Abdusshomad Cakra Buana, Analis Bahana Sekuritas memperkirakan kelebihan pasokan ayam akan mereda menjadi 1,4 juta ton sampai 1,8 juta ton pada tahun 2026 karena pasokan industri menurun menjadi 4,1 juta ton. Ini menyusul pengurangan kuota impor stok induk (GPS) sebesar 16% secara year on year pada tahun 2024.
Kinerja Japfa (JPFA) Ditopang Sentimen Percepatan SPPG, Cek Rekomendasi Sahamnya
Pada saat yang sama, pergeseran kebijakan pemerintah menuju pertumbuhan yang berfokus pada pertumbuhan akan membantu memulihkan daya beli, dan upaya berkelanjutan untuk mengekang judi online. Tercatat transaksi judi online setara dengan sekitar 2% dari produk domestik bruto (PDB) dengan 71% pengguna berasal dari rumah tangga berpenghasilan rendah. Hal ini dapat mendorong konsumsi rumah tangga tumbuh 5,2% tahun depan, meningkatkan konsumsi ayam per kapita menjadi 7,5 kg.
“Oleh karena itu, kami memperkirakan harga unggas hidup (LB) dan anak ayam umur sehari (DOC) akan meningkat sebesar 6% – 7% dari tahun ke tahun,” ujar Abdusshomad dalam risetnya pada 12 Januari 2026.
Abdusshomad memperkirakan program makan bergizi gratis (MBG) kemungkinan akan menjadi salah satu penggerak peningkatan permintaan ayam tahun 2026. Didukung oleh anggaran yang sebesar Rp 335 triliun, (naik 472% yoy), Bahana Sekuritas memperkirakan program ini dapat menghasilkan permintaan tambahan sekitar 10% – 30% dari konsumsi historis, karena dapat langsung menyerap sekitar 200 kiloton sampai 571 kiloton (kt) ayam.
Selain volume, komponen menu MBG disebut dapat berkontribusi pada inflasi yang didorong oleh permintaan sekitar 2,6% yoy pada tahun 2026, menandakan pemulihan bertahap dalam daya beli rumah tangga.
Laba Japfa (JPFA) Diramal Melonjak di Tahun 2026, Ini Rekomendasi Sahamnya
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, prospek kinerja JPFA di kuartal I-2026 arahnya cukup positif, karena permintaan protein biasanya mulai membaik menjelang Ramadan. Dari sisi industri unggas juga ada sentimen suplai yang lebih “rapi” dibanding periode lalu yang oversupply.
“Kami melihat tahun 2026 berpotensi jadi tahun yang lebih baik untuk JPFA, seiring ekspektasi harga ayam hidup lebih kuat dan laba berpeluang meningkat,” ucap Ekky kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).
Ekky menyampaikan tantangan yang perlu dicermati JPFA pada kuartal I – 2026 antara lain biaya pakan terutama pada harga jagung. Karena kalau biaya pakan naik sementara harga jual tidak ikut naik, margin bisa tertekan. Pergerakan harga jagung domestik masih sensitif, dan pemerintah juga sempat menjalankan program stabilisasi jagung pakan untuk menjaga harga.
“Selain itu, faktor musiman dan dinamika supply–demand juga bisa bikin harga ayam ataupun telur fluktuatif dalam jangka pendek,” terang Ekky.
Adapun, dari sisi sentimen yang perlu diperhatikan untuk kuartal I – 2026, fokusnya ada di tren harga ayam hidup dan telur, pergerakan harga jagung atau pakan, dan kebijakan pemerintah terkait pengaturan suplai yang bisa bikin harga lebih stabil. Serta permintaan musiman Ramadan.
“Beberapa pemberitaan pasar juga menyoroti bahwa pengurangan kuota GPS dan dukungan permintaan bisa jadi penopang harga ayam tetap sehat,” ujar Ekky.
Ezaridho Ibnutama, Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia meningkatkan proyeksi pertumbuhan pendapatan JPFA tahun 2026 dan 2027 masing – masing menjadi 12% yoy dan 13% yoy. Itu mencerminkan momentum hilir yang lebih kuat dan lingkungan penetapan harga unggas yang lebih tangguh yang didukung oleh permintaan MBG.
“Kami memperkirakan pengolahan unggas dan produk konsumen akan menyumbang 20% dari pendapatan pada 2026 dan 23% pada 2027, didorong oleh inovasi produk dan perluasan merek yang berkelanjutan,” ujar Ezaridho dalam risetnya pada 24 Desember 2025.
Ezaridho memproyeksikan pendapatan dan laba bersih JPFA tahun 2025 masing – masing sebesar Rp 59,09 triliun dan Rp 3,56 triliun. Pendapatan dan laba bersih tahun 2026 diproyeksi mencapai Rp 65,99 triliun dan Rp 4,34 triliun. Adapun pada tahun 2024, JPFA mengantongi pendapatan Rp 55,80 triliun dan laba bersih Rp 3,01 triliun.
Abdusshomad dan Ezaridho merekomendasikan Buy saham JPFA dengan target harga masing – masing Rp 3.700 per saham dan Rp 3.300 per saham. Sementara Ekky merekomendasikan buy on weakness JPFA dengan target harga Rp 3.200 – Rp 3.500 per saham.