
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja emiten-emiten Grup Alamtri cenderung lesu sepanjang 2025. Peluang perbaikan kinerja mereka tetap terbuka pada 2026, bergantung pada perkembangan harga komoditas batubara hingga kelangsungan agenda hilirisasi mineral.
Sebagaimana diketahui, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mengalami penurunan pendapatan usaha sebesar 10,10% year on year (yoy) menjadi US$ 1,87 miliar pada akhir 2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ADRO juga merosot 67,56% yoy menjadi US$ 447,69 juta pada akhir 2025.
Setali tiga uang, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga mengalami penurunan pendapatan usaha 15,70% yoy menjadi US$ 972,95 juta pada 2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ADMR ikut tergerus 37,89% yoy menjadi US$ 271,21 juta.
Tak ketinggalan, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) turut mencatatkan penurunan pendapatan usaha 7,71% yoy menjadi US$ 4,91 miliar pada 2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk anjlok 37,22% yoy menjadi sebesar US$ 760,18 juta.
Laba Bersih Alamtri Resources Indonesia (ADRO) Anjlok 67,56% pada Tahun 2025
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan mengatakan, penurunan kinerja keuangan ADRO, ADMR, dan AADI sangat dipengaruhi oleh koreksi harga batubara global sepanjang 2025, setelah sempat berada di level tinggi pada 2022–2023. Hal ini tentu membuat harga jual rata-rata atau average selling pricre (ASP) perusahaan menyusut, sehingga menekan pendapatan dan margin.
“Selain itu, beberapa emiten Grup Alamtri juga menghadapi kenaikan biaya operasional, normalisasi volume produksi, serta transisi strategi bisnis seperti ekspansi ke sektor hilirisasi dan energi baru yang membutuhkan belanja modal besar,” ungkap dia, Selasa (10/3/2026).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menimpali, bagi ADRO dan AADI yang masih memiliki eksposur besar pada bisnis batubara termal, pelemahan harga komoditas tersebut secara otomatis menekan pendapatan dan margin laba.
Namun, faktor penyebab penurunan kinerja kedua emiten tadi sebenarnya tidak semata karena harga komoditas. Mereka juga menghadapi kenaikan biaya produksi, peningkatan stripping ratio di beberapa tambang, serta penyesuaian volume produksi yang lebih konservatif di tengah permintaan global yang melambat, khususnya dari China dan India.
Khusus ADMR, selain terdampak volatilitas harga komoditas mineral, emiten ini juga masih berada dalam fase investasi besar pada proyek hilirisasi aluminium melalui pengembangan ekosistem smelter dan energi.
“Fase ekspansi tersebut membuat beban investasi meningkat sehingga secara jangka pendek menekan profitabilitas,” kata dia, Minggu (10/3/2026).
Memasuki 2026, peluang perbaikan kinerja emiten Grup Alamtri mulai terbuka seiring pulihnya harga batubara global akibat kekhawatiran krisis energi dan meningkatnya kebutuhan pasokan listrik di sejumlah negara Asia. Kenaikan harga batubara berpotensi menjadi katalis positif bagi ADRO dan AADI, mengingat keduanya memiliki leverage yang cukup tinggi terhadap pergerakan harga komoditas tersebut. Ketika harga batubara naik, margin operasional biasanya akan pulih lebih cepat karena struktur biaya tambang relatif lebih stabil dibanding harga jualnya.
Alamtri Resources Indonesia (ADRO) Bagikan Dividen Interim US$ 250 Juta
Sementara bagi ADMR, prospek kinerjanya tidak hanya bergantung pada dinamika harga batubara metalurgi, melainkan juga pada perkembangan rantai nilai aluminium yang sedang dibangun. Kenaikan harga aluminium global dalam beberapa waktu terakhir dapat memberikan sentimen positif, karena menunjukkan bahwa permintaan industri manufaktur, otomotif, dan energi mulai kembali meningkat.
“Jika tren ini berlanjut, proyek hilirisasi ADMR berpotensi memberikan nilai tambah yang lebih besar dibanding hanya menjual bahan mentah, sehingga secara jangka menengah dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan,” jelas dia.
David menyebut, strategi yang perlu diperkuat oleh emiten-emiten Grup Alamtri antara lain menjaga efisiensi biaya produksi, mempertahankan volume penjualan, serta mempercepat diversifikasi bisnis ke sektor hilirisasi mineral dan energi yang memiliki margin lebih stabil. Selain itu, penguatan struktur keuangan dan disiplin belanja modal juga penting dilakukan oleh pihak emiten agar ekspansi tetap sehat.
Kebijakan Dividen Diproyeksi Berlanjut, Simak Rekomendasi Saham ADRO
Dia melanjutkan, secara valuasi saham ADRO, ADMR, dan AADI masih relatif menarik karena sektor komoditas cenderung sensitif terhadap siklus harga. Saham-saham tersebut masih layak dipertimbangkan, terutama bagi investor yang ingin memanfaatkan potensi pemulihan harga batubara dengan fokus pada emiten yang memiliki diversifikasi bisnis dan struktur biaya yang lebih efisien.
“Target harga akan sangat bergantung pada arah harga komoditas ke depan dan realisasi strategi ekspansi masing-masing emiten,” tutur David.
Hendra berujar, saham-saham Grup Alamtri juga masih menarik untuk dipertimbangkan terutama bagi investor yang memahami karakter siklus sektor energi dan komoditas. Secara teknikal, saham ADRO layak direkomendasikan buy on weakness di kisaran Rp 2.300–Rp 2.340 per saham dengan potensi target menuju Rp 2.550 seiring peluang rebound harga batubara.
Saham ADMR juga menarik dicermati oleh investor pada area Rp 1.870-Rp 1.915 per saham dengan target jangka menengah di sekitar Rp 2.120 per saham, terutama jika sentimen hilirisasi aluminium semakin kuat. Adapun saham AADI direkomendasikan speculative buy dengan target di kisaran Rp 10.900 per saham.
Alamtri Resources (ADRO) Tambah Kepemilikan Saham di Alamtri Minerals (ADMR)