Indeks ESG berpeluang rebound pada 2026, ini saham pilihan analis

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja indeks berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) diproyeksikan membaik pada 2026 setelah mencatat pertumbuhan terbatas sekitar 2% hingga 2,6% sepanjang 2025. Sejumlah analis menilai potensi rebound terbuka seiring rotasi sektor serta dukungan kebijakan keberlanjutan yang makin kuat.

Head of Research Kisi Sekuritas Muhammad Wafi menilai indeks ESG seperti IDX ESG Leaders, SRI-KEHATI, dan ESG Sector Leaders berpeluang mencatatkan kinerja lebih baik tahun depan.

“Indeks ESG berpotensi outperform pada 2026, didorong rotasi dari sektor komoditas energi kembali ke sektor perbankan dan teknologi yang memiliki bobot dominan di indeks ESG,” ujar Wafi kepada Kontan, Senin (26/1/2026).

Ia menyebut tren penurunan suku bunga global serta penerapan taksonomi hijau dan standar pelaporan keberlanjutan menjadi katalis utama penguatan indeks ESG ke depan. Selain itu, saham-saham berbasis ESG dinilai berpeluang kembali menarik minat dana asing.

Diversifikasi ke Sektor Properti, Samindo Resources (MYOH) Dirikan Perusahaan Baru

“Emiten ESG umumnya memiliki standar governance yang ketat, sehingga berpotensi menjadi tujuan inflow global funds,” tambahnya.

Dari sisi saham penopang, Wafi menilai emiten perbankan besar masih akan menjadi motor utama pergerakan indeks ESG, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), ditambah saham energi terbarukan seperti PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

Ia merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham-saham tersebut serta fokus pada 10 saham teratas di indeks SRI-KEHATI yang memiliki likuiditas tinggi dan return on equity (ROE) solid.

Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan memproyeksikan prospek indeks ESG pada 2026 akan cenderung membaik seiring meningkatnya fokus emiten terhadap tata kelola perusahaan dan keberlanjutan.

“Meski pertumbuhannya kemungkinan masih moderat, kinerja indeks ESG berpeluang lebih stabil dibanding indeks umum karena ditopang saham-saham berfundamental kuat,” jelas David.

Menurutnya, katalis penguatan indeks ESG akan datang dari komitmen pemerintah terhadap transisi energi, peningkatan standar pelaporan ESG emiten, serta masuknya proyek hijau dan pendanaan berkelanjutan yang memperbaiki persepsi investor.

David juga melihat tren investasi hijau global masih berpotensi mendorong inflow asing ke pasar saham ESG Indonesia, terutama jika stabilitas makro tetap terjaga dan regulasi pembiayaan berkelanjutan terus diperkuat.

“Indonesia tetap menarik karena memiliki eksposur besar terhadap transisi energi dan pengembangan green economy,” imbuhnya.

Untuk saham penopang utama, David menyoroti sektor perbankan besar, energi terbarukan, telekomunikasi, serta emiten consumer berbasis keberlanjutan. Beberapa saham yang dinilainya prospektif antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), serta sejumlah emiten energi dan infrastruktur hijau.

Adapun dari sisi strategi, investor disarankan lebih selektif dengan fokus pada saham ESG yang memiliki likuiditas tinggi, laporan keberlanjutan kredibel, serta kinerja keuangan solid.

“Pendekatan jangka menengah hingga panjang lebih relevan, sambil memanfaatkan koreksi pasar untuk akumulasi bertahap,” pungkas David.

MPX Logistics (MPXL) Kantongi Kontrak PSN PLTA Cisokan dari PLN