
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis 0,01% ke level 9.134,70 pada perdagangan Selasa (20/1/2026). Sepanjang sesi, IHSG bergerak relatif datar dan sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa secara intraday di level 9.174.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, pergerakan IHSG mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar di tengah tarik-menarik sentimen domestik dan global.
Dari dalam negeri, kinerja saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan dan basic materials, masih menjadi penopang indeks. Selain itu, ekspektasi stabilnya BI rate di level 4,75% turut menjaga optimisme pasar.
Namun, sentimen positif tersebut tertahan oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.950 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas makro dan potensi aliran keluar dana asing.
IHSG Terus Naik saat Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.000, Ada Apa?
Dari eksternal, pasar juga dibayangi meningkatnya tensi geopolitik global serta isu perang dagang baru antara Amerika Serikat dan Eropa terkait Greenland, yang mendorong sikap risk-off investor global.
Dari sisi teknikal, Hendra menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi naik setelah reli cukup panjang. Struktur tren dinilai masih kuat karena indeks mampu bertahan di atas area support psikologis 9.100–9.125.
“Selama area support tersebut tidak ditembus, peluang penguatan lanjutan masih terbuka,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).
Resistance terdekat IHSG berada di kisaran 9.150–9.175. Jika mampu ditembus dengan dukungan volume yang solid, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan. Meski demikian, beberapa indikator teknikal mulai menunjukkan kondisi jenuh beli ringan, sehingga pergerakan sideways yang sehat dinilai masih wajar dalam jangka pendek.
Untuk perdagangan Rabu (21/1/2026), Hendra memperkirakan, IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan sideways hingga menguat terbatas, seiring pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Stabilitas kebijakan moneter dan pergerakan rupiah akan menjadi faktor kunci penentu arah pasar.
Dari sisi strategi, Hendra menyarankan investor jangka pendek tetap selektif dan fokus pada saham berlikuiditas tinggi dengan katalis yang jelas. Sektor basic materials masih menarik seiring tren kenaikan harga emas dan logam, dengan BRMS dinilai atraktif untuk trading jangka pendek dengan target di area Rp1.500.
Di sektor consumer dan agribisnis, Hendra merekomendasikan saham JPFA bisa dicermati untuk trading buy dengan target Rp3.200, didukung ekspektasi perbaikan margin.
Saham BUVA juga menarik diperhatikan seiring rencana rights issue, meski investor perlu mencermati risiko dilusi, dengan target trading di area Rp2.400. Sementara itu, KPIG dapat menjadi opsi spekulatif jangka pendek dengan target Rp 320 per saham.
IHSG Berpotensi Koreksi Sehat pada Rabu (21/1), Cermati Saham Ini