IHSG terkoreksi ke 6.905, MSCI rebalancing jadi penentu arah Selasa (12/5)

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan terbebani review rebalancing MSCI.

Hari ini, IHSG ditutup melemah 63,77 poin atau 0,92% ke level 6.905,62 pada akhir perdagangan, Senin (11/5/2026).

Sebanyak 251 saham naik, 442 saham turun dan 125 saham stagnan. Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 41,09 miliar saham, dengan total nilai Rp 20,32 triliun.

Begini Rekomendasi Teknikal Saham ADRO, ANTM, dan KLBF untuk Selasa (12/5)

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, pelemahan datang dari kombinasi sentimen global dan domestik yang masih cukup berat. 

Dari eksternal, pasar dibayangi memanasnya kembali tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah Presiden Donald Trump menolak proposal damai terbaru Iran, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global akan bertahan lebih tinggi lebih lama. 

Kenaikan harga minyak tersebut juga membuat investor cenderung melakukan profit taking di saham-saham energi setelah sebelumnya sempat reli cukup tinggi. 

Di sisi domestik, pelemahan rupiah ke area Rp 17.400 per dolar AS, penantian hasil review MSCI yang diumumkan 12 Mei, hingga polemik kebijakan tarif royalti mineral turut membuat investor memilih lebih defensif. 

“Alhasil, saham perbankan besar menjadi penekan utama IHSG, terutama BMRI, BBCA, dan BBRI, di tengah aksi net sell asing yang tercatat mencapai Rp659 miliar,” ujarnya kepada Kontan, Senin (11/5).

Hendra melihat, pergerakan sektor juga menunjukkan pasar masih berada dalam fase wait and see. Sektor energi menjadi sektor dengan pelemahan terdalam seiring koreksi saham ADRO dan ITMG, sementara sektor keuangan ikut terbebani aksi jual pada saham perbankan besar (big banks). 

Kapasitas Naik 2,5 Kali, Prospek Pertamina Geothermal (PGEO) Masih Cerah di 2026

Di sisi lain, sektor infrastruktur justru menjadi penopang pasar setelah menguat 1,52%, menandakan mulai adanya rotasi dana ke saham-saham yang lebih defensif dan memiliki katalis domestik. 

 

Menariknya, beberapa saham komoditas logam, seperti ANTM, TINS, dan MDKA masih mampu bertahan di zona hijau seiring harga nikel dan tembaga dunia yang tetap menguat. 

“Hal ini menunjukkan pelaku pasar masih selektif mencari saham yang memiliki dukungan sentimen harga komoditas global,” katanya.

Untuk perdagangan Selasa (12/5) esok, IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi melemah di kisaran support 6.865–6.890 dan resistance 6.920–6.945. 

Secara teknikal, posisi IHSG masih cukup rentan, karena belum mampu kembali menembus area 7.000 secara meyakinkan. 

“Selama IHSG masih berada di bawah area resistance 6.945–7.000, maka tekanan jangka pendek masih berpotensi berlanjut,” ungkapnya.

Namun apabila sentimen global mulai mereda dan hasil review MSCI tidak memberikan kejutan negatif tambahan, maka IHSG berpeluang rebound teknikal terbatas. 

Fokus pasar besok diperkirakan tetap tertuju pada hasil MSCI Review, perkembangan geopolitik Timur Tengah, pergerakan harga minyak dunia, serta arah pergerakan rupiah dan foreign flow. 

“Jika rupiah mulai stabil dan tekanan jual asing berkurang, peluang technical rebound akan semakin terbuka,” ungkapnya.

Kinerja Timah (TINS) Bisa Terpapar Jika Tarif Royalti Naik, Simak Rekomendasinya

Untuk strategi perdagangan jangka pendek, investor dapat mulai mencermati saham-saham berbasis defensif dan komoditas yang masih menunjukkan kekuatan relatif dibanding IHSG. 

Hendra merekomendasikan trading buy untuk PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dengan target harga masing-masing Rp 1.625 per saham dan Rp 1.600 per saham.

Selain itu, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) direkomendasikan speculative buy dengan target harga Rp 2.970 per saham.

“Investor tetap disarankan menjaga disiplin trading dan membatasi posisi secara bertahap mengingat volatilitas pasar global masih cukup tinggi dalam jangka pendek,” paparnya.