
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Harga buyback emas Antam mengalami kenaikan hingga mendekati rekor ATH pada hari ini Senin (2/3/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Senin (2/3/2026), harga buyback emas Antam naik Rp50.000 ke Rp2.914.000. Kenaikan itu memangkas jarak dengan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang dibukukan akhir Januari 2026.
Sebagaimana diketahui, harga buyback emas Antam terakhir kali menyentuh posisi ATH di Rp2.989.000 pada 29 Januari 2026. Setelah itu, pergerakan sempat anjlok kemudian melandai atau bergerak dalam tren sideways sepanjang Februari 2026.
: Full Senyum Pembeli Emas Antam 10 Tahun Awal Maret 2026
Harga buyback emas Antam merupakan acuan pembelian kembali berdasarkan ukuran 1 gram oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM).
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
: : Ramalan Nasib Pergerakan Harga Emas Pekan Pertama Maret 2026
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
: : Harga Emas Antam Hari Ini (2/3) Naik Rp50.000, Dibanderol Rp3,13 Juta per Gram
Adapun, pergerakan harga buyback emas Antam turut mengikuti pergerakan harga emas di pasar global.
Dilaporkan Bisnis Senin (2/3/2026), harga emas di pasar spot naik 1,9% menjadi US$5.380,91 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex terpantau menguat 1,9% menjadi US$5.343,40 per troy ounce.
Dalam perdagangan awal, logam mulia tersebut sempat menguat lebih dari 2% ke kisaran US$5.390 per ons.
Emas sebelumnya telah mencatat kenaikan lebih dari 3% sepanjang pekan lalu di tengah pengerahan pasukan Amerika Serikat ke kawasan tersebut. Konflik meluas pada akhir pekan setelah AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang dibalas Teheran dengan gelombang rudal ke sejumlah target di beberapa negara.
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama serangan.
Ketegangan geopolitik yang meluas serta kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump menjadi faktor utama di balik reli panjang emas. Selain itu, pembelian bank sentral yang tinggi serta pergeseran investor dari obligasi dan mata uang pemerintah turut menopang penguatan harga.
Sepanjang tahun berjalan, harga emas telah melonjak sekitar 25%, meskipun sempat terkoreksi dari rekor tertinggi di atas US$5.595 per ons pada akhir Januari. Pada Februari, emas mencatat kenaikan bulanan ketujuh berturut-turut, menjadi tren terpanjang sejak 1973.
Ahmad Assiri, analis dari Pepperstone Group Ltd., mengatakan penguatan emas pada awal pekan ini merupakan indikasi awal investor mencari aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian regional.