
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) ambles lebih dari 3% pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026). Kinerja lesu ini kembali berlanjut selepas penyedia indeks global MSCI Inc. mengeluarkan total 18 saham RI dari indeks ternama mereka.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi, menerangkan pada periode perdagangan 18—22 Mei 2026, fokus pasar masih akan tertuju pada implementasi rebalancing MSCI menjelang efektif diberlakukan pada 29 Mei 2026.
Pada pekan lalu, saat MSCI Inc. mengeluarkan pengumumannya terhadap rebalancing saham RI, IHSG ditutup melemah ke level 6.723,32. Imam menilai, investor global telah melakukan reposisi portofolio selepas menghadapi perubahan besar pada konstituen MSCI.
Artinya, investor asing telah mulai melakukan penyesuaian posisi lebih awal sebelum tanggal 29 Mei 2026, sehingga gelombang passive outflow yang cukup agresif terjadi di pasar modal RI.
”Keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, hingga CUAN dari Global Standard Index menjadi katalis utama meningkatnya tekanan jual di pasar domestik,” katanya dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).
Kondisi ini diperparah oleh aksi risk-off investor global lantaran ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang kembali mundur setelah AS merilis data inflasi yang masih bertahan di level yang tinggi. Sebagian pelaku pasar bahkan dinilai mengekspektasikan kenaikan suku bunga pada akhir tahun.
Belum lagi, ketegangan yang tidak kunjung mereda sepenuhnya di Iran, masih mendorong harga minyak melonjak tajam di atas level US$105 per barel.
”Kombinasi dolar yang kuat, harga minyak yang tinggi, dan arus keluar asing akhirnya menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar domestik,” katanya.
Sementara itu, Tim Riset Kiwoom Sekuritas, menerangkan hasil rebalancing MSCI pada Mei 2026, memang tampak negatif bagi pasar RI. Hanya saja, tekanan jual dinilai tidak tersebar merata dan justru terkonsentrasi pada saham-saham tertentu.
Kiwoom menyebut saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menjadi pusat tekanan terbesar dalam rebalancing MSCI kali ini.
“Hasil rebalancing MSCI Mei 2026 memang terlihat negatif bagi Indonesia. Namun, jika dicermati lebih dalam, tekanan jual sebenarnya tidak tersebar merata dan sangat terkonsentrasi pada beberapa saham tertentu,” tulis Tim Riset Kiwoom Sekuritas, dikutip Senin (18/5/2026).
Kiwoom menilai aksi jual asing year-to-date (YtD) senilai Rp49 triliun belum tentu sepenuhnya mencerminkan efek MSCI. Sebab, sebagian tekanan kemungkinan telah terjadi lebih awal karena investor global mulai melakukan positioning sebelum tanggal efektif implementasi pada 29 Mei 2026.
Selain faktor MSCI, Kiwoom menilai pasar juga masih dibayangi sentimen eksternal seperti pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar AS, konflik Iran, tingginya imbal hasil US Treasury, hingga ketidakpastian global.
Di tengah kondisi tersebut, Kiwoom menilai terdapat sejumlah katalis lain yang kurang diperhatikan pasar. Salah satunya, status Indonesia sebagai Emerging Market tetap aman dan tidak turun menjadi Frontier Market.
”Kiwoom Research melihat pasar saat ini mungkin terlalu fokus pada headline ’18 saham keluar’ tanpa menyadari sebagian besar tekanan sebenarnya sudah berlangsung bertahap dalam beberapa bulan terakhir,” katanya.
Adapun, IHSG dibuka di zona merah sesaat perdagangan dibuka pada awal pekan ini, Senin (18/5/2026), usai libur panjang.
Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG terpantau anjlok 3,14% ke level 6.512,28 pada pukul 09.32 WIB. Adapun, IHSG bergerak di rentang 6.509,88-6.631,28 pada awal perdagangan.
Sebanyak 96 saham menguat, 572 saham melemah, dan 69 saham diperdagangkan stagnan. Kapitalisasi pasar di BEI tercatat Rp11.427,62 triliun.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.