IHSG volatil, diversifikasi reksa dana dinilai krusial

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih fluktuatif dalam jangka pendek mendorong perlunya penyesuaian strategi investasi reksa dana. Volatilitas pasar saat ini dipengaruhi sejumlah faktor seperti perkembangan akhir Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang hasil akhir diumumkan pada Mei 2025, arah arus modal asing, serta dinamika sentimen eksternal.

Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas Francisca Gerungan menilai kondisi volatil justru menegaskan pentingnya disiplin dalam menerapkan strategi diversifikasi. Menurut dia, investor perlu menghindari euforia jangka pendek di tengah pergerakan pasar yang cepat dan cenderung spekulatif.

“Dalam situasi pasar yang bergerak cepat dan cenderung spekulatif, investor sebaiknya tidak terjebak pada euforia jangka pendek. Diversifikasi menjadi strategi yang semakin krusial untuk menjaga stabilitas portofolio,” ujarnya, dikutip Senin (16/2/2026).

: Profil Emiten MINA dan PADI yang Terseret Pengusutan Goreng Saham Bareskrim, Dominan Milik Hapsoro

Francisca menjelaskan, reksa dana dapat menjadi instrumen efektif, khususnya bagi investor baru yang belum memiliki kapasitas untuk melakukan seleksi saham secara mendalam. Reksa dana dinilai mampu memberikan diversifikasi otomatis, baik dari sisi sektor maupun jenis aset, serta dikelola secara konsisten oleh manajer investasi profesional.

Di tengah volatilitas, pendekatan yang terukur dan berbasis profil risiko dinilai lebih relevan dibandingkan mengejar momentum sesaat. Untuk strategi yang lebih defensif, investor dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap. Adapun untuk menangkap potensi kenaikan pasar saham secara bertahap, reksa dana campuran memberikan fleksibilitas bagi manajer investasi dalam menyesuaikan komposisi saham dan obligasi secara dinamis sesuai perkembangan kondisi pasar.

: : Kajian Tambang Emas Martabe Rampung, Nasib Aset UNTR di Tangan Presiden

Menurut Francisca, diversifikasi bukan bertujuan menghilangkan risiko, melainkan mengelolanya agar tetap sejalan dengan tujuan investasi. Ia mencontohkan, investor dapat mengatur alokasi yang lebih seimbang, misalnya dengan porsi dominan pada reksa dana dan sebagian kecil pada saham langsung, sesuai dengan profil risiko masing-masing. Pasar yang fluktuatif juga dinilai bukan alasan untuk keluar sepenuhnya, melainkan momentum menyusun portofolio yang lebih rasional dengan fokus pada konsistensi dan disiplin.

Dari sisi basis investor, komposisi investor reksa dana di Mirae Asset Sekuritas hingga Januari 2026 masih didominasi nasabah ritel sebesar 99%, dengan pertumbuhan jumlah nasabah ritel mencapai 15% secara tahunan.

: : Kabar Terang Pemilik Saham Tambang BUMI, Anthoni Salim dan Adik Bungsu Bakrie jadi Pengendali Akhir

Pandangan serupa disampaikan Head of Investment Specialist & Product Development Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana. Ia menilai minat terhadap reksa dana pendapatan tetap masih terjaga dan menjadi salah satu pilihan utama investor Indonesia karena menawarkan imbal hasil relatif stabil sekaligus berfungsi sebagai diversifikasi portofolio. Kondisi tersebut didukung fundamental makroekonomi Indonesia yang dinilai solid serta tidak adanya penurunan peringkat sovereign.

Di sisi lain, tingkat reinvestment pada reksa dana pendapatan tetap tahun ini cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, seiring penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia sekitar 100 basis point sepanjang 2025 dan berpotensi berlanjut pada 2026. Meski demikian, penurunan suku bunga tersebut membuka peluang kenaikan harga obligasi (capital gain) yang dapat menjadi katalis positif bagi kinerja reksa dana pendapatan tetap ke depan.

Lolita menambahkan, kurva imbal hasil saat ini relatif lebih steepen dibandingkan akhir 2024 maupun Semester I/2025. Kondisi itu mendorong pihaknya secara bertahap meningkatkan durasi produk reksa dana berbasis pendapatan tetap.