
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Tekanan terhadap pasar kripto kembali berlanjut sepekan terakhir, setelah sempat mengalami rebound hingga menyentuh kisaran US$ 80.000 pada akhir Mei 2026 lalu.
Memburuknya selera risiko investor akibat kekhawatiran inflasi global, ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, hingga aksi jual dari pemegang besar bitcoin menjadi faktor yang membebani pergerakan aset kripto tersebut.
Melansir Coin Market Cap pada Senin (8/6/2026) pukul 17.00 WIB, harga bitcoin (BTC) berada di level US$ 63.411 atau menurun 12,88% dalam sepekan, bahkan menyusut 20,94% pada sebulan terakhir.
Bitcoin Anjlok Lagi, Peluang Reli Jangka Pendek Dinilai Terbatas
Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menilai pelemahan bitcoin kali ini dipengaruhi oleh memburuknya selera risiko (risk appetite) pelaku pasar yang dipicu sejumlah faktor eksternal.
Seperti misalnya, kekhawatiran terhadap inflasi yang berkepanjangan akibat tingginya harga energi menjadi salah satu faktor utama yang membebani pasar.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Selain itu, tekanan juga datang dari aksi penjualan yang dilakukan oleh Strategy, perusahaan yang dulunya dikenal sebagai MicroStrategy, dan saat ini menjadi salah satu pemegang bitcoin terbesar di dunia, dengan porsi sekitar 4% dari total yang ada.
“Rebound saat ini sulit bertahan disebabkan banyaknya pelaku pasar yang berada dalam kondisi underwater yang menyebabkan sedikit saja keuntungan ataupun kembalinya harga ke titik impas, membuat mereka langsung menutup posisi karena ketakutan,” ujar Christopher saat dihubungi Kontan, Senin (8/6/2026).
Koreksi Kripto Berlanjut, Bitcoin Tetap Menarik bagi Investor Jangka Panjang
Meski demikian, Christopher melihat peluang terjadinya pemantulan harga dalam jangka pendek masih terbuka.
“Namun, dengan harga saat ini dan kondisi on-chain yang cukup buruk, ini akan memancing penyerok kembali dan menyebabkan technical rebound,” katanya.
Di tengah ketidakpastian pasar, Christopher menyarankan investor ritel untuk lebih berhati-hati dalam menentukan strategi investasi.
Ia menilai peluang keuntungan jangka pendek masih tersedia, namun hanya cocok bagi investor yang aktif dan mampu merespons perubahan pasar dengan cepat.
Bagi investor yang kurang berpengalaman dalam memanfaatkan momentum jangka pendek, Christopher menyarankan untuk menahan diri terlebih dahulu hingga kondisi pasar lebih stabil.
Meski volatilitas masih tinggi, ia tetap memandang bitcoin sebagai salah satu aset yang layak dipertimbangkan dalam portofolio investasi.
“Bitcoin masih layak menjadi pilihan investasi. Namun investor harus lebih cekatan dalam menghadapi dinamika pasar yang saat ini bergerak sangat cepat,” ungkapnya.
Bitcoin dan Ethereum Kompak Melemah, Analis Soroti Tekanan Stagflasi AS
Untuk prospek semester I 2026, Christopher memperkirakan harga Bitcoin cenderung bergerak terbatas dan belum menunjukkan potensi reli yang signifikan. Ia memproyeksikan bitcoin akan berada di kisaran US$ 65.000 hingga akhir semester pertama tahun ini.
Menurutnya, arah pergerakan bitcoin ke depan masih sangat dipengaruhi oleh keputusan Strategy terkait kepemilikan aset kripto mereka.
“Saya memperkirakan bitcoin berada di kisaran US$ 65.000 pada semester I 2026 dan cenderung stagnan. Salah satu faktor yang perlu dicermati adalah keputusan manajemen Strategy terkait kelanjutan penjualan posisi bitcoin mereka,” tutup Christopher.