IHSG rentan tertekan pada Senin (9/3), ini sejumlah faktor pemicunya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih rawan tertekan pada perdagangan Senin (9/3) nanti. Tak hanya kelanjutan konflik bersenjata di Timur Tengah, arah IHSG juga ditentukan oleh sejumlah sentimen dalam negeri.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, sentimen utama bagi IHSG masih akan berasal dari perkembangan konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung lebih dari sepekan. Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan memicu tekanan inflasi global.

Selain itu, investor juga mencermati pelemahan rupiah yang mendekati Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah dapat meningkatkan capital outflow dari pasar keuangan domestik, menaikkan biaya impor dan tekanan inflasi, serta menekan sentimen investor asing terhadap pasar saham domestik.

“Dari sisi data ekonomi, pasar juga akan menantikan rilis Consumer Confidence Index Indonesia pada awal pekan yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi konsumsi domestik,” ungkap Reza, Sabtu (7/3/2026).

Pendapatan Suryamas Dutamakmur (SMDM) Turun 44% di 2025, Laba Amblas 82%

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia menambahkan, pasar saham akan dipengaruhi oleh perkembangan tensi geopolitik di Timur Tengah, di mana perang energi berpotensi menghantam ekonomi global. Terlebih lagi, Iran mulai berani menyerang beberapa infrastruktur energi di kawasan Jazirah Arab hingga blokade Selat Hormuz.

Dari dalam negeri, investor global tengah melakukan penyesuaian free float pasca keterbukaan pemegang saham di atas 1%. Pelaku pasar juga tengah menantikan rilis kinerja emiten tahun 2025 yang akan mendorong terjadinya alokasi adjustment.

“Pasar juga tengah menantikan rilis indeks keyakinan konsumen periode Februari 2026 yang diperkirakan masih berada di level optimistis atau di level 128,” kata dia, Minggu (8/3).

Di samping itu, pelaku pasar mencermati risiko peningkatan beban APBN dan kekhawatiran harga energi di dalam negeri, menyusul lonjakan harga minyak mentah dan batu bara di pasar global.

Tak hanya itu, pemangkasan outlook Indonesia menjadi negatif mulai dari Moody’s hingga Fitch Ratings juga masih jadi sorotan bagi para investor global, meski Indonesia masih dalam kategori investment grade.

“Kami berpandangan investor juga akan mengkalkulasi kembali jika tekanan fiskal Indonesia semakin dalam, terlebih hingga Februari 2026 sudah terjadi defisit Rp 135,7 triliun atau 0,53% terhadap PDB yang disebabkan kenaikan belanja pemerintah sekitar 26%,” ungkap Audi.

Audi memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang level support 7.450 dan resistance 7.740 pada Senin (9/3). Secara teknikal, indikator MACD menunjukkan pelemahan tren dan RSI menurun yang memperlihatkan IHSG masuk ke dalam zona oversold.

Laba Bersih Terkoreksi pada 2025, Simak Rekomendasi Saham PGN (PGAS)

Ada beberapa saham yang layak dicermati oleh investor pada esok hari. Di antaranya adalah BREN yang direkomendasikan speculative buy dengan support di level Rp 7.000 per saham dan resistance di level Rp 8.725 per saham, lalu saham AADI direkomendasikan buy on break di level Rp 10.600 per saham dengan support di level Rp 9.725 per saham dan resistance di level Rp 12.000 per saham, serta MEDC direkomendasikan buy on weakness dengan support di level Rp 1.655 per saham dan resistance di level Rp 1.980 per saham.

Di lain pihak, Reza memperkirakan secara teknikal IHSG masih berpotensi bergerak dalam tekanan dengan support di kisaran 7.500–7.570 dan resistance terdekat pada 7.700–7.750 pada Senin (9/3/2026).

Dia juga melihat pola pergerakan IHSG masih menyerupai dead cat bounce, sehingga apabila support psikologis 7.500 kembali ditembus, maka koreksi berpotensi berlanjut lebih dalam.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, investor dapat lebih selektif dan mencermati saham berbasis komoditas yang cenderung lebih defensif, seperti sektor emas, minyak, batu bara, dan crude palm oil (CPO).