
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Sepekan yang lalu pasar saham Indonesia menorehkan net sell asing Rp3,25 triliun dan menjadi net sell pertama secara mingguan pada 2026. Derasnya aliran keluar dana investor asing diramal berlanjut dalam jangka pendek.
Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai dalam jangka pendek arus dana asing ke pasar saham masih akan cenderung fluktuatif. Net sell pekan lalu menunjukkan saat ini asing sedang mengurangi risiko.
Ekky menganalisa, pemicu utamanya adalah kombinasi faktor rupiah yang masih lemah, serta faktor teknikal seperti rebalancing MSCI di tanggal 30 yang biasanya memicu penyesuaian portofolio dan outflow sementara.
“Karena itu, dalam waktu dekat saya melihat asing masih akan cenderung wait and see sampai ada sentimen baru atau stabilitas rupiah mulai terlihat lebih konsisten,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (26/1/2026).
Ekky menilai sentimen positif yang mendorong asing masuk adalah momentum IHSG yang sedang bullish cukup kuat, ditambah valuasi emiten bluechip yang relatif rendah bisa menjadi daya tarik bagi asing untuk kembali masuk ketika tekanan rupiah mereda.
: IHSG Ditutup Menguat: Saham ANTM, BRMS hingga MDKA ke Zona Hijau
Berikutnya, fundamental makro Indonesia dinilai masih relatif solid, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9%–5,7% yang menunjukkan daya tahan ekonomi domestik.
“Namun, memang untuk pergerakan jangka pendek sentimen negatif seperti geopolitik global dan risk-off di pasar global biasanya lebih cepat mempengaruhi dibanding faktor fundamental,” jelasnya.
Dengan analisa itu, Ekky menilai dalam jangka pendek aliran investasi asing mungkin masih tertahan, tetapi untuk jangka menengah peluang inflow tetap ada, apalagi jika suku bunga domestik ke depan cenderung turun dan aliran dana global mulai bergeser ke emerging market di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Kala perdagangan di akhir pekan lalu, Jumat (23/1) menjadi satu-satunya hari perdagangan di mana terdapat net buy asing, saham-saham seperti BBCA, GOTO, BUMI, ICBP sampai BBNI menjadi saham dengan net sell asing terbesar.
: Harga Emas Tembus Level US$5.000, Pasar Dihantui Kebijakan Trump
Dalam situasi saat ini, Ekky menilai saham yang paling berisiko dilego asing umumnya adalah saham big caps yang likuid dan kepemilikan asingnya besar karena paling mudah dijual saat asing melakukan de-risking.
“Jadi wajar jika BBCA, BBNI, ICBP, dan saham besar lainnya menjadi sasaran net sell. Sebaliknya, saham yang relatif lebih ‘tahan’ saat rupiah lemah biasanya emiten berbasis ekspor/komoditas karena pendapatan dolarnya lebih kuat,” ujarnya.
Untuk rekomendasi saham jangka pendek, Ekky menyarankan investor bisa lebih selektif dan fokus pada sektor yang diuntungkan oleh kondisi rupiah lemah dan sentimen global seperti emiten komoditas. Sementara untuk bluechip perbankan dan konsumer defensif, pendekatannya lebih cocok akumulasi bertahap sambil menunggu stabilisasi rupiah dan meredanya tekanan outflow asing.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.