
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Indeks Bisnis-27 ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Rabu (3/6/2026). Pelemahan tersebut terjadi seiring dengan kinerja lesu IHSG yang ambles 4,11% hingga perdagangan sore hari.
Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia ditutup melemah 4,33% ke level 409,07. Dari 27 konstituen, sebanyak 1 saham masih menguat dan 26 saham melemah.
Penguatan harga saham dalam indeks ini hanya dialami oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang naik 0,67% ke Rp1.495 per saham.
Sebaliknya, pelemahan harga saham dialami antara lain oleh PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) yang terkoreksi 11,98% ke Rp294, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang melemah 11,82% ke Rp2.610, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) melemah 8,67% ke Rp4.320, dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang terkoreksi 8,07% ke Rp148.
: IHSG Ditutup Ambrol 4,11% ke 5.941 Usai Moody’s Beri Outlook Negatif untuk Danantara Investment
Koreksi serupa dialami oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang turun 7,76% ke Rp535, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) melemah 7,74% ke Rp7.150, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) turun 6,33% ke Rp444, dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) turun 5,86% ke Rp1.205.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan, sebelumnya menilai perhatian investor pada Juni 2026 akan beralih dari dampak rebalancing MSCI menuju kemampuan otoritas dalam menjaga stabilitas rupiah dan memulihkan kepercayaan investor asing.
Meskipun Bank Indonesia (BI) sudah menaikkan suku bunga mnejadi 5,25% untuk meredam tekanan eksternal, pasar dinilai masih mencermati apakah kebijakan tersebut efektif untuk menahan volatilitas rupiah dan mengurangi tekanan arus keluar modal.
”Jika rupiah mampu menunjukkan stabilitas dalam beberapa pekan ke depan, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka ruang bagi kembalinya aliran dana asing ke pasar saham maupun obligasi domestik,” katanya dalam riset, Selasa (2/6/2026).
Selain sentimen domestik, arah kebijakan moneter The Fed juga dinilai menjadi perhatian utama pelaku pasar. FOMC pada pertengahan Juni ini dinilai berpotensi menjadi katalis terbesar sepanjang bulan ini.
Pasalnya, investor akan menunggu sinyal terbaru mengenai arah suku bunga dan prospek inflasi AS. Menurutnya, Sikap hawkish The Fed berpotensi mempertahankan kekuatan dolar AS dan membatasi arus modal menuju pasar negara berkembang.
”Sebaliknya, apabila terdapat indikasi bahwa tekanan inflasi mulai mereda dan peluang penurunan suku bunga semakin terbuka pada paruh kedua tahun ini, aset-aset berisiko termasuk pasar saham Indonesia dapat memperoleh sentimen positif,” katanya.
Sementara itu, dalam riset yang bertajuk Equity Strategy: Repricing the Risk; Potential Tactical Reliefs to Emerge, analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menegaskan bahwa penurunan IHSG yang terjadi sepanjang tahun berjalan 2026 mencerminkan meningkatnya premi risiko Indonesia.
Artinya, kondisi ini bukan sekadar aksi jual yang terjadi secara luas dan bersamaan di pasar negara berkembang/emerging market (EM).
Sedikitnya, terdapat empat faktor yang dinilai menurunkan minat investor terhadap pasar saham RI, antara lain risiko fiskal dari memanasnya harga minyak lantaran penutupan Selat Hormuz, menurunnya prediktabilitas kebijakan, outlook negatif terhadap peringkat utang RI, hingga rebalancing MSCI yang menghapus sejumlah saham dalam negeri.
Selain itu, terdapat risiko jangka pendek berupa revisi outlook oleh S&P pada Juli mendatang, yang dinilai telah tecermin dalam harga pasar. Belum lagi, MSCI Market Accessibilty review pada Juni mendatang dinilai turut membayangi langkah IHSG ke depan.
”Kami merevisi target IHSG Desember 2026 menjadi 7.200 dari sebelumnya 9.440. Penurunan target ini mencerminkan dihapuskannya premi aliran dana saham konglomerat sebesar 40% yang sebelumnya mempengaruhi target lama,” kata para analis dalam risetnya, Selasa (2/6/2026).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.