Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Minat investor asing ke pasar saham Indonesia terus menguat. Sepanjang 2026 berjalan, investor global mencatatkan beli bersih sebesar Rp 7,3 triliun. Arus dana tersebut ikut mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor tertinggi di level 9.075,406 pada penutupan perdagangan Kamis (15/1/2026).
Dalam sepekan, IHSG menguat 1,55 persen dari posisi 8.936,754, mencerminkan konsistensi penguatan pasar saham di awal tahun. “Perdagangan saham pekan ini ditutup dengan mayoritas indikator berada di zona positif, mencerminkan sentimen pasar yang tetap kuat,” kata Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad, dikutip Jumat (16/1/2026).
Masuknya dana asing terlihat jelas pada perdagangan Kamis, ketika investor luar negeri membukukan beli bersih sebesar Rp 947,45 miliar. Arus modal tersebut menjadi salah satu penopang utama penguatan indeks dan nilai pasar saham domestik.
Penguatan IHSG sejalan dengan meningkatnya nilai seluruh saham yang tercatat di PT Bursa Efek Indonesia. Kapitalisasi pasar bursa kini mencapai Rp 16.512 triliun, naik 1,29 persen dibandingkan pekan sebelumnya sebesar Rp 16.301 triliun.
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan kepercayaan investor yang membaik. Rata-rata nilai transaksi harian selama periode 12–15 Januari 2026 naik 3,87 persen menjadi Rp 32,68 triliun. Meski volume transaksi turun tipis, nilai transaksi tetap tinggi, menandakan transaksi bernilai besar masih mendominasi pasar.
Stabilitas Makro Domestik Angkat IHSG
Tamu undangan berada di dekat layar elektronik pergerakan saham saat acara penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). – (Republika/Prayogi)
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai penguatan berkelanjutan (rally) IHSG ditopang stabilitas makroekonomi domestik, mulai dari inflasi yang terjaga hingga ekspektasi suku bunga yang relatif rendah.
“Arus dana domestik yang kuat dan dominan di IHSG membuat harga saham lebih tahan terhadap guncangan eksternal,” ujar Reydi.
Selain itu, ia menyebut penguatan IHSG juga didukung kinerja emiten-emiten berkapitalisasi besar yang relatif solid, terutama dari sektor perbankan dan saham big cap lainnya. “Valuasi IHSG masih dianggap lebih murah dibandingkan bursa negara maju, sehingga investor menilai IHSG tetap stabil dan tidak mudah tertekan oleh sentimen eksternal,” ujar Reydi.
Dari sisi global, Reydi mengungkapkan sentimen yang masih membayangi pasar antara lain ketidakpastian arah kebijakan moneter negara maju, pergerakan dolar AS, serta eskalasi tensi geopolitik. Namun demikian, dampak sentimen global tersebut diperkirakan terbatas terhadap pasar saham domestik seiring dominasi investor dalam negeri.
“Dampak ke pasar domestik relatif terbatas karena dana investor domestik masih mendominasi IHSG,” kata Reydi.
Terkait sektor penopang penguatan, Reydi menyebut sektor perbankan, energi, serta saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar menjadi motor utama pergerakan indeks. “Sektor yang menopang IHSG adalah perbankan, energi, serta saham-saham konglomerasi berkapitalisasi besar. Ketiganya menopang IHSG,” ujarnya.