
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan Senin (25/5/2026), di tengah beragam sentimen global dan domestik yang masih membayangi pergerakan pasar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG naik 0,72% ke level 6.206,35. Penguatan indeks ditopang oleh dominasi aksi beli investor, khususnya pada saham-saham sektor perbankan.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan penguatan IHSG pada awal pekan didorong oleh menguatnya emiten perbankan serta sentimen eksternal yang mulai membaik.
“Hari ini IHSG didorong dengan menguatnya emiten perbankan, di sisi lain juga terdapat kemajuan negosiasi AS-Iran serta investor mencermati efek rebalancing MSCI dan kebijakan ekspor satu pintu,” kata Herditya kepada Kontan, Senin (25/5/2026).
Menurut Herditya, pasar juga mulai merespons perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi menekan ketidakpastian global, khususnya terkait harga energi dan stabilitas geopolitik.
Rebalancing MSCI Picu Outflow, Tekanan IHSG Juga Dipengaruhi Ketidakpastian Kebijakan
Untuk perdagangan Selasa (26/5/2026), ia memproyeksikan IHSG masih berpeluang bergerak menguat secara terbatas, meskipun investor tetap akan mencermati agenda rebalancing indeks MSCI.
“IHSG diperkirakan menguat terbatas dengan support di 6.145 dan resistance di 6.239, di tengah hari perdagangan yang lebih pendek serta fokus investor pada rebalancing MSCI,” tambahnya.
Herditya juga merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati pelaku pasar, yakni ADRO di kisaran Rp2.390–Rp2.550, ELSA di Rp680–Rp700, serta EXCL di Rp2.990–Rp3.220.
Senada dengan itu, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai penguatan IHSG turut didukung sentimen eksternal, terutama penurunan harga minyak mentah dunia.
“IHSG ditutup menguat 0,72% ke 6.206,35 setelah sempat bergerak dua arah. Sentimen positif berasal dari turunnya harga minyak mentah di bawah US$100 per barel, seiring harapan tercapainya kesepakatan AS-Iran,” jelasnya.
Meski demikian, Alrich mengingatkan bahwa pergerakan IHSG masih berpotensi fluktuatif dalam jangka pendek karena pasar masih dibayangi sejumlah faktor eksternal maupun domestik.
“IHSG masih bergerak fluktuatif di tengah bayang-bayang rebalancing MSCI dan implementasi kebijakan pemerintah,” katanya.
Dari sisi sektoral, sektor transportasi menjadi penopang utama penguatan indeks dengan kenaikan tertinggi pada perdagangan hari ini. Sebaliknya, sektor energi justru mengalami tekanan di tengah melemahnya harga komoditas energi global.
BI Rate Naik, SBN Floating Jadi Incaran di Tengah Tren Kenaikan Suku Bunga BI
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah 0,15% ke level Rp17.744 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut turut mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap dinamika global.
Secara teknikal, IHSG sempat menembus level moving average lima hari (MA5), namun kembali ditutup di bawah level tersebut. Sementara itu, indikator stochastic RSI menunjukkan sinyal golden cross di area oversold yang mengindikasikan peluang penguatan lanjutan masih terbuka.
Alrich memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.100 hingga 6.300 pada perdagangan selanjutnya.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan global, pergerakan harga komoditas, serta proses rebalancing indeks global yang masih berpotensi memengaruhi arah pasar saham domestik dalam jangka pendek.