
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas diperkirakan masih bertahan di level tinggi hingga kuartal III-2026 meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai mereda. Pelemahan rupiah dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global dinilai akan menjadi penopang pergerakan logam mulia dalam beberapa bulan ke depan.
Berdasarkan Trading Economics pada Senin (1/6/2026) pukul 08.10 WIB, harga emas spot berada di level US$ 4.527 per ons troi. Harga tersebut turun 0,62% dalam sepekan, tetapi masih naik 0,40% dibandingkan sebulan sebelumnya.
Sementara itu, harga perak tercatat US$ 74,90 per ons troi atau melemah 3,26% secara mingguan. Namun dalam sebulan terakhir, harga perak masih menguat 3,87%.
Analis komoditas sekaligus founder Traderindo, Wahyu Laksono mengatakan, penguatan harga emas sepanjang tahun ini didorong oleh kombinasi sentimen geopolitik, arah kebijakan suku bunga bank sentral utama, pergerakan dolar AS, serta permintaan investasi yang tetap kuat.
Emas dan Perak Masih Menarik, Ini Prospek Harga Komoditas Logam di Kuartal III-2026
Menurutnya, pasar sempat dibayangi lonjakan harga minyak akibat gangguan jalur distribusi energi di kawasan Timur Tengah. Namun, harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran mulai mengurangi kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan minyak global.
“Meredanya ketegangan geopolitik membuat harga minyak kembali terkoreksi. Namun, emas masih mendapat dukungan dari ekspektasi pelonggaran moneter dan tingginya permintaan sebagai aset lindung nilai,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan, sinyal pemangkasan suku bunga oleh bank sentral global, terutama Federal Reserve (The Fed) menjadi salah satu faktor yang menopang harga emas. Ketika suku bunga berpotensi turun, biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi lebih rendah sehingga minat investor meningkat.
Selain itu, pelemahan indeks dolar AS (DXY) dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turut memberikan ruang bagi penguatan harga logam mulia.
Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral berbagai negara juga masih menjadi penopang harga. Tren diversifikasi cadangan devisa dinilai mampu menjaga permintaan emas global tetap tinggi.
Wahyu memperkirakan harga emas dunia masih berpeluang bergerak dalam rentang US$ 4.000 hingga US$ 5.000 per ons troi pada kuartal III-2026. Sementara level support diperkirakan berada di kisaran US$ 4.350-US$ 4.400 per ons troi apabila terjadi koreksi.
Adapun harga perak diproyeksikan bergerak lebih volatil dengan kisaran US$ 60 hingga US$ 108 per ons troi. Menurut Wahyu, perak berpotensi mencatat kenaikan lebih agresif dibandingkan emas apabila permintaan industri, khususnya sektor energi hijau dan manufaktur kembali meningkat.
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp 17.853 Per Dolar AS Hari Ini (1/6), Paling Kuat di Asia
Untuk pasar domestik, Wahyu melihat harga emas Antam masih memiliki ruang penguatan meskipun tidak sebesar lonjakan yang terjadi pada 2025.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang menjaga harga emas dalam negeri tetap tinggi. Sebab, harga emas domestik merupakan hasil konversi harga emas global dengan kurs dolar AS terhadap rupiah.
“Kondisi ini membuat harga emas Antam tetap berpotensi bertahan di level tinggi meskipun harga emas global mengalami koreksi,” kata Wahyu.
Hingga akhir tahun, Wahyu memperkirakan harga emas Antam bergerak pada rentang Rp 2.650.000 hingga Rp 3.000.000 per gram. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi harga emas global berada di kisaran US$ 4.000-US$ 5.000 per ons troi dan nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp 17.000-Rp 18.000 per dolar AS.
Bahkan, apabila rupiah menembus level Rp 18.000 per dolar AS, harga emas Antam berpeluang melampaui Rp 3.000.000 per gram.
Dalam jangka menengah, Wahyu memproyeksikan harga emas Antam berpotensi naik menuju kisaran Rp 3.500.000 hingga Rp 4.000.000 per gram seiring prospek penguatan harga emas global yang masih terbuka.