
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Risiko penurunan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market dinilai masih terbatas. Ini berkacara dari studi kasus negara lain yang memerlukan proses jangka panjang.
Pada 2015, MSCI menurunkan status Peru ke Frontier Market karena hanya tiga emiten yang memenuhi kriteria indeks Emerging Market serta likuiditas pasar yang rendah, tetapi dampaknya terbesar karena jumlah saham MSCI Peru sangat kecil.
Sementara itu, Pakistan diturunkan statusnya akibat penerapan aturan harga minimum alias floor price rule selama krisis keuangan global 2008, yang menghambat aktivitas perdagangan.
IHSG Berpeluang Uji Level 8.200 pada Kamis (5/2), Ini Rekomendasi Analis
Terbaru, MSCI memangkas status pasar saham Pakistan dari Emerging Market menjadi frontier pada September 2021. Ini didorong oleh pasar saham Pakistan yang tidak memenuhi standar minimum dan likuiditas sebagai Emerging Market.
Imbasnya, pasar saham Pakistan mengalami penurunan hingga 13% dalam satu bulan. Padahal, MSCI baru menaikkan status pasar saham Pakistan menjadi Emerging Market pada 2017.
Investment Strategist DBS Bank Joanne Goh mencermati penurunan status pasar umumnya terjadi ketika suatu negara gagal memenuhi kriteria ukuran, likuiditas, atau aksesibilitas bagi investor asing.
“Penyesuaian klasifikasi pasar biasanya lebih bersifat teknis pasar saham, bukan didorong kondisi ekonomi,” tulis Joanne dalam riset DBS yang dirilis Jumat (30/1).
Joanne bilang penyedia indeks global juga dapat mengambil sejumlah langkah mitigasi, mulai dari mengeluarkan saham tertentu, memperbarui data free float, hingga menerapkan faktor likuiditas untuk seluruh pasar.
Sebagai ilustrasi, penyedia indeks pernah menerapkan faktor likuiditas pada saham China A saat pertama kali dimasukkan ke dalam indeks Emerging Asia, Asia ex-Japan, dan Emerging Markets.
“Kami menilai kemungkinan Indonesia dikeluarkan dari status emerging market relatif kecil. Pandangan fundamental kami terhadap Indonesia tetap positif, terutama untuk saham berkapitalisasi besar,” jelas Joanne.
Saham Big Banks Kompak Menguat, BMRI Pimpin Kenaikan hingga Penutupan Rabu (4/2)
Dalam skenario terburuk jika direklasifikasi menjadi frontier market, Joanne menilai Indonesia tetap akan menjadi pasar terbesar, dengan ukuran sekitar setengah dari total seluruh pasar frontier market.
Bank terbesar Indonesia bahkan termasuk dalam 10 bank terbesar di Asia di luar Jepang berdasarkan kapitalisasi pasar. Yakni, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang kapitalisasi pasarnya mencapai Rp 951 triliun per Rabu (4/2).
Equity Research Analyst Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan memperkirakan dalam skenario terburuk ada potensi arus keluar bersih sekitar US$ 10 miliar–US$ 11 miliar dari pasar saham Indonesia.
“Arus keluar ini terutama berasal dari 18 emiten yang saat ini menjadi konstituen MSCI Standard Cap Index,” jelasnya.
Ryan dan Reggie menilai saham dengan tingkat kepemilikan asing tinggi juga berpotensi menghadapi tekanan jual lanjutan. Mengingat sejumlah reksa dana dan perusahaan asuransi asing hanya memiliki mandat investasi pada indeks emerging market.
“Berdasarkan studi kasus historis, potensi penurunan status Indonesia ke Frontier Market masih memerlukan proses panjang dan tidak bersifat otomatis,” ucap dia.