Tren harga emas yang kian cemerlang, prospek kinerja BRMS kian mentereng

Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Bumi Resources Minerals (Tbk) (BRMS) menyatakan produksi emas akan terus berlanjut. Pergerakan harga emas diproyeksi menjadi salah satu katalis pendorong kinerja BRMS.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, secara makro, sentimen utama yang perlu dicermati untuk melihat kinerja BRMS adalah tren pergerakan harga emas global. Tingginya eskalasi tensi geopolitik serta berlanjutnya aksi akumulasi cadangan emas oleh berbagai bank sentral dunia menjadi katalis kuat yang terus menopang harga emas. 

“Mengingat operasional BRMS saat ini sangat berfokus pada segmen emas, sentimen makro ini menjadi tailwind bagi perusahaan,” ujar Azis kepada Kontan, Selasa (10/3/2026).

Prospek Saham Konsumer Stabil Tapi Margin Tertekan Rupiah dan Biaya, Ini Kata Analis

Azis melihat penguatan harga emas akan berdampak sangat positif dan langsung bertranslasi pada peningkatan profitabilitas BRMS. Mengingat mayoritas postur pendapatan perusahaan bersumber dari penjualan emas, setiap kenaikan harga jual rata-rata komoditas ini secara otomatis akan memperlebar margin laba kotor maupun margin laba bersih perusahaan.

“Prospek kinerja BRMS di awal 2026 tergolong menarik dan berpeluang melanjutkan tren positif,” ucap Azis.

Azis bilang, katalis utamanya adalah rencana peningkatan volume produksi dari tambang Poboya yang dikelola oleh anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM). Peningkatan volume ini dapat meningkatkan kapasitas produksi BRMS menjadi lebih menguntungkan.

Igor Putra, Analis UBS Sekuritas Indonesia menyebut, BRMS berfokus pada pencapaian keunggulan operasional dengan meningkatkan produksinya untuk memenuhi target tahun 2025 – 2029. Hal itu terungkap saat UBS menjamu manajemen Bumi Resources Minerals (BRMS) dalam acara OneASEAN Summit di Singapura pada tanggal 4-5 Maret 2026.  

“BRMS menyatakan aktivitas penambangan emas terus berlanjut hingga awal April 2026,” ujar Igor dalam risetnya pada 5 Maret 2026. 

Penawaran Sukuk Ritel SR024 Resmi Dibuka, Bank Optimistis Serapan Dana Capai Target

BRMS juga akan meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan dari 500 ton bijih per hari menjadi 2.000 ton bijih per hari sesuai rencana dan akan selesai pada Oktober 2026. Serta kegiatan pengeboran yang sedang berlangsung di proyek tembaga Gorontalo Minerals (GM). 

Penambangan emas bawah tanah dijadwalkan selesai pada pertengahan 2027. Ini memungkinkan peningkatan produksi pada semester kedua tahun 2027 mengingat kadar emas yang lebih tinggi hingga 4,9 gram per ton (g/t) dari saat ini hingga 1,5 g/t. 

“BRMS juga menyatakan bahwa studi kelayakan, izin operasi, dan izin lingkungan telah diperoleh untuk aset-aset utamanya, kecuali izin produksi untuk aset Linge,” terang Igor. 

Selain itu, pengumuman standar pertambangan Joint Ore Reserves Committee (JORC) akan dilakukan pada pertengahan tahun depan untuk proyek tembaga Gorontalo Minerals (GM). Indikasi dari kegiatan pengeboran saat ini menunjukkan cadangan tembaga GM mungkin memiliki ukuran yang serupa dengan Batu Hijau berukuran besar yang dimiliki oleh Amman Mineral International. 

Igor menyampaikan penambangan emas bawah tanah menghadapi tantangan terbatas meskipun BRMS menyebutkan Palu (wilayah tempat penambangan bawah tanah berlangsung) memiliki salah satu tingkat curah hujan terendah di Indonesia. BRMS terbuka untuk ekspansi non-organik di pasar onshore (daratan) dan offshore (lepas pantai/laut).  

“Kami yakin BRMS berada di jalur yang tepat untuk mencapai target peningkatan produksi dari 70.000 – 75.000 ons troi (koz) pada tahun 2025 menjadi 80 koz pada tahun 2026,” jelas Igor.  

Ekspansi &Layanan Spesialis Jadi Katalis Pertumbuhan Saham Siloam, Ini Rekomendasinya

Devi Harjoto, Analis OCBC Sekuritas melihat pengembangan tambang Citra Palu Minerals (CPM) Underground dan Gorontalo Minerals (GM) siap menjadi mesin pertumbuhan BRMS. “Diperkirakan pendapatan BRMS akan didorong terutama oleh tambang emas CPM, dengan laba bersih CPM diproyeksikan mencapai US$ 102,5 juta pada tahun 2026 naik 94,8% year on year (yoy),” terang dia.

Proyek tambang terbuka GM diharapkan dapat memperluas eksposur komoditas BRMS melalui komoditas tembaganya, selain sumber daya emasnya. 

“Untuk memajukan optimasi bawah tanah CPM dan pengembangan GM, BRMS berencana mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 150 juta pada tahun 2026 – 2027, di atas US$ 100 juta untuk tahun 2025,” jelas Devi dalam risetnya pada 24 Desember 2025. 

Seiring dengan peningkatan kontribusi tambang bawah tanah, Devi memperkirakan produksi emas akan meningkat menjadi 161.000 ons per ton pada tahun 2028.

Peningkatan output dan campuran bijih dengan kadar tinggi juga diharapkan dapat meningkatkan unit ekonomi, menurunkan biaya tunai, dan meningkatkan profitabilitas. Berdasarkan hal ini, Devi memperkirakan EBITDA dan laba bersih BRMS akan mencapai US$ 331,3 juta dan US$ 232,5 juta pada tahun 2028. 

Igor memproyeksi pendapatan dan laba bersih tahun 2026 masing – masing US$ 379 juta dan US$ 127 juta. Tahun 2025, pendapatan dan laba bersih diperkirakan mencapai US$ 238 juta dan US$ 51 juta. Adapun tahun 2024, BRMS mengantongi pendapatan US$ 162 juta dan laba bersih US$ 24 juta. 

Produksi Emas Diproyeksi Meningkat, Simak Rekomendasi Saham BRMS

Igor merekomendasikan netral saham BRMS dengan target harga Rp 1.200 per saham. Devi merekomendasikan buy saham BRMS dengan target harga Rp 1.300 per saham. Sementara Azis merekomendasikan trading buy saham BRMS dengan target Rp 965 per saham.