
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,01% ke level 9.134,70 pada perdagangan Selasa (20/1/2026), setelah sempat mencetak rekor tertinggi baru secara intraday di level 9.174.
Meski masih berada di zona hijau, pergerakan IHSG cenderung fluktuatif dan mulai menunjukkan pelemahan momentum.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai penguatan IHSG pada perdagangan kemarin terutama ditopang sektor basic materials, seiring lonjakan harga emas yang kembali mencetak rekor tertinggi baru di atas US$4.700 per troy ons.
Kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Namun secara teknikal, Alrich mengingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek. Indikator MACD mulai mengindikasikan pelemahan momentum, disertai sinyal distribusi.
IHSG Diprediksi Bergerak Sideways pada Rabu (21/1), Saham-Saham Ini Bisa Dicermati
Selain itu, Stochastic RSI juga berpotensi membentuk death cross di area overbought. “Kondisi ini membuka peluang terjadinya pullback akibat aksi profit taking,” ujar Alrich kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).
Untuk perdagangan Rabu (21/1/2026), IHSG diperkirakan bergerak pada rentang 9.050–9.200, dengan level support di 9.000, pivot di 9.100, dan resistance di 9.200. Selama IHSG masih bertahan di atas area support, tren jangka menengah dinilai masih relatif terjaga, meski volatilitas berpotensi meningkat.
Dari eksternal, tekanan datang dari mayoritas bursa Asia yang ditutup melemah pada Selasa (20/1/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan Eropa.
Sejumlah negara Eropa dilaporkan tengah membahas tarif balasan atas ancaman tarif baru dari AS. Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif hingga 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis.
Sentimen global juga dipengaruhi agenda World Economic Forum (WEF) yang digelar pada 19–23 Januari 2026 di Davos, Swiss, yang menjadi perhatian investor terkait arah kebijakan ekonomi dan geopolitik global.
IHSG Terus Naik saat Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Ada Apa?
Dari Jepang, rencana pembubaran parlemen dan pemilu sela pada 8 Februari 2026 turut menambah ketidakpastian, tercermin dari kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang tenor 40 tahun ke level 4% untuk pertama kalinya.
Meski demikian, Fitch memperkirakan rasio utang pemerintah Jepang akan menurun ke kisaran 190% dari PDB pada tahun fiskal 2029, dari estimasi 199,5% pada tahun fiskal 2025.
Untuk strategi perdagangan jangka pendek, Alrich merekomendasikan investor mencermati saham-saham berbasis komoditas dan konsumsi, seiring masih tingginya volatilitas pasar. Saham pilihan untuk perdagangan Rabu (21/1/2026) antara lain MDKA, BRMS, ARCI, MAPI, dan ADMR.